Analis : Jangan Harapkan Dana IPO Tinggi

NERACA

Jakarta – Perusahaan yang ingin dapatkan dana melalui proses penawaran umum saham (initial public offering/IPO) sebaiknya menunda dulu rencananya di tengah maraknya aksi jual saham yang dilakukan investor. Jika sudah terlanjur melakukan proses IPO, disarankan untuk siap-siap menerima dana IPO yang akan diraih lebih rendah dari target.

Menurut Head of Equities & Research Bahana Securities Harry Su mengatakan, jika melihat dari data tersebut dan dengan kondisi IHSG yang belum juga menunjukan titik aman, fund rising akan terganggu termasuk IPO pada paruh tahun ini, “IPO pada semester kedua tahun ini bisa batal dan jika memang tetap dipaksakan akan berkurang dana yang ingi dicapai atau untuk amannya mengurangi jumlah saham yang akan dilepas,”ujarnya di Jakarta, Rabu (21/8)

Pada tahun 2012 lalu, return yang bisa didapat dari hasil IPO mencapai 94,8% namun hingga semester pertama 2013 ini, return yang diraih dari hasil IPO hanya mencapai 4,8%. Disamping itu, dana IPO yang terkumpul mencapai Rp10 triliun dan pada right issue terdapat 17 perusahaan dengan nilai mencapai Rp22 triliun.

Sedangkan pada semester pertama 2013, IPO, right issue, dan bond bisa berdampak pada volatilitas market. Dia menjelaskan, perusahaan yang berencana melakukan IPO pada saat ini sebaiknya tidak menetapkan harga perdana terlalu tinggi. Karena saat ini harga sangat sensitif, selain itu investor saat ini sangat berhati-hati dalam membeli.

Menurut dia, investor tidak akan mau membeli saham yang harganya terlampau tinggi kemudian langsung turun ketika sudah listing di BEI karena kondisi IHSG saat ini, “Yang akan listing sebaiknya melakukan discount jika tidak bisa jangan mengharapkan dana IPO setinggi-tingginya,”jelasnya.

Terkait rencana IPO RS Siloam, dia menjelaskan bahwa belum mengetahui data-data yang ada sehingga belum bisa memberikan prediksi lebih lanjut. Namun, menurut dia, seharusnya saham konsumer dan rumah sakit dapat menjadi pilihan bagi pelaku pasar di tengah kondisi IHSG yang mengalami tekanan.

Dia menuturkan, emiten yang bergerak di bidang rumah sakit dan konsumer dapat menjadi pilihan investor. Ini dapat dilihat dari saham PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) yang terus menguat dari awal pencatatan saham perdananya Januari lalu, “Awal harga IPO sebesar Rp400 per lembar saham, pada 20 Agustus sudah mencapai Rp2,675 per lembar saham,”paparnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo, IPO tidak akan menarik lagi karena saham-saham yang sudah ada di BEI saat ini banyak yang dijual. Ditambah asing yang terus secara serempak melakukan aksi jual hingga triliunan dalam 2 hari terakhir ini.“Saham yang ada saat ini sudah banyak yang dijual, bagaimana ada yang tertarik untuk membeli saham yang baru? Sebaiknya jika memiliki kesempatan, calon emiten mengundurkan dulu niatnya untuk listing di bursa dengan pertimbangan IHSG yang hanya dalam waktu 2 hari terkoreksi cukup banyak”, jelas dia. (nurul)

BERITA TERKAIT

Jangan Politisasi Nasehat Ulama

  Oleh: Zarima Sakun, Pemerhati Sosial Politik Belakangan kita mendengar pernyataan dari cawapres kubu Jokowi yaitu KH Maruf Amin yang…

IPO DIVA Oversubscribe mencapai 5,6 kali - Patok Harga Rp 2.950 Per Saham

NERACA Jakarta - PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) telah menetapkan pelaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada…

BMRS Lunasi 20% Saham DPM Ke Antam - Raih Dana Segar dari NFC China

NERACA Jakarta – Mengantungi dana segar senilai US$ 198 juta dari NFC China, mendorong PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

HRUM Targetkan Penjualan 4,8 Juta Ton

Hingga akhir tahun 2018, PT Harum Energy Tbk. (HRUM) menargetkan volume produksi dan penjualan batu bara mencapai 4,8 juta ton.…

BNBR Private Placement Rp 9,38 Triliun

Lunasi utang, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) berencana mengonversi utang dengan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih…

Danai Pelunasan Utang - Chandra Asri Rilis Obligasi Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun, emisi penerbitan obligasi masih ramai dan salah satunya PT Chandra Asri Petrochemical Tbl (TPIA)…