Defisit Neraca Transaksi Berjalan Diklaim Akan Turun

NERACA

Jakarta - Pemerintah mengaku pada kuartal III 2013, defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit akan mengalami penurunan. Pasalnya, efek kenaikan bahan bakar minyak (BBM) membuat impor migas melambat. Dengan begitu neraca perdagangan dalam negeri dapat mengalami keseimbangan.

“Pada dasarnya current account deficit kita memang naik. Tapi saya optimis pada kuartal tiga akan mengalami penurunan,” ungkap Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, sekaligus Menteri Keuangan, Chatib Basri, di Jakarta, Senin (19/8).

Keyakinan itu diakui Chatib karena efek kenaikan BBM membuat impor migas mulai melambat. Sedangkan konsumsi migas dalam negeri paling besar dari migrasi (membeli barang BBM bersubsidi dari BBM nonsubsidi). Sedangkan jika neraca impor khususnya BBM mengalami penurunan maka neracanya dapat mengalami keseimbangan bahkan surplus.

“Tapi kita juga harus melihat angkanya dalam kurun waktu satu tahun. Tidak bisa neraca perdagangan ini dilihat setengah jalan,” terangnya. Kemudian Chatib juga mengingatkan bahwa ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan. Pertama pada sisi ekspor harga komoditas belum akan meningkat banyak. Kedua impor migas masih akan tetap tinggi meskipun mengalami penurunan.

“Tapi jika dilihat dari sisi lainnya. PNPB nya mengalami penurunan. Itu artinya impor mesin juga akan mengalami penurunan,” tambah Chatib. Selain itu, kata dia, iklim investasi Indonesia mendapat report baik oleh Bank Dunia. Beberapa indikator yang membuat iklim investasi dalam negeri di nilai baik lantaran investor mendapatkan kredit, electricity, dan NPWP dalam satu kantor.

Dengan begitu prosedur investasi jadi lebih mudah, murah dan ekspansif. “Saya punya komitmen untuk memberikan kemudahan investasi dalam jangka menengah dengan memberikan insentif. Khususnya pada industri inovasi untuk mengurangi impor barang modal dan bahan baku,” tandasnya.

Meski Chatib juga mengaku situasi ekonomi global dalam dua tahun terakhir ini tidak terlalu bersahabat. IMF memperkirakan, laju pertumbuhan ekonomi global tahun 2013 tetap pada tingkat 3,1%, sementara Bank Dunia memperkirakan 2,2% atau sedikit lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi tahun 2012.

Wajar

Pada lain kesempatan Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai asumsi pemerintah mengenai penurunan current account deficit merupakan hal wajar. Sebab, pada kuartal III 2013, biasanya pemerintah memang mengurangi impor BBM. Tapi itu tidak akan serta merta dapat dibilang bahwa current account dalam negeri mengalami penurunan.

“Nanti akan dilihat lagi apakaha harga minyak dunia naik atau turun. Kalau harganya naik kan meski volume impor BBM menurun tapi anggaran tetap sama saja,” kata Enny. Lebih jauh Enny mengatakan jika pemerintah betul-betul akan menurunkan neraca defisit juga perlu mengurangi impor non migas. Sejauh ini ia melihat impor bahan baku penolong dan barang modal juga terbilang besar. Padahal barang modal itu sendiri dapat diproduksi di dalam negeri jika pemerintah mau konsentrasi pada sektor tersebut.

“Kita bisa mengurangi impor non migas dengan membangun investasi industri pada sektor hilir. Dengan begitu kita bisa mengurangi impor barang modal dan bahan baku penolong. Karena insutri hilir dapat berperan mebangun produksi subtitusi impor,” jelas Enny.

Kemudian Enny juga melihat sementara ini untuk mendorong ekspor memang terbilang sulit. Selain pasar global sedang melemah industri dalam negeri juga belum siap untuk mendorong peningkatan ekspor. Menurutnya secara harga jual ekspor dalam negeri bisa dibilang sudah berdaya saing. Namun secara kuantitas belum mampu mencukupi.

Untuk itu Enny menyarankan agar BUMN segera melakukan konsorsium pada sektor industri khususnya hilir. Seperti asuransi, jasa angkutan, dan lain sebagainya. “Karena pemborosan impor kita bukan hanya pada sektor penyediaan barang. Tapi juga pada konsumsi jasa. Toh selama ini jasa perdagangan ekspor dan impor kita kan masih didominasi asing,” tegas Enny. [lulus]

Related posts