Emiten Terbebani Akan Utang Dolar

Dampak Pelemahan Rupiah

Kamis, 22/08/2013

NERACA

Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah diakhir perdagangan valas Rabu kemarin, hingga menembus level Rp 11.000 per dolar membuat panik pemerintah lantaran bakal menggerus cadangan devisa negara. Namun disisi lain, selaina menjadi sentimen negatif terhadap kinerja indeks BEI juga mengancam bagi emiten yang memiliki utang dolar.

Head of Research PT Bahana Securities Harry Su mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya memberikan dampak negatif terhadap pasar saham Indonesia hingga 1,8%, tetapi juga utang perseroan dalam bentuk dolar, “Emiten yang memiliki banyak utang dolar dalam situasi saat ini akan sulit. Sebaliknya saham yang revenue-nya baik akan stabil di pasar,”katanya di Jakarta, Rabu (21/8).

Analis pasar modal dari Dana Reksa, Candra Pasaribu pernah bilang, tren emiten menerbitkan surat utang dengan nilai dolar atau global bond dinilai mempunyai risiko besar dan termasuk potensi gagal bayar atau default, khususnya emiten yang tidak mempunyai pendapatan dalam bentuk dolar, “Utang dolar harus dibayar dolar, emiten yang memiliki pendapatan dalam rupiah harus cari di market untuk mendapatkan dolar. Hal ini juga semakin menjatuhkan nilai rupiah,”tutur dia.

Menurutnya, emiten yang tidak memiliki pendapatan dolar akan sulit untuk mengembalikan utangnya. Pasalnya, banyak hal yang justru akan merugikan perusahaan. Disamping penerbitan global bond juga cenderung lemahkan rupiah. Disamping itu, global bond harus mempertimbangkan beberapa aspek seperti bunga serta jangka waktu pengembalian. Kendatipun demikian, sisi positif global bond juga memiliki keuntungan bunga yang lebih rendah.

Hal senada juga disampaikan analis obligasi dari PT Penilai Peringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fakhrul Aufa, penerbitan obligasi global akan banyak membebankan emiten tersebut. Pasalnya, harus mengkonversi pembayaran utang dalam bentuk dolar, “Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar akan mempengaruhi biaya pembayaran utang dalam dolar tersebut,”ujarnya.

Sementara dari sisi keuntungan, global bond memberikan yield yang lebih rendah, sehingga beban utang yang harus ditanggung oleh emiten akan lebih murah. Oleh karena itu, lanjutnya, global bond sebaiknya hanya untuk jangka pendek.

Kata Fakhrul, emiten bisa menerbitkan obligasi denominasi dolar karena yield yang rendah serta likuiditas global yang masih tinggi sehingga kemungkinan besar akan oversubscribed.\"Namun demikian dalam jangka panjang harus hati-hati terutama bagi emiten ketika pembayaran bunga dan pokok utang,”tegasnya.

Tercatat beberapa emiten yang telah menerbitkan global bond diantaranya, PT Modernland Realty Tbk (MDLN) berencana menerbitkan global bond senilai US$ 150 juta. Selain itu, ada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) telah menerbitkan obligasi valuta asing (global bond) berjenis Senior Unsecured Bond dengan nilai US$ 500 juta. Obligasi tersebut berjangka waktu 5 tahun dan diterbitkan pada 28 Maret 2013. Kemudian PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui anak usahanya TBG Global Pte Ltd menerbitkan obligasi global maksimal US$ 500 juta (Rp 4,9 triliun) dengan tenor lima tahun dan perusahaan tambang PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang masih mengkaji rencana penerbitan obligasi dolar pada tahun ini. (nurul)