Muluskan IPO, Bank DKI Dapat Modal Rp 1 Triliun

Dalam rangka meningkatkan modal dan memuluskan aksi korporasi penawaran saham perdana atau initial public offering PT Bank DKI, pemerintah daerah DKI Jakarta bakal menyuntikkan modal atau penyertaan modal pemerintah sebesar Rp 1 triliun, “Karena Bank DKI kan mau go public. Kita musti suntik Rp1 triliun lebih ke Bank DKI. Karena dia kekurangan modal,\" kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama di Jakarta, Rabu (21/8).

Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk membuat perusahaan BUMD pelat merah ini dapat go public dan bersaing dengan bank lainnya. Kekurangan modal untuk dana cadangan, menjadi penyebab Bank DKI hingga saat ini belum dapat memenuhi standar sesuai dengan aturan Bank Indonesia (BI).

Disebutkan, persyaratan Bank Indonesia, Bank BPD seperti DKI harus ada dana cadangan dan dana cadangan yang ada sekarang di Bank DKI tercatat defisit dan tidak memenuhi standar BI.

Persyaratan BI tersebut menjadi alasan pemprov DKI Jakarta untuk memberikan dana tambahan untuk ekpansi ke luar, “Kalau anda tidak memenuhi standar BI, anda tidak diberi izin go public. Tidak mungkin ekspansi. Kalau tidak ekspansi kan susah mau go public. Itu alasannya,”ujar dia.

Sebagai informasi, Bank DKI mencatatkan perolehan laba sebelum pajak mencapai Rp413 miliar sepanjang semester satu 2013. Nilai tersebut tumbuh 63,93% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp252 miliar.

Direktur Utama Bank DKI, Eko Budiwiyono pernah bilang, kinerja laba tersebut berkat dukungan kucuran kredit yang meningkat 28,71 persen dari Rp12,8 triliun pada Juni tahun lalu, menjadi Rp16,5 triliun pada Juni 2013, “Kami menargetkan untuk total kredit meningkat sebesar 42,73 persen (yoy) menjadi sebesar Rp21,4 triliun pada tahun 2013,”kata dia.

Dia juga mengatakan, dari sisi dana pihak ketiga (DPK), tercatat mengalami pertumbuhan 9,91% dalam setahunan dari Rp20,3 triliun menjadi Rp22,4 triliun pada semester satu 2013. Sementara total aset tercatat tumbuh 13,6% menjadi Rp28,7 triliun. Sedangkan rasio kecukupan modal (CAR) 14,4% marjin bunga bersih (NIM) 5,88%, rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) 74,41%, beban operasional terhadap pendapatan operasional 71,15%, kredit bermasalah (NPL) gross 3,07%, return on asset 3,2% dan return on equity 32,18%. (bani)

BERITA TERKAIT

Perusahaan Bisa Manfaatkan Pasar Modal - Danai Ekspansi Bisnis

NERACA Jakarta - Besarnya likuiditas di pasar modal, tentunya bisa dimanfaatkan para pelaku bisnis untuk mendanai ekspansi bisnisnya jangka panjang…

Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan 5,3% di 2018

    NERACA   Jakarta - Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 sebesar 5,3 persen, lebih tinggi dari…

BCA Salurkan Kredit Rp2 Triliun ke Pegadaian

  NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyadari pentingnya pelayanan gadai untuk masyarakat di Indonesia, terutama…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…