Lampu Kuning Bursa Saham Indonesia

INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN MEROSOT TAJAM 5,58%

Selasa, 20/08/2013

Jakarta – Belum lama pasar modal Indonesia merayakan HUT ke-36, suasana perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai panik pasca libur Lebaran. Dalam penutupan kemarin (19/8) indeks harga saham gabungan (IHSG) turun drastis hingga 255,136 poin (5,58%) ke level 4.313.518. Kondisi ini merupakan respon negatif terhadap pidato Nota Keuangan dan RAPBN 2014 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di DPR di DPR, akhir pekan lalu, dan pengaruh faktor eksternal.

NERACA

Menurut data BEI, penurunan indeks saham tersebut sebenarnya sudah terasa beberapa pekan sebelumnya. Pada periode (5-9 Agustus) IHSG menurun 18,09 poin (0,39%), kemudian pekan berikutnya (12-16 Agustus) merosot 72,13 poin (1,5%), dan puncak penurunan terdalam terjadi kemarin (19/8) mencapai 255,136 poin (5,58%) ke level 4.313.518.

Adapun transaksi perdagangan saham di BEI kemarin tercatat sebanyak 154.326 kali dengan volume mencapai 3,945 miliar lembar saham senilai Rp5,97 triliun. Saham yang bergerak menguat sebanyak 20, sementara yang melemah 308 saham, dan yang tidak bergerak nilainya atau stagnan sebanyak 44 saham.

Kemerosotan bursa saham Indonesia juga berbarengan kondisi bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng melemah 54,11 poin (0,24%) ke level 22.463,70, indeks Nikkei-225 naik 108,02 poin (0,79%) ke level 13.758,13, dan Straits Times melemah 24,20 poin (0,76%) ke posisi 3.173,33.

Dari pengamatan Neraca di Kantor Kementerian Keuangan, tadi malam, sejumlah pejabat otoritas keuangan seperti Menkeu Chatib Basri, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad, Gubernur BI Agus Martowardojo, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Bambang Brodjonegoro serta Kepala LPS Mirza Adityaswara, terlihat sibuk mengadakan pertemuan tertutup membahas kemerosotan IHSG dan depresiasi nilai tukar rupiah yang kini mencapai Rp 10.500 lebih per US$.

"Nanti tunggu hasil meeting Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK)," ujar Menkeu kepada pers saat menanggapi respon kebijakan yang akan diambil pemerintah dengan perkembangan terkini kondisi fiskal dan moneter.

Menurut praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo, koreksi yang terjadi hingga 5,5% merupakan akumulasi dari spekulasi aksi jual yang dilakukan investor domestik maupun asing. Ditambah adanya kebijakan BI Rate yang memproyeksikan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6% menjadi 5,8%. “Pasar sudah merespon negatif sejak seminggu lalu. Di tahun ini, kinerja bursa terhitung tinggal lima bulan lagi sehingga memicu aksi spekulasi jual yang sangat tinggi.” katanya di Jakarta, Senin.

Selain itu, menurut dia, saham-saham di sektor properti yang menguat secara agresif sejak 2012 tidak disertai pertumbuhan di sektor riil sehingga pasar memiliki peluang untuk profit taking. Transaksi merger dan akuisisi yang dilakukan asing ke rata-rata emiten pun banyak yang tertunda sehingga asing berpikir hal tersebut masih membutuhkan kajian dan mempertanyakan stabilisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dia menambahkan, melemahnya IHSG juga tidak terlepas dari kondisi global. Namun diperparah dengan kondisi makro dan mikro ekonomi tersebut sehingga pelemahan yang terjadi kemarin cukup dalam. “Kondisi Asia tidak masalah, AS juga tidak masalah. Yang menjadi masalah Indonesia dipandang tidak memiliki fundamental ekonomi yang solid.” jelasnya.

Pelemahan Rupiah

Sementara itu, Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, masih adanya imbas pelemahan di bursa saham AS dan kurang kondusifnya sentimen yang ada membuat IHSG memperpanjang pelemahannya. Terutama untuk nilai tukar Rupiah yang terus longsor membuat kondisi semakin tidak kondusif dan berimbas pada aksi jual berlebihan dari para investor. “Pelaku pasar melihat perekonomian Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan data negatif secara bertahap yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, lonjakan inflasi, dan peningkatan defisit neraca perdagangan dan neraca berjalan,” ujarnya.

Imbas dari pidato kenegaraan Presiden SBY yang menyampaikan asumsi-asumsi makropun juga masih terasa, di mana pelaku pasar menganggap tidak realistisnya asumsi-asumsi yang digunakan sehingga pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual. Ditambah lagi dengan makin memerahnya pasar obligasi dimana yield yang diminta terus meningkat.

Di sisi lain, adanya aturan giro wajib umum (GWM) berdasarkan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 78%-92% dari sebelumnya 100% juga turut direspon negatif karena dinilai mengurangi likuiditas perbankan. Selain itu, komentar MenKeu, Chatib Basri, yang tetap yakin nilai tukar rupiah masih dalam level aman mengindikasikan tidak adanya langkah strategis dalam menahan pelemahan rupiah.

Alhasil, IHSG mengalami pelamahan pada perdagangan kemarin, Ironisnya, aapa yang dialami pada IHSG, tidak terjadi di mayoritas bursa saham Asia yang beberapa diantaranya masih dapat bergerak positif antara lain Nikkei, Shanghai, dan Shenzen. Hanya Sensex yang secara nominal hampir sama pelemahannya dengan IHSG dengan turun -387,49 poin meski secara persentase turun -2,08%.

Hal senada juga disampaikan pengamat bursa Alfred Nainggolan, anjloknya harga saham hingga 5% merupakan dampak dari berbagai macam problem dalam negeri. Sehingga iklim bursa mengalami sentimen negatif yang keras dari para investor. Untuk itu diharapkan investor lokal dapat berani melalukan pembelian saham. Sedangkan BUMN segera melakukan buy back.“Faktor utamanya merupakan dampak dari jatuhnya nilai tukar rupiah menjadi Rp 10.500. Belum lagi neraca perdagangan dan neraca pembayaran kita defisit. Itu semua membuat sentiment negatif begitu kuat hari ini,” kata Alfred.

Defisit Perdagangan

Sementara pengamat pasar modal dari Recapital Asset Mangement Pardomuan Sihombing menjelaskan, pelemahan indeks di picu sentimen negatif yang dominan berasal dari dalam negeri seperti pelemahan rupiah akibat neraca perdagangan defisit yang disebabkan oleh turunnya ekspor dibandingkan impor.“Hal-hal seperti ini menjadi kekhawatiran pelaku pasar, selain itu laporan keuangan emiten pada semester pertama juga menunjukan kinerja yang merosot. Sehingga asing melakukan net sell cukup banyak yang merefleksikan terhadap 3 kekhawatiran tadi”, jelas dia.

Selain itu, dia menuturkan, melihat kondisi bursa di kawasan regional yang masih lebih baik, menjadi indikator bahwa memang sentimen negatif datang dari dalam negeri, sehingga pemerintah harus membantu meyakinkan masyarakat dengan kebijakan-kebijakan yang dapat memperbaiki kondisi bursa dan ekonomi saat ini.

Sedangkan pengamat pasar modal Yanuar Rizky menjelaskan, terkoreksinya indeks ke level Rp4.300 merupakan sesuatu yang sudah diprediksi, “Naik turunnya IHSG ini suatu yang wajar karena pasar modal Indonesia sudah masuk ke era trading,”ungkapnya.

Crash di pasar modal, lanjut Yanuar, adalah suatu hal yang sangat mungkin terjadi di era trading. Bisa jadi kapan saja. “Yang namanya pasar keuangan, tidak mungkin tidak ada crash. Ini eranya trading,” kata dia.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida menambahkan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan BEI terkait dengan anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 5,58%, “Kita akan membahas langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,”tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Uriep Budhi pernah bilang, ketika indeks BEI mengalami tekanan cukup dalam maka otoritas pasar modal terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan pasar saham domestik dengan menjalankan protokol manajemen krisis (crisis management protocol/CMP).\"Bursa Efek Indonesia memiliki indikator dan tahapan yang dapat dilakukan ketika pasar bergejolak seperti saat ini yakni dengan menjalankan CMP,\" ujar dia.

Dia mengemukakan, jika IHSG BEI mengalami tekanan hingga lima persen maka otoritas Bursa akan memonitor pergerakan saham dan menunjukkan sinyal tanda bahaya. Kemudian, ketika IHSG turun sampai tujuh persen maka direksi BEI akan mengadakan rapat dan akan mengambil keputusan, seraya terus melaporkan kepada OJK. lulus/lia/nurul/iqbal/bani