Minim Sentimen Positif, Pelemahan Indeks Berlanjut

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 138,535 poin (3,21%) ke level 4.174,983. Sementara Indeks LQ45 menukik 20,914 poin (2,95%) ke level 687,171. Pelemahan indeks BEI diakhir perdagangan dinilai mulai reda, ketimbang pada sesi pertama yang terjun bebas. Maraknya aksi jual investor masih menjadi pemicu dan tercatat dana asing yang keluar mencapai Rp 1,9 triliun.

Berikutnya, indeks BEI diproyeksikan masih terkoreksi lantaran belum redanya sentimen negatif bursa global. Menurut Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani, penurunan IHSG diperkirakan masih akan terjadi sekitar dua sampai tiga minggu ke depan, “IHSG melemah itu sudah otomatis, dengan rencana penggabungan dua lembaga keuangan terbesar AS Merrill Lynch dengan Bank of America Corp, ini merupakan isu di AS yang berpengaruh di global,\\\\\\\" ujar dia di Jakarta, Selasa (20/8).

Ditambah lagi kata dia, mata uang rupiah selalu terkait dengan dolar AS. Meskipun penurunan IHSG dalam beberapa hari terakhir hanya berkisar dua sampai tiga minggu, kepastian suku bunga itu harus ada, “Karena ekspektasi pasar itu masih melihat kita harus menaikkan suku bunga karena inflasi diprediksi bisa 8% lebih, jadi orang masih berharap suku bunga naik terus, nah ini yang saya maksudkan harus diberi kepastian,”tandasnya.

Pada perdagangan kemarin, aksi jual semakin sore semakin ramai. Saham-saham unggulan dan lapis dua jadi sasaran aksi jual. Perdagangan berjalan sangat ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 211.046 kali pada volume 7,478 miliar lembar saham senilai Rp 8,821 triliun. Sebanyak 28 saham naik, sisanya 297 saham turun, dan 42 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia terjebak di zona merah sejak pembukaan perdagangan. Meski koreksinya cukup tajam, tapi masih kalah dari BEI yang anjlok sampai lebih dari tiga persen. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Surya Toto (TOTO) naik Rp 400 ke Rp 8.000, Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 200 ke Rp 2.700, Tempo Scan (TSPC) naik Rp 175 ke Rp 3.700, dan Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 150 ke Rp 7.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 27.850 ke Rp 1,12 juta, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 3.300 ke Rp 37.100, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 3.000 ke Rp 72.000, dan Mayora (MYOR) turun Rp 2.950 ke Rp 30.000.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI terjun bebas 184,693 poin (4,28%) ke level 4.128,825. Sementara Indeks LQ45 menukik tajam 33,475 poin (4,73%) ke level 674,610. Aksi jual makin marak, membuat 298 saham terkena koreksi dan hanya 10 yang menguat. Maraknya aksi jual dipicu oleh kabar berakhir program stimulus bank sentral AS yaitu The Federal Reserve menopang bursa saham Amerika Serikat (AS). Saking dalamnya koreksi, indeks sempat jatuh hingga titik terendah di 4.092,845.

Investor domestik dan asing ramai-ramai jual saham, membuat semua sektor industri di lantai bursa \\\\\\\'kebakaran\\\\\\\'. Saham-saham unggulan memimpin pelemahan dengan koreksi rata-rata lebih dari 4%. Perdagangan berjalan ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 119.980 kali pada volume 4,789 miliar lembar saham senilai Rp 4,591 triliun. Sebanyak 10 saham naik, sisanya 298 saham turun, dan 34 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia rata-rata masih melemah hingga sesi pertama. Bursa saham China bisa balik arah ke zona merah atas aksi beli selektif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Sarana Menara (TOWR) naik Rp 125 ke Rp 2.925, Nipress (NIPS) naik Rp 50 ke Rp 8.850, Global Teleshop (GLOB) naik Rp 40 ke Rp 1.220, dan SMR Utama (SMRU) naik Rp 35 ke Rp 335.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 3.100 ke Rp 37.300, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 3.000 ke Rp 72.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 2.450 ke Rp 25.100, dan Unilever (UNVR) turun Rp 1.600 ke Rp 27.600.

Diawal perdagangan, indeks BEI langsung dibuka turun 53,92 poin atau 1,25% ke posisi 4.259,59. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 13,71 poin (1,46%) ke level 694,37,”Bursa Asia dibuka melemah, termasuk indeks BEI memfaktorkan koreksi di bursa AS,\\\\\\\" kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung.

Dari dalam negeri, dia menambahkan, pelemahan indeks BEI juga diikuti koreksi di pasar uang domestik, nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah ke depannya. Sementara itu, Analis PT Buana Capital, Alfred Nainggolan menambahkan, pergerakan indeks BEI diperkirakan masih akan terus terkoreksi seiring dengan belum adanya sentimen positif yang signifikan, “Ke depan belum ada sentimen yang signifikan. Saat ini, kita akan disajikan data-data ekonomi makro dalam negeri. Inflasi Agustus pun diperkirakan masih tinggi. Jadi, perbaikan indeks BEI masih cukup sulit, meskipun masih ada potensi penguatan secara teknikal,\\\\\\\" katanya.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 35,19 poin (0,16%) ke level 22.428,51, indeks Nikkei-225 naik 60,21 poin (0,44%) ke level 13.697,55, dan Straits Times melemah 10,70 poin (0,34%) ke posisi 3.161,98. (bani)

Related posts