Harga Jual Gula Rafinasi Akan Naik 30%

Dampak Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Kamis, 22/08/2013

NERACA

Jakarta - Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) nampaknya juga berdampak terhadap industri gula rafinasi,pasalnya industri gula dalam negeri masih banyak mensuplai bahan baku gula mentah (raw sugar) dari luar negeri pembeliannya memakai dolar.

Hal ini bukan tidak mungkin ikut berpengaruh terhadap industri makanan dan minuman. Sebab gula rafinasi merupakan salah satu bahan baku industri makanan dan minuman.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (APEGTI) M Natsir Mansyur memaparkan kalau gula ini kan bahan baku untuk industri yang berbasis makanan dan minuman, jadi bisa saja mempengaruhi. Kalau impor raw sugar berpengaruh pasti, karena masih ada yang impor, sehingga biaya produksinya nanti juga naik.

Natsir mengatakan, kenaikan harga gula yang bisa terjadi bila rupiah tidak menguat berkisar 20% hingga 30% dari harga saat ini.Namun dia memastikan kenaikan harga tersebut tidak terjadi dalam waktu dekat, mengingat pelemahan ini baru terjadi sekitar 1-2 bulan lalu."Dampaknya tidak sekarang, tetapi 1-3 bulan mendatang baru terasa terhadap harga jual. Ini yang dikhawatirkan nantinya kan malah memberatkan konsumen, jadi dampaknya tidak langsung terasa," tutur Natsir di Jakarta, Rabu (21/8).

Natsir juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap ketidakstabilan harga produk bahan kebutuhan pokok dari industri dalam negeri. Indonesia dinilai rentan akan biaya produksi yang tinggi, sehingga mempengaruhi harga dari produk-produk tersebut.

Sementara itu,Ketua Umum Asosiasi industri Minuman Ringan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo mengungkap kalau pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang tidak dirasakan langsung industri minuman ringan dalam negeri.Akan tetapi kondisi ini memunculkan kekhawatiran pelemahan rupiah akan berdampak pada berkurangnya konsumsi masyarakat terhadap minuman ringan siap saji."Sampai saat ini dampaknya belum terasa ke sisi produksi, namun yang jadi pertimbangan apakah pelemahan rupiah ini nantinya akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Jadi yang ditakutkan industri itu lebih kepada daya beli," terangnya.

Kemungkinan penurunan daya beli masyarakat ini, menurut Triyono, terjadi bila pelemahan rupiah berlangsung lama dan ditambah dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tidak sekuat tahun lalu.

Hal ini menjadi tantangan yang dihadapi perekonomian nasional karean perilaku konsumen bisa saja berubah untuk lebih menjaga konsumsinya."Seperti contoh, bisa saja ada perubahan pola dari pada membeli minuman diluar, lebih menghemat dengan membawa minuman sendiri, atau dari pada makan direstoran yang pasti juga harus beli minum, mereka lebih memilih untuk makan dirumah," tutur dia.

Sedangkan dari sisi produksi, dia mengatakan, untuk bahan baku industri minuman ringan nasional secara umum hanya berasal dari dalam negeri. Namun untuk bahan baku pengemasan ini yang masih mengimpor dari luar negeri.Meskipun jumlahnya tidak terlalu besar, pelemahan rupiah seperti sekarang bukan tidak mungkin juga akan mempengaruhi biaya produksi dan harga jual minuman ringan.

"Masih impor itu seperti PET (polyethylene terephthalate) dan alumunium untuk kemasan, tetapi jumlahnya tidak sebesar yang suplai dari luar negeri jadi secara kontribusi ke biaya produksi tidak terlalu besar. Tetapi kita akan terus awas hal ini," tandas Triyono.

Picu Ketidakpastian

Sebelumnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan menimbulkan ketidakpastian dalam kinerja industri nasional khususnya terkait pembiayaan. Oleh karena itu, stabilisasi kurs rupiah terhadap dollar menjadi penting untuk segera diwujudkan.

Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat, mengatakan, stabilitas rupiah penting bagi pembangunan industri. Sebaliknya, fluktuasi dalam kurs menimbulkan ketidakpastian dalam biaya. Itu sebabnya, lanjut Hidayat, pemerintah tidak menginginkan pelemahan nilai tukar rupiah tersebut terus berlanjut. "Untuk saat ini memang melemah, namun masih bisa dikendalikan, sementara para eksportir masih bisa memanfaatkan hal ini untuk ekspor komoditasnya," ujar Hidayat.

Pemerintah, sebut Hidayat, telah melakukan proyeksi terkait dengan kondisi tersebut, dan berdasarkan proyeksi pemerintah itu, pada Oktober 2013 nilai tukar rupiah akan kembali menguat karena masalah global yang sudah terselesaikan. Seperti diketahui dalam APBN, nilai tukar diproyeksikan bisa sebesar Rp9.800, untuk tahun depan.