Tingkatkan Kepemilikan, Saratoga Tambah Saham MPMX

Beli 139 Ribu Lembar Saham

Rabu, 21/08/2013

NERACA

Jakarta – Tingkatkan kepemilikan saham, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) kembali membeli 139 ribu saham PT Mitra Pinastika Mustika Tbk (MPMX) senilai Rp179,31 juta pada 16 Agustus 2013. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (20/8).

Dijelaskan, pembelian saham tersebut dilakukan untuk investasi perseroan terhadap saham MPMX. Sehingga, setelah melakukan pembelian saham MPMX, perseroan memiliki saham setelah transaksi menjadi 30,62%. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2013 periode semester pertama, perseroan memperoleh laba Rp188 miliar yang didorong oleh pendapatan dari perusahaan-perusahaan konsolidasi. Namun, laba tahun berjalan ini turun cukup banyak dari Rp539,61 miliar pada semester pertama 2012 lalu.

Pendapatan perseroan juga hanya mengalami kenaikan tipis menjadi Rp1,16 triliun pada semester pertama 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,13 triliun. Perseroan mencatatkan penurunan laba bersih dari entitas asosiasi menjadi Rp292,12 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp612,42 miliar. Penghasilan dividen turun menjadi Rp19,28 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp63,23 miliar.

Sebelumnya, Presiden Direktur SRTG Sandiaga S. Uno pernah mengatakan, kuatnya kinerja pendapatan yang mendasar juga tercermin pada perusahaan-perusahaan asosiasi dengan kontribusi pertumbuhan yang signifikan dari sektor produk dan jasa konsumen serta sektor infrastruktur. Sementara sektor sumber daya alam, khususnya sektor batubara terpadu, pertambangan dan kelapa sawit, tetap menghadapi tantangan karena adanya sentimen global terhadap industri komoditas.

Ekspansi Bisnis

Sementara pada sektor produk dan jasa konsumen, MPMX memperlihatkan kinerja operasional yang solid dengan pertumbuhan pendapatan mencapai 31% menjadi Rp6,78 triliun pada semester pertama ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor infrastruktur, Tower Bersama Group (TBIG) melaporkan pertumbuhan jumlah penyewa melalui pertumbuhan organik maupun melalui akuisisi.

Perseroan mencatat pertumbuhan penyewa BTS sebesar 77% menjadi 15.277 penyewa, sehingga mendorong pendapatan perusahaan naik 96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Pendapatan Saratoga dari perusahaan yang dikonsolidasikan yang bergerak di bisnis kilang minyak melaporkan kenaikan laba kotor sebesar 68% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, karena efisiensi operasional. Pada akhir Juni 2013, perluasan kapasitas kilang minyak di Bojonegoro telah selesai. Perluasan kilang tersebut akan memberikan tambahan kapasitas sebesar 10.000 barel per hari”, jelas dia.

Dia juga menambahkan, Saratoga terus melakukan investasi di tiga sektor utama yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan prospek jangka panjang yang sangat positif sehingga dia optimis akan memperoleh kinerja perseroan yang lebih baik lagi. Hingga 2015 mendatang, perseroan berupaya meningkatkan investasi di sektor konsumer hingga 50% dari komposisi sebelumnya hanya 30%.

Sektor Konsumer

Saat ini perseroan mengembangkan serangkaian rencana investasi dalam tiga sektor seperti, produk konsumen dan pelayanan, sumber daya alam dan infrastruktur. Dari ketiga sektor tersebut, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk akan lebih memfokuskan ke sektor konsumer karena lebih menguntungkan dan mungkin banyak diburu.

Menurut dia, beberapa perusahaan yang bergerak di sektor konsumer, seperti di bidang makanan dan minuman sudah diincar perseroan. Namun dia belum merincikan berapa investasi dan nama perusahaan tersebut. Hal ini karena pihaknya masih mengincar beberapa perusahaan yang bergerak dibidang konsumer. PT Saratoga Investama Sedaya Tbk berdiri sejak 1998 dan kini sudah mengelola 18 perusahaan investasi seperti, PT Adaro Energy Tbk, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk dan beberapa perusahaan lainnya. Emiten ke-14 pada 2013 ini mencatatkan saham perdananya di BEI pada 26 Juni lalu dengan melepas 271,297 juta saham atau 10% dari total saham yang dimiliki.

Harga penawaran Rp5.500 per saham dan memperoleh dana hasil IPO sebesar Rp1,49 triliun. Penjamin pelaksana emisi efek adalah PT Deutsche Securities Indonesia, PT Indo Premier Securities, dan PT UBS Securities Indonesia. (nurul)