Pemerintah Serukan BUMN Buy Back Saham

Jurus Selamatkan Pasar

Kamis, 22/08/2013

NERACA

Jakarta – Pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengalami pelemahan yang cukup dalam seiring derasnya dana asing yang keluar. Kondisi ini jelas memicu kepanikan pelaku pasar, lantaran banyaknya emiten yang terkoreksi hingga nyaris capai 300 emiten dan termasuk saham-saham BUMN.

Merespon kondisi tersebut dan mencegah kondisi lebih buruk, pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menginsutruksikan agar segera melalukan buyback saham, “Ada beberapa BUMN yang akan lakukan buyback, seperti PT Bukit Asam Tbk dan PT Semen Indonesia Tbk. Namun, tergantung mereka," kata Sekretaris Kementerian BUMN Imam A. Putro di Jakarta, Rabu (21/8).

Disebutkan, kedua perusahaan itu sudah mengusulkan rencana dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Namun, waktu pelaksanaannya tergantung dari kondisi pasar dan dana. Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro meminta BUMN untuk tanggap (aware) terhadap peluang apabila melakukan buyback saham., “Kalaupun buyback harus dalam posisi yang bagus dan mendapatkan keuntungan dari langkah tersebut,”ujar Bambang.

Sementara itu, Direktur Keuangan Antam Djaya Tambunan mengakui, pihaknya belum berencana melakukan buyback saham sebab kondisi indeks saat ini hanya bersifat fluktuatuf semata, “Kita terus terang belum ada rencana untuk buyback saham karena repot harus RUPS. Tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana ke depannya. Namun, apabila diminta oleh stakeholders untuk buyback, ya kita akan kaji," papar Djaya.

Pengamat bursa Alfred Nainggolan pernah bilang, ditengah terkoreksinya indeks BEI, investor lokal diharapkan berani melakukan pembelian saham dan sedangkan BUMN segera melakukan buy back. Berbeda dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang justru belum berniat melakukan buyback saham.

Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengatakan, perseroan belum berniat untuk melakukan buyback sahamnya, meski saat ini harga saham telah terdiskon signifikan seiring merosotnya kinerja IHSG beberapa hari terakhir, “Kita belum ada rencana buyback,”tandasnya.

Menurutnya, Telkom punya strategi sendiri untuk melakukan buyback saham. Paling tidak, ujarnya, ketika pihaknya melakukan buyback, harga saham Telkom berada di bawah Rp10.000.“Sekarang harga saham kita masih di atas Rp10.000. Saya punya angka psikologis. Paling tidak kalau sudah di bawah Rp10.000 direktur keuangan harus saya panggil itu. Kemarin kita turun 6%, tapi tidak bisa lakukan apa-apa karena ini pengaruh global, ada juga isu capital outflow, dan juga posisi dolar,” ungkap dia.

Sementara terkait stock split, Arief juga mengaku belum akan melakukan corporate action dalam waktu dekat. Karena aksi tersebut paling potensial dilakukan ketika kondisi market sedang dalam bullish.“Kita akan ikuti arus. Ketika timingnya tidak tepat maka tidak akan bagus, dan tidak direspon oleh market. Tapi bukan berarti ditunda. Kalau toh terjadi bearish kita juga tidak akan menunggu bulish sampaikembali ke angka IHSG 4.800 (sekarang sudah 4.200 kurang). Kalau pergerakannya sudah ke arah positif maka pasti kita lakukan, kan sudah disetujui tinggal eksekusi, tunggu timing. Yang lebih penting bukan angkanya tapi tren naik,” jelasnya.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Samsul Hidayat menegaskan, penurunan IHSG saat ini dinilai wajar seiring masih kuatnya penawaran dan permintaan transaksi di pasar modal, “Monitoring terus dilakukan untuk perkembangan pasar saham. Regulator pasar hanya memastikan pasar terselenggara sesuai dengan aturan. Penurunan IHSG saat ini masih wajar, masih ada kekuatan 'supply and demand' di pasar saham,"jelasnya.

Dia menambahkan pihak Bursa saat ini terus melakukan monitoring di perdagangan saham, dan menjalankan sesuai dengan "Standar Operating Procedure" (SOP) yang dimiliki otoritas pasar modal. (bani)