Inflasi Diperkirakan Meroket di Atas 8%

Sampai Akhir 2013

Rabu, 21/08/2013

NERACA

Jakarta – Inflasi pada tahun 2013 ini diperkirakan bakal lebih tinggi dari 8%. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan mencapai dua digit kalau nilai tukar Rupiah tidak dikendalikan. Perhitungannya sederhana saja, sampai Juli 2013, akumulasi inflasi sudah sampai 6,75%. Sementara masih ada waktu lima bulan lagi yang belum masuk hitungan. Sebelum kenaikan BBM bersubsidi saja, pemerintah mengasumsikan inflasi hampir 6%. Kalau setengah jalan lagi berarti kira-kira 3%, itupun kalau asumsi pemerintah tepat. Sebanyak 3% itulah kira-kira tambahan inflasi di luar 6,75% yang sudah berjalan sampai Juli.

“Inflasi yang akumulasi sudah 6,75% itu belum menghitung lebaran. Nanti juga akan ada inflasi di akhir tahun akibat natal dan tahun baru. Meski di akhir tahun inflasinya tidak sebesar lebaran, tapi tetap ikut andil meningkatkan inflasi,” jelas Rektor Kwik Kian Gie Institute Anthony Budiawan, kepada Neraca, Selasa (20/8).

Menurut Dia, hari raya lebaran lalu akan mendongkrak inflasi di bulan Agustus. Menteri Keuangan Chatib Basri sebelumnya juga mengakui bahwa inflasi di bulan Agustus masih terbilang tinggi dan baru kembali ke normal pada bulan-bulan berikutnya.

Namun, menurut Anthony, tidak serta merta seluruh kesalahan bisa dikambinghitamkan pada hari-hari besar yang mendongkrak harga tinggi. Tata kelola perdagangan yang terjadi di Indonesia juga begitu gawat sehingga hanya dengan gejolak kecil saja bisa menyebabkan kenaikan harga.

“Tata kelola perdagangan kurang bagus, tidak hanya hari besar. Ada gangguan sedikit saja di produksi bisa picu kenaikan harga. Tidak ada pengelolaan dari pemerintah. Tata kelola perdagangan diserahkan ke pelaku bisnis, tidak bisa dikendalikan,” jelas Anthony.

Anthony tidak menampik akan adanya deflasi, namun itu hanya terjadi secara parsial. Hanya komoditas-komoditas tertentu saja yang akan mengalami penurunan harga. Misalnya saat ini bawang sedang panen, maka harga di pasar akan turun. Namun, dalam lima bulan ke depan, deflasi tidak akan terjadi secara keseluruhan.

Sejauh ini, inflasi agak tertahan karena nilai tukar rupiah yang terus dijaga dengan operasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Sampai-sampai pada 31 Juli 2013 cadangan devisa tinggal US$92,67 miliar. Meski Pemerintah mengatakan jumlah tersebut masih aman karena nilainya masih lebih besar dengan tiga bulan impor, namun tergerusnya cadangan devisa adalah sebuah keniscayaan.

“Sampai kapan BI bisa bertahan? Cadangan devisa itu kan terbatas. Nanti kalau BI sudah tidak mampu menahan rupiah, maka rupiah akan dilepas, lantas inflasi bisa sampai dua digit,” kata Anthony.

Inflasi di atas 8% jelas sudah melewati target inflasi yang dicanangkan Pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013 sebesar 7,2%. Menurut Anthony, inflasi yang melampaui target ini jelas akan menyebabkan daya beli masyarakat turun. Padahal, separuh lebih pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik. Jika daya beli masyarakat turun, maka sudah jelas pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin turun.

Prediksi tersebut sudah menjadi separuh kenyataan, terbukti dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama yang hanya 6,03% dan kuartal kedua yang hanya 5,81%. Jika diakumulasikan, maka pertumbuhan ekonomi di semester pertama hanya sebesar 5,92%. Padahal target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan dalam APBN-P adalah sebesar 6,3%. Jika ingin mencapai target, maka pertumbuhan ekonomi di semester kedua harus sebesar 6,68%.

BPS Harapkan Deflasi

Deputi Statistik Harga, Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo masih merasa target inflasi dari Pemerintah sebesar 7,2% masih mungkin terjadi asalkan terjadi deflasi dalam tiga bulan, yaitu September, Oktober, dan November.

“Kalau bulan September, Oktober, dan November terjadi deflasi, bisa saja,” kata Hadi kepada Neraca.

Deflasi di bulan September, kata Hadi, sangat mungkin terjadi, sementara di Oktober dan November kemungkinannya kecil, sehingga perlu kerja keras, bukan hanya Pemerintah, tetapi juga pelaku usaha.

Dorongan terjadinya deflasi pada September, lanjut Hadi, adalah karena terjadi puncak panen padi kedua dalam tahun ini. Meningkatnya pasokan akan mendorong turunnya harga sehingga terjadi deflasi di komoditas pangan pokok ini. Deflasi di beras, kata Hadi, akan mendorong deflasi keseluruhan pada September.

Sementara untuk Agustus ini, hadi memprediksi masih akan terjadi inflasi. “Harga barang cenderung stuck. Minggu pertama tinggi, terutama karena lebaran. Minggu kedua stagnan sampai sekarang,” kata Hadi.

Seharusnya, kata Hadi, setelah lebaran terjadi penurunan harga. Ini baru akan terlihat pada September. Lantas pada akhir tahun akan terjadi peningkatan harga lagi akibat momen natal dan tahun baru.

“Trennya memang akhir tahun terjadi inflasi, terutama pada hal-hal yang terkait liburan, seperti tiket pesawat. Juga yang terkait konsumsi non-makanan atau makanan jadi,” jelas Hadi.