Telkom Belum Mau Buyback Saham - Pilih Harga Dibawah Rp 10.000

NERACA

Jakarta – Terus terkoreksinya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga akhir perdagangan kemarin, menjadi momentum tepat bagi para pelaku pasar untuk mengkoleksi saham-saham blue chip yang sudah terdiskon banyak. Namun beda halnya bagi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang justru belum berniat melakukan buyback saham.

Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengatakan, perseroan belum berniat untuk melakukan buyback sahamnya, meski saat ini harga saham telah terdiskon signifikan seiring merosotnya kinerja IHSG beberapa hari terakhir, “Kita belum ada rencana buyback,” katanya di Jakarta, Selasa (20/8).

Menurutnya, Telkom punya strategi sendiri untuk melakukan buyback saham. Paling tidak, ujarnya, ketika pihaknya melakukan buyback, harga saham Telkom berada di bawah Rp10.000.“Sekarang harga saham kita masih di atas Rp10.000. Saya punya angka psikologis. Paling tidak kalau sudah di bawah Rp10.000 direktur keuangan harus saya panggil itu. Kemarin kita turun 6%, tapi tidak bisa lakukan apa-apa karena ini pengaruh global, ada juga isu capital outflow, dan juga posisi dolar,” ungkap dia.

Sementara terkait stock split, Arief juga mengaku belum akan melakukan corporate action dalam waktu dekat. Karena aksi tersebut paling potensial dilakukan ketika kondisi market sedang dalam bullish.“Kita akan ikuti arus. Ketika timingnya tidak tepat maka tidak akan bagus, dan tidak direspon oleh market. Tapi bukan berarti ditunda. Kalau toh terjadi bearish kita juga tidak akan menunggu bulish sampaikembali ke angka IHSG 4.800 (sekarang sudah 4.200 kurang). Kalau pergerakannya sudah ke arah positif maka pasti kita lakukan, kan sudah disetujui tinggal eksekusi, tunggu timing. Yang lebih penting bukan angkanya tapi tren naik,” jelasnya.

Pada perdagangan kemarin, harga saham Telkom tercatat turun Rp200 atau (1,89%) ke Rp10.400. Sebagai informasi, PT Telkom Indonesia Tbk berencana melepas maksimal 49% saham PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Perseroan mulai merampingkan bisnis di luar telekomunikasi dengan melepas saham terhadap anak usaha yang tidak produktif,.

Arief Yahya pernah bilang, pelepasan sebagian saham ini karena bisnis menara telekomunikasi sebagai fasilitas pendukung (supporting facilities). Umumnya perusahaan menara di dunia merupakan perusahaan mandiri (independent company). Dia menuturkan, perseroan tengah mengkaji tiga opsi pelepasan saham Mitratel, yakni melalui penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO), penggabungan dengan sebuah perusahaan (merger), maupun akuisisi perusahaan menara. Untuk itu, Telkom sudah menunjuk penasehat keuangan (financial advisor). (bani)

BERITA TERKAIT

Beban Keuangan Membengkak - Perolehan Laba Adi Sarana Turun 23,06%

NERACA Jakarta – Di balik agresifnya ekspansi bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menambah armada baru, namun hal tersebut…

Penjualan Delta Djakarta Melorot 7,38%

NERACA Jakarta – Emiten produsen minuman alkohol, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) membukukan laba bersih sebesar Rp317,81 miliar, melorot 6,01%…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Saraswanti Oversubscribe 19,94 kali

NERACA Jakarta – Di tengah badai penyebaran Covid-19 yang masih, minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal masih tinggi.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sentimen Stimulus Pemerintah - Laju IHSG Berhasil Balik Arah Ke Zona Hijau

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/4) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup…

Latinusa Bukukan Untung US$ 2,68 Juta

NERACA Jakarta - Emiten pengolahan pelat timah PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) atau Latinusa membalikkan posisi rugi tahun lalu…

Laba Bersih Alfamart Melesat Tajam 71,11%

NERACA Jakarta - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) membukukan kenaikan laba 2019 sebesar 71,11% menjadi Rp1,11 triliun dari periode…