Pelaku Pasar Diminta Cermati Potensi Koreksi Saham

Rabu, 21/08/2013

NERACA

Jakarta- Melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berlanjut hingga perdagangan kemarin dinilai perlu dicermati oleh pelaku pasar. Pasalnya, dalam pelemahan tersebut beberapa saham berkapitalisasi besar pun nyatanya tidak mampu menghadang koreksi yang terjadi.

Praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, potensi suspensi bisa saja terjadi pada beberapa saham-saham lapis dua (second liner) apabila terjadi koreksi yang cukup dalam. Tidak terkecuali pada saham-saham berkapitalisasi pasar yang cukup besar, meskipun potensinya tidak sebesar saham-saham lapis dua.

“Saham-saham emiten yang menurun 20% harus di-reject. Potensinya, pada saham-saham second liner karena erat dengan spekulasi dan propaganda pasar. Sementara untuk first liner, karena kapitalisasi pasarnya cukup besar sehingga potensinya tidak terlalu besar.” jelasnya di Jakarta, Selasa (20/8).

Pada pelemahan IHSG yang terjadi kemarin tercatat sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar seperti SMGR turun Rp650 ke Rp12.450. Sementara GGRM turun Rp3.300 ke Rp37.100. INTP juga tergerus Rp1.300 ke Rp17.950. Tidak terkecuali saham dari grup Astra seperti UNTR yang melemah Rp1.250 ke Rp14.400, dan AALI turun Rp800 ke Rp13.300. Termasuk saham lippo seperti LPCK yang turun Rp400 ke Rp6.300.

Sepanjang perdagangan kemarin IHSG menyentuh sempat menyentuh level terendahnya di level 4062,30 jelang akhir sesi 2 dan berakhir di level 4174,98. Volume perdagangan mencapai 7,5 miliar saham senilai Rp8,9 triliun. Sebanyak 297 saham turun, 28 saham menguat, dan 42 saham stagnan. Pelemahan terdalam terjadi pada saham sektor perdagangan hingga 5,2% disusul saham industri dasar 4,7%. Untuk indeks LQ45 melemah 3,2%, indeks JII turun 3,5%, indeks ISSI melemah 3,8%. Sedangkan indeks SMinfra18 melemah 4,2% dan IDX30 turun 3,2%.

Padahal, sebelumnya pelaku pasar berharap IHSG dapat mencapai level 4.200 sebagai sinyal positif IHSG. Bahkan, Lucky sendiri sebelumnya memproyeksikan jika level 4.250 bisa ditembus maka akan menjadi sinyal positif bagi IHSG ke depan. “Setelah menyentuh 4.250 diproyeksi akan berada di level 4.400 pada Oktober. Kemudian masuk November berada di level 4.650 dan orang berpikir window dressing akan terjadi sehingga Desember bisa berada di level 4.850.” jelasnya.

Head of Equity Research PT Mandiri Sekuritas, John Daniel Rachmat mengatakan, tekanan jual ini akan hilang apabila salah satu dari tiga kondisi ini tercapai yaitu rupiah dan IHSG sudah mencapai level yang dipandang murah oleh pasar. \\\"Atau kekhawatiran pasar tentang QE tapering di Amerika Serikat sudah menyusut,\\\" jelasnya.

Jika kondisi ketiga tersebut belum terjadi, sambung dia, maka sebaiknya investor menjauhi bursa saham. Tetapi, apabila salah satu dari tiga kondisi tersebut sudah terjadi maka ini merupakan saat yang ideal untuk berinvestasi saham.