Segelincir Pengusaha Raup Untung - Dibalik Melemahnya Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) beberapa minggu yang lalu terus mengalami pelemahan, dengan terus menguat dolar AS menuju Rp 11.000, pemerintah dan pelaku usaha khususnya importir tertekan dengan kondisi ini. Namun ada pihak yang mendapat berkah dari pelemahan rupiah ini.

Chief Economist & Director for Investor Relation PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, masyarakat di Indonesia Timur yang aktif mengekspor berbagai komoditas seperti karet, sawit (CPO), serta batubara, mendapatkan berkah dari penguatan dolar AS ini.

Menurut Budi, masyarakat timur Indonesia senang dengan melemahnya rupiah. Karena bila dolar menguat, justru nilai ekspor semakin tinggi yang artinya bisa memperbaiki lemahnya ekspor di Indonesia. ”Indonesia Timur lebih suka rupiah melemah. Indonesia Timur menganggap ini bukan krisis moneter, tapi berkah moneter. Bisa jual karet, CPO, batubara dengan nilai ekspor lebih tinggi,” tuturnya.

Dia menyebutkan, masyarakat di Indonesia Timur menyebut pelemahan rupiah sebagai obat yang mampu memberikan kemakmuran bagi wilayahnya. “Pelemahan rupiah itu obat bagi mereka, coba bagi mereka, coba bayangin kalau rupiah sampai Rp 15 ribu, siapa yang untung? Ya mereka itu,” kata dia lagi.

Budi menjelaskan, sebenarnya pelemahan ekonomi di Indonesia sudah terjadi sejak lama sebelum pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi.

“Inflasi sudah terasa di Palembang sebelum BBM dinaikan, ekonomi sudah melemah. Dalam 10 tahun terakhir rata-rata kenaikan inflasi 7,2%. Target kita inflasi akan mencapai puncaknya di angka 9,2,” paparnya.

Kita harapkan kondisi ini akan segera stabil lagi, jika terus seperti kondisi pasar di Indonesia akan terganggu dan para investor akan pergi, ini sangat merugikan terutama untuk pembangunan di Indonesia, tuturnya.

Menurutnya pelemahan rupiah ini ada beberapa sektor yang tidak berpengaruh tetapi secara global kondisi ini sangat menggangu bagi pelaku dunia usaha, jangan sanpai kondisi ini berangsur lama

BERITA TERKAIT

Fajar Surya Raup Penjualan Rp 7,33 Triliun - Ditopang Pasar Ekspor

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2017 kemarin, emiten produsen kertas PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) membukukan kenaikan penjualan sebesar…

Rupiah Melemah 0,24% Masih Dianggap Wajar

      NERACA   Jakarta - Tingkat pelemahan nilai tukar rupiah saat ini yang sebesar -0,24 persen (year to…

Perusahaan Belum Untung Juga Bisa IPO - Sikapi Keluhan Go-Jek

NERACA Jakarta –Keluhan CEO Go-Jek terkait hambatan untuk melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) karena aturan…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…

Pemerintah Permudah Bank Ekspansi di Asean

Pemerintah berupaya mempermudah kesempatan perbankan nasional untuk melakukan ekspansi di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Malaysia dengan mendorong ratifikasi protokol…