Hulu-Hilir Industri Pelumas Belum Terintegrasi

NERACA

Jakarta - Industri pelumas menjadi salah satu industri strategis yang mengalami pertumbuhan cukup pesat, dimana permintaan akan produk pelumas meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini dinilai didorong dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang banyak memerlukan produk ini serta perkembangan sektor industri yang meliputi produksi dan konstruksi.

Namun, sejalan dengan itu, industri pelumas di Indonesia masih menghadapi tantangan terkait bahan baku dan bahan adiktif yang sebagian besar masih diimpor. \"Hal ini menjadikan industri pelumas di Indonesia masih sebatas formulasi dan pencampuran atau compounding sehingga belum terintegrasi antara upstream (industri hulu) dengan downstream (hilir),\" ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Selasa (20/8).

Oleh sebab itu, menurut Hidayat, sangat diperlukan untuk menjaga rantai pasok bahan bakar sehingga menghasilkan pelumas yang terintegrasi dengan minyak dan minyak dasar pelumas (lube base oil). \"Tantangan ini perlu dijawab investor untuk berinvestasi dengan membuka atau ekspansi pabrik demi memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor,\" jelasnya.

Selain itu, lanjut Hidayat, industri pelumas juga menghadapi tantangan dalam hal pengolahan limbah karena manghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. \"Namun kita terus melakukan pengembangan teknologi agar konsumsi energi bisa menurun serta dapat menghasilkan produk yang inovatif,\" tutur dia.

Berdasarkan data dari Kemenperin, saat ini ada lebih dari 200 produsen pelumas di Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah terutama di Pulau Jawa dengan kapasitas produksi terpasang mencapai 700 ribu kiloliter per tahun dan omset yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 7 triliun. \"Potensi ini dapat mendorong ekspor pelumas ke negara-negara ASEAN, Jepang, China, Kore Selatan, Timur Tengah, maupun Uni Eropa,\" tandas dia.

Sementara itu, perusahaan migas Shell Indonesia akan membangun pabrik minyak pelumas di daerah Marunda, Jakarta Utara. Shell mengelontorkan investasi senilai Rp1,5 triliun untuk membangun pabrik oli dengan kapasitas produksi 120 ribu ton per tahun.

Pabrik ini akan dibangun di atas tanah seluas 75 ribu hektare yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pelumas di sektor industri dan transportasi Indonesia. Pabrik ini akan memproduksi berbagai jenis pelumas Shell, mulai dari Shell Helix, Shell Advance, Rimulla dan Tellus.

Pabrik Terbesar

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Benny Wahyudi menyatakan pabrik ini akan menjadi salah satu pabrik pelumas terbesar di Indonesia yang akan beroperasi secara internasional. \"Akan selesai dalam kurun waktu dua tahun, nanti Insya Allah tahun 2015 selesai,\" kata dia.

Benny menambahkan pembangunan pabrik tersebut akan mengimbangi jumlah kendaraan di darat, laut maupun udara yang jumlahnya terus bertambah di Indonesia. Selain itu, sektor industri dan konstruksi Indonesia yang terus tumbuh membutuhkan pelumas berkualitas tinggi.

\"Kami mengucapkan terima kasih kepada Shell telah memilih Indonesia sebagai tempat untuk berinvestasi sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan akan menumbuhan perekonomian nasional,\" katanya.

Pihaknya juga mendukung Shell yang akan menerapkan program pemerintah dalam mengembangkan industri berwawasan lingkungan atau industri hijau dengan dengan mewujudkan komitmen sustainable development.

Seperti diberitakan sebelumnya, industri pelumas ternyata memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Hal ini terjadi karena potensi bisnis pelumas terus berkembang seiiring perkembangan industri munfaktur, kendaraan bermotor, dan industri transportasi di Indonesia. Juga karena pusat pertumbuhan ekonomi yang bergeser dari Amerika – Eropa ke kawasan Asia, turut memicu pertumbuhan pelumas di kawasan ini.

Mengutip data lembaga riset, Kline& Comp., pertumbuhan produksi otomotif yang tinggi menjadikan penjualan pelumas di Asia Pasifik tumbuh paling kuat sepanjang 2010. Tahun 2011 lalu, kontribusi penjualan pelumas di Asia Pasific mencapai 43% terhadap total permintaan pelumas dunia. Dalam hal ini penjualan pelumas secara global paling banyak terjadi di China, Jepang, India dan Korea Selatan.

BERITA TERKAIT

Bappenas: Indonesia Belum Siap Ekonomi Digital - AKIBAT JARINGAN INTERNET BELUM MERATA

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro menilai Indonesia belum siap menghadapi era ekonomi digital. Pasalnya, infrastruktur penopang…

Menperin Nilai Indonesia Siap ke Arah Industri Berbasis Digital - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Pelaku industri nasional perlu memanfaatkan perkembangan bisnis dan teknologi dari era ekonomi digital saat ini, seperti yang…

Bidang Industri Kabupaten Sukabumi Fokus Jalankan RPIK

Bidang Industri Kabupaten Sukabumi Fokus Jalankan RPIK NERACA Sukabumi - Tahun ini, Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian Energi Sumber Daya…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sektor Riil - Menperin Nilai Indonesia Siap ke Arah Industri Berbasis Digital

NERACA Jakarta – Pelaku industri nasional perlu memanfaatkan perkembangan bisnis dan teknologi dari era ekonomi digital saat ini, seperti yang…

KKP Bikin Percontohan Teknologi RAS Pada Unit Pembenihan Rakyat

NERACA Yogyakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti melakukan tinjauan langsung ke Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di desa wisata…

Dunia Usaha - Penerapan Industry 4.0 Buka Peluang Kerja Baru Lebih Spesifik

NERACA Jakarta – Penerapan sistem Industry 4.0 dinilai dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi…