OJK Siapkan Langkah Antisipasi

Dampak Indeks Anjlok

Selasa, 20/08/2013

NERACA

Jakarta – Anjloknya indeks perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sepanjang perdagangan Senin awal pekan, memberikan kepanikan bagi pelaku pasar sehingga memicu aksi jual dan termasuk investor asing yang telah melakukan aksi jual nyaris tembus Rp 2 triliun.

Merespon kondisi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan koordinasi dengan BEI terkait dengan anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 5,58% pada awal pekan ini, “OJK berkoordinasi dengan BEI untuk mengetahui penyebab turunnya IHSG,\" kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida di Jakarta, Senin (19/8).

Menurutnya, pihaknya akan membahas langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sebagai informasi, menutup perdagangan Senin awal pekan, IHSG ditutup anjlok 255,14 poin atau 5,58% ke posisi 4.313,52. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 50,77 poin (6,69%) ke level 708,09.

Sementara Direksi Investasi BNI Asset Management, Abdullah Umar Baswedan menilai, pelemahan indeks BEI saat ini dinilai jangka pendek dan tidak menimbulkan kepanikan pada investor domestik,”Investor domestik tidak terlihat adanya kepanikan, indeks BEI memang turun tetapi masih dalam kondisi yang wajar, jika dibandingkan krisis ekonomi 2008 lalu indeks BEI tertekan hingga 50%. Namun, saat ini penurunan IHSG hanya sekitar 15-16 persen dari posisi tertinggi,”ungkap dia.

Menurut dia, kondisi ekonomi Indonesia yang masih mencatatkan pertumbuhan serta asumsi RAPBN 2014 mendatang yang cukup optimistis akan menahan sentimen negatif yang ada saat ini terutama dari global. Dia menambahkan, kinerja emiten sepanjang 2013 juga masih sesuai dengan ekspektasi, sehingga mendorong kepercayaan bagi investor untuk tetap berinvestasi terutama di pasar modal.

Lanjut Abdullah Umar, saat ini investor domestik lebih mengambil peran dalam menahan pelemahan indeks BEI dan waktu tepat untuk melakukan akumulasi investasi di pasar modal, “Kondisi ekonomi Indonesia yang stabil serta emiten yang juga masih mencatatkan laba akan membuat investor domestik masih percaya diri terhadap pasar modal di Indonesia,\" papar dia.

Oleh karena itu, dirinya memprediksi IHSG BEI hingga akhir tahun ini di level 4.800-5.000 poin. Penurunan indeks BEI saat ini dinilai jangka pendek.\"Saat ini indeks BEI turun, karena adanya berita defisit dan ini diluar ekpektasi investor. Sehingga beberapa pelaku pasar merencanakan melepas sahamnya. IHSG akan kembali menguat pada bulan November atau awal Desember 2013,\" jelas dia.

Sebelumnya, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Uriep Budhi pernah bilang, ketika indeks BEI mengalami tekanan cukup dalam maka otoritas pasar modal terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan pasar saham domestik dengan menjalankan protokol manajemen krisis (crisis management protocol/CMP).\"Bursa Efek Indonesia memiliki indikator dan tahapan yang dapat dilakukan ketika pasar bergejolak seperti saat ini yakni dengan menjalankan CMP,\" ujar dia.

Dia mengemukakan, jika IHSG BEI mengalami tekanan hingga lima persen maka otoritas Bursa akan memonitor pergerakan saham dan menunjukkan sinyal tanda bahaya. Kemudian, ketika IHSG turun sampai tujuh persen maka direksi BEI akan mengadakan rapat dan akan mengambil keputusan, seraya terus melaporkan kepada OJK.

Selanjutnya, jika IHSG turun 10% direksi dapat mengambil keputusan untuk melakukan penahanan perdagangan saham di bursa domestik (hold) dan biasanya dilakukan selama 30 menit. (bani)