Kuasai Pasar, Tiga Produk Minuman Mayora Unjuk "Gigi"

Eksistensi Ramaikan PRJ

Selasa, 20/08/2013

NERACA

Jakarta – Keyakinan masih positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan daya beli masyarakat menjadi harapan jika hingga akhir tahun ini pasar minuman ringan bakal tumbuh 10%-11% menjadi Rp 326,7 triliun-Rp 329,6 triliun dibanding tahun 2012. Menurut asosiasi industri, Kenaikan itu ditopang pertumbuhan volume konsumsi."Pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan masyarakat menjadi pendorong pertumbuhan pasar minuman ringan tahun ini," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Farchad Poeradisastra.

Selain itu, peningkatan pendapatan akan mendorong konsumsi per kapita lebih besar dibanding tahun lalu. Tidak hanya itu, pertumbuhan pasar juga karena Indonesia menjadi negara alternatif tujuan ekspor minuman ringan dari sejumlah negara. "Krisis yang terjadi di Eropa menjadikan Indonesia sebagai fokus tujuan ekspor baru,”ujar dia.

Sementara Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) memperkirakan penjualan air minum kemasan di 2013 tumbuh 11%-15% menjadi 21,9 miliar liter-22,7 miliar liter dibandingkan proyeksi tahun lalu sebesar 19,8 miliar liter.

Kata Sekretaris Jenderal Aspadin, Rembang Kayo, kenaikan itu ditopang pertumbuhan permintaan seiring kenaikan konsumsi air minum kemasan, “Air minum kemasan saat ini telah menjadi salah satu kebutuhan pokok di masyarakat, tidak seperti beberapa tahun yang lalu,”tuturnya.

Melihat besarnya potensi pasar minuman ringan di Indonesia, memicu banyak produsen minuman ringan banyak meluncurkan produk baru untuk meramaikan persaingan bisnis ini. Sebut saja ada PT Kalbe Farma Tbk berekspansi bisnis minuman ringan dengan mengakuisisi 100% saham Hale International, produsen minuman jus siap saji, senilai Rp 100 miliar. Kemudian ada PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk bersama Asahi Group Holdings Southeast Asia Pte Ltd asal Jepang membentuk dua perusahaan patungan untuk membangun pabrik minuman non-alkohol dan memasarkannya di Indonesia dengan investasi awal sebesar Rp 1,8 triliun-Rp 2 triliun.

Gencar Ekspansi

Meyadari semakin ketatnya persaingan bisnis minuman cepat saji saat ini, PT Mayora Indah Tbk yang juga berbinis minuman ringan dan cepat saji ini terus berekspansi dan dituntut melakukan inovasi. Salah satu inovasinya adalah meluncurkan tiga produk minuman kemasan, diantaranya Teh Pucuk Harum, Kopiko78C dan Q-Guava. Ketiga minuman dengan variasi rasa ini sudah dijual bebas di pasaran.

Perseroan mengungkapkan, hadirnya Kopiko 78 adalah strategi perseroan mengulang kesuksesan minuman Teh Pucuk Harum. Kopiko 78 diklaim adalah minuman kopi latte dengan kemasan botol PET 250 ml pertama di Indonesia. Melihat kemasan, harga dan iklannya produk minuman RTD (ready to drink) ini tergolong produk premium.

Kemudian untuk meraup pangsa pasar lebih besar lagi, Mayora memanfaatkan setiap momentum untuk memasarkan tiga produknya minumannya dengan membidik dari berbagai kalangan. Tidak hanya itu, perseroan selalu hadir menjadi sponsor setiap kegiatan dan selalu eksis tiap tahunnya dalam event ulang tahun Jakarta di Pekan Raya Jakarta.

PRJ tahun 2013, perseroan membuka stand Teh Pucuk Harum di Hall D dan C area dan terdapat empat stand Teh Pucuk yang menjual produk itu dengan harga terjangkau. Bahkan untuk memanjakan setiap pengunjung, Mayora selalu memberikan suguhan live music dari indie band yang menghibur di kala lelah usai berbelanja.

Sementara itu, stand minuman Kopiko78C pun tak kalah menyemarakkan suasana PRJ. Minuman ini paling banyak digemari kalangan anak muda. Selain penampilannya yang modis juga harga yang ditawarkan terjangkau.

Kemudian bagi pengunjung PRJ pecinta minuman rasa buah guava, Mayora juga hadirkan standnya dengan menjual dua botol Q-Guava dengan harga Rp 5.000,-, pengungjung sudah bisa mendapatkan rasa orisinil guava dari minuman tersebut.

Kinerja Keuangan

Sebagai informasi, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mencatatkan pendapatan hingga semester pertama sebesar Rp5,79 triliun, atau naik 6,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,44 triliun. Sementara laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk hingga semester pertama 2013 Rp451,51 miliar, naik 34,28% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp336,23 miliar.

Disebutkan, beban pokok penjualan perseroan pada semester pertama menjadi Rp4,30 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp4,32 triliun. Laba kotor perseroan naik menjadi Rp1,49 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp1,12 triliun.

Di tahun ini, produsen makanan dan minuman dalam kemasan ini optimistis menargetkan penjualannya dapat menembus angka Rp12 triliun. Hal tersebut disiasati perseroan dengan meningkatkan produksi untuk pasar ekspor pada beberapa negara. “Target penjualan sekitar Rp12 triliun dengan peningkatan ekspor lebih dari 35%.” kata Sekretaris Perusahaan, Yuni Gunawan.

Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor perseroan, menurut Yuni antara lain China, Filipina, Thailand, Vietnam, India, dan Myanmar. Selain itu, di setiap divisi, Mayora memiliki produk unggulan yang menjadi market leader (pemimpin pasar). Produk-produk yang memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan mulai dari permen, kopi, biskuit, cereal, wafer dan coklat. (bani)