Sektor Industri Ingin Rupiah Segera Stabil

Ciptakan Ketidakpastian Pembiayaan

Rabu, 21/08/2013

NERACA

Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan menimbulkan ketidakpastian dalam kinerja industri nasional khususnya terkait pembiayaan. Oleh karena itu, stabilisasi kurs rupiah terhadap dollar menjadi penting untuk segera diwujudkan.

Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat di Jakarta, Selasa, mengatakan, stabilitas rupiah penting bagi pembangunan industri. Sebaliknya, fluktuasi dalam kurs menimbulkan ketidakpastian dalam biaya. Itu sebabnya, lanjut Hidayat, pemerintah tidak menginginkan pelemahan nilai tukar rupiah tersebut terus berlanjut. "Untuk saat ini memang melemah, namun masih bisa dikendalikan, sementara para eksportir masih bisa memanfaatkan hal ini untuk ekspor komoditasnya," ujar Hidayat.

Pemerintah, sebut Hidayat, telah melakukan proyeksi terkait dengan kondisi tersebut, dan berdasarkan proyeksi pemerintah itu, pada Oktober 2013 nilai tukar rupiah akan kembali menguat karena masalah global yang sudah terselesaikan. Seperti diketahui dalam APBN, nilai tukar diproyeksikan bisa sebesar Rp9.800, untuk tahun depan.

Kemarin, Selasa (20/8), Rupiah melemah dan berada di kisaran Rp10.738 per dolar. Jika dibandingkan dengan pekan lalu telah mengalami pelemahan sebesar 1,4 persen yang berada pada posisi Rp10.430 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia akhir pekan lalu di patok pada posisi Rp10.392 per dolar AS atau melemah 0,7 persen dari kurs tengah sehari sebelumnya di posisi 10.318 per dolar AS. Dalam Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) 2014 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir pekan lalu, pemerintah mematok nilai tukar rupiah di posisi Rp 9.750 per dolar AS.

Ganggu Industri

Seperti diberitakan sebelumnya, terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS, Pengusaha baja, PT Krakatau Steel Tbk meminta pemerintah bisa segera menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap mata uang dolar. Pasalnya, bahan baku baja yang diperoleh kebanyakan dipasok dari impor.

Presiden Direktur PT Krakatau Steel, Irvan Kamil Hakim mengatakan, perubahan nilai tukar rupiah yang terus berfluktuasi sangat mempengaruhi industri baja nasional. "Permintaan baja sampai akhir tahun mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Untuk itu, pemerintah harus bisa menstabilkan nilai tukar rupiah, sehingga kami membeli bahan baku baja dengan harga yang cukup tinggi," kata Irvan di, Jakarta, Senin.

Menurut dia, pelemahan nilai tukar rupiah membuat pengusaha baja membatasi impor bahan baku baja. Nilai tukar yang tetap yang dinanti pengusaha, meski nilai tukar rupiah berada di level Rp 10.200 per US$.

Dia mengatakan kalaupun nilai tukar rupiah terus fluktuatif, pihaknya harus mencari titik keseimbangan lagi pada saat akan berproduksi. "Kalau rupiah terus menerus mengalami fluktuatif, turun dan naik, saya harus menyesuaikan lagi, terpaksa semua yang berkenaan dengan produksi baja harus dikoreksi ulang. Kalau rupiah stabil, saya tidak mengkhawatirkan keadaan tersebut," tutur dia.

Ketika ditanya harga jual baja, Irvan menjelaskan, harga baja dunia tergantung kondisi ekonomi China. Kalaupun pertumbuhan ekonomi china turun, dampaknya kepada penjualan baja.Jikalau terjadi pertumbuhan ekonomi China mencapai 7,7%-8%, maka pasar baja dunia akan baik.

"Intinya, kalau pertumbuhan ekonomi China turun, maka berimbas pada harga jual baja dan permintaan baja yang ada di dunia. Kalau pertumbuhan ekonomi china mengalami peningkatan, maka dampaknya sangat positif juga untuk negeri ini," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Gaikindo, Sudirman Maman Rusdi, menyatakan agen pemegang merek (APM) akan menghitung ulang potensi peningkatan biaya produksi tahun ini menyusul kenaikan harga baja lokal sebesar 15% sejak bulan lalu.“Tingginya harga baja lokal akan terasa 2-3 bulan mendatang karena produsen otomotif saat ini masih memiliki stok bahan baku,” kata Sudirman.

Tingginya harga bahan baku seperti baja, menurut Sudirman, berpotensi mendorong kenaikan harga jual produk. Pasalnya, lebih dari 60% komponen otomotif menggunakan baja.“Kami masih mencoba menghitung kenaikan harga baja, termasuk upah pekerja, dan exchange rate (nilai tukar rupiah) terhadap kenaikan biaya produksi dan dampak lainnya. Untuk memproduksi satu unit mobil multi purpose vehicle (MPV) dibutuhkan baja sebanyak 650 juta kilogram, di luar kebutuhan baja untuk komponen seperti pelek, chasis, mesin, dan transmisi,” paparnya.

Bahan baku baja yang sebagian besar masih diimpor, sejak awal 2013, mulai merambat naik. Misalnya, harga scrap baja sejak Januari 2013 telah mencapai US$ 430 per ton, naik 13% jika dibanding harga pada Oktober 2012 sebesar US$ 380 per ton.

Harga bijih besi impor, juga naik 30% dari US$ 115 per ton menjadi US$ 150 per ton pada awal tahun. Sementara baja setengah jadi importelah mencapai US$ 540 per ton, naik 1 % dari US$ 470 per ton pada Oktober 2012.

Sampai Mei 2013, kenaikan harga baja diperkirakan berkisar US$ 80 sampai US$ 90 per ton dibandingkan posisi Desember 2012.Kenaikan tersebut seiring peningkatan harga bahan baku baja (scrap) dan meningkatnya permintaan.

Harga bahan baku baja internasional kualitas 1 naik dari US$ 390 per ton pada Desember 2012 menjadi US$ 430. Sementara harga baja menyentuh level sekitar US$ 700 per ton.