Ogah Intervensi, Pemerintah Dinilai Lepas Tangan

NERACA

Jakarta – Berlanjutnya pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tetap menimbulkan kepanikan para pelaku pasar dalam negeri. Terlebih mengakhiri perdagangan kemarin, indeks BEI kembali anjlok tajam 138,535 poin (3,21%) ke level 4.174,983.

Meskipun untuk meredam kepanikan, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menyakinkan pelaku pasar bahwa pelemahan indeks masih dinilai wajar. Namun sebaliknya, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menuturkan, pemerintah juga tidak bisa ikut campur secara langsung untuk intervensi pasar, “Iya. Tapi pemerintah kan tidak bisa turun ikut campur langsung,”ujar dia di Jakarta, Selasa (20/8).

Menurutnya, yang menjadi fokus pemerintah adalah pengendalian defisit transaksi berjalan, sebagai penyebab utama dari sisi domestik. Dia menilai kondisi defisit juga tida terjadi saat ini saja, namun dari beberapa tahun terakhir.

Lanjut Bambang, dirinya sepakat dengan prediksi Bank Indonesia (BI) yang menuturkan defisit akan membaik pada triwulan III. Hal itu seiring dengan dampak positif dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang akan mengurangi kuota impor migas, “Ini jadi ya kita melihat ke depan deh, artinya ini memang gejala yang jelek di second quarter tapi prediksi BI third quarter itu akan jauh membaik current account-nya,\"tandasnya.

Sementara Direktur Evergreen Capital, Rudi Utomo menilai, ditengah kondisi anjloknya indeks BEI, saat ini perlu intervensi dari pihak regulator pasar modal untuk meredam tekanan terhadap IHSG, “Intervensi yang dilakukan regulator salah satunya dengan melakukan \'buyback\' (pembelian kembali) saham,\" ujar Rudi.

Dia menambahkan, selama ekspektasi pelaku pasar saham bahwa bank sentral AS (the Fed) akan mengurangi stimulus keuangannya dan nilai rukar rupiah masih tertekan, maka pasar modal akan terkena imbas negatif.

Kata Rudi, aksi jual paksa (forced sell) dinilai menjadi salah satu penyebab pelemahan indeks BEI pada pekan ini, “Indikasi \'forced sell\' saat pasar sedang kritis pasti selalu ada, besarannya kurang lebih lima sampai 10%,\"kata dia.

Sebagai informasi, \"Forced sell\" merupakan hak yang dimiliki sekuritas terkait adanya fasilitas marjin di BEI. Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida mengatakan langkah \"buyback\" saham secara keseluruhan belum akan dilakukan pada saat ini.

Dia mengemukakan, ketika krisis 2008 lalu pihak Bapepam-LK pernah memutuskan untuk mempersilahkan kepada emiten untuk melakukan \"buyback\" saham tanpa persetujuan dari rapat umum pemegang saham (RUPS). Saat itu, IHSG anjlok hampir 50%, “Jadi saat ini kondisinya berbeda dengan tahun 2008,\" tegas Nurhaida.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Samsul Hidayat mengatakan langkah tersebut pernah dilakukan oleh Bapepam-LK ketika krisis 2008 lalu. Untuk kondisi saat ini, perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. \"Mekanisme itu pernah dilakukan pada 2008, tapi tentunya bisa dikaji lagi. Langkah itu merupakan wilayah OJK,\" katanya. (bani)

BERITA TERKAIT

Pemerintah Perlu Awasi Ketat Aplikasi Digital Perhotelan

Pemerintah Perlu Awasi Ketat Aplikasi Digital Perhotelan NERACA Jakarta - Pemerintah perlu mengawasi lebih ketat aplikasi dan platform digital untuk…

Kadin Berharap Pemerintah Susun Regulasi Lebih Pro Dunia Usaha - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap pemerintah membuat kebijakan dan regulasi bidang kelautan dan perikanan pro dunia…

NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar - INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Beri Peringkat AA- Chandra Asri

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan rating untuk PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) pada AA-. Prospek…

Bakrieland Raup Untung Rp 3,1 Triliun

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencatat laba bersih sebesar Rp 3,1 triliun hingga kuartal III-2018…

Pefindo Beri Peringkat A Semen Baturaja

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat idA PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), serta surat utang jangka menengah atau Medium…