Menkeu: Kita Harus Kerja Keras

Target Pertumbuhan Ekonomi 6,4% di 2014

Selasa, 20/08/2013

NERACA

Jakarta – Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% seperti yang tertuang dalam Rancangan Anggaran Penerimaan Belanja Negara (RAPBN) dirasa begitu berat. Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan target tersebut memerlukan ekstra kerja keras.

“Range kita di APBN itu 6,4%-6,9%. Kita Pemerintah memilih target paling bawah, karena terus terang saja, dengan growth yang 5,9% saja (pada semester 1 2013) even 6,4% itu harus ekstra keras,” kata Chatib di Jakarta, Senin (19/8).

Namun begitu, lanjut Chatib, kalau sudah ditetapkan target maka harus ada usaha yang dilakukan. Chatib melihat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang menunjukkan bahwa dorongan pertumbuhan ekonomi terbesar adalah dari konsumsi domestik.

“Lihat saja dalam GDP (Gross Domestic Product), porsi terbesar adalah konsumsi rumah tangga, yaitu sekitar 0,55%. Jadi kalau konsumsi rumah tangga naik 0,1%, kalikan saja dengan 55%. Itu bisa tambahan growth-nya,” jelas Chatib.

Chatib mengemukakan dua hal untuk mempertahankan konsumsi rumah tangga. Pertama adalah mengendalikan inflasi. Kedua, menggunakan keep buying strategy.

Mengenai inflasi, tingginya inflasi yang tajam pada Juli lalu itu disebabkan karena kenaikan harga BBM bersubsidi dan harga pangan yang melonjak. Pada Agustus ini, tidak ada efek inflasi dari BBM bersubsidi sehingga diharapkan inflasi bisa ditahan. Harapannya, inflasi di tahun 2014 juga bisa dikendalikan.

“(Inflasi) Agustus akan lebih rendah. Saya tidak tahu (angkanya), mungkin di atas 1%. September akan balik ke normal, apalagi dengan harga impor dari makanan segala macam mulai datang. Sehingga saya harap Oktober inflasi sudah bisa dikendalikan. Oleh karena itu, daya belinya bisa naik,” jelas Chatib.

Mengenai keep buying strategy, Chatib menjelaskan, dengan masyarakat tetap membeli, maka akibatnya perusahaan tetap berproduksi. Kalau perusahaan tetap produksi, maka persahaan menyerap tenaga kerja. Dengan begitu, orang punya income lantas bisa membeli barang.

“Caranya, kita sedang siapkan paket stimulus. Nanti dikoordinasikan dengan kantornya Pak Hid (Menteri Perindustrian). Akan diberikan insentif untuk asosiasi atau industri dengan syarat asosiasi atau industrinya tidak melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Kalau dia PHK, tidak dapat,” kata Chatib.

Bentuk insentifnya bisa macam-macam. Misalnya pengurangan pajak, Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP) dinaikin. Atau kemungkinan yang lain. Chatib mengaku sedang menimbang-nimbang, pilihan mana yang lebih efektif. Dengan begitu, konsumsi growth-nya bisa lebih tinggi.

Cara lain untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6,4% di 2014 adalah dengan mendorong government spending. Meskipun porsinya kecil, yaitu hanya 9%, tetapi bisa ikut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi.

“Sekarang itu, TOR (term of reference) itu bukan lagi di Kementerian Keuangan, tapi di Kementerian/Lembaga. Mereka yang periksa, tapi dengan Kementerian/Lembaga tanggung jawab mutlak. Dgn ini, spending-nya dinaikin. Tidak banyak, tapi nol koma sekian persen bisa lah. Sehingga growth-nya bisa kita kejar,” kata Chatib.

Hal lain lagi yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di 2014 adalah adalanya Pemilihan Umum (Pemilu). Sektor domestik, kata Chatib, bisa tumbuh pesat, karena konsumsi akan tumbuh tinggi sekali.

“Saya ambil contoh industri otomotif, pasti akan ekspansi karena permintaan leasing mobil segala macam akan naik untuk tujuan pemilunya. Kemudian pesawat, untuk kampanye ke daerah, transportasi akan naik. Makanan, kalau rapat orang beli makanan akan naik,” jelas dia.

Namun begitu, Chatib juga mengakui bahwa dengan adanya Pemilu akan membuat sektor-sektor yang sensitif menunda dulu ekspansinya. Sektor yang sensitif menurut Chatib di antaranya adalah migas dan pertambangan, yang ada hubungannya dengan konsesi.

Di tempat yang berbeda, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan target pertumbuhan 6,4% adalah target yang terlalu optimis. “Terlalu optimis,” kata Eko. Target tersebut dinilai terlalu optimis karena kondisi global masih buruk. [iqbal]