Antam Kantongi IUP Seluas 6.213 Hektar

Sudahi Sengketa di Pemda Konawe

Selasa, 20/08/2013

NERACA

Jakarta – Meskipun saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sempat terdepak dari jajaran indeks LQ45, rupanya tidak mempengaruhi aksi korporasi dan ekspansi perseroan. Disebutkan, Antam bakal melakukan eksplorasi di lahan baru di Sulawesi Tenggara setelah sebelumnya bermasalah lantaran tumpang tindih. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (19/8).

Eksplorasi dipastikan akan segera dilakukan Antam, setelah perseroan telah mencapai kesepakatan dengan Pemerintah Kabupaten Konawe Utara mengenai Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Kata Direktur Utama Antam, Tato Miraza, kesepakatan ini menandai penyelesaian tumpang tindih lahan IUP yang berada di wilayah Tapunopaka dan Pulau Bahubulu, Kabupaten Konawe Utara, “IUP seluas 6.213 hektare tersebut rencananya akan menjadi bagian dari pengembangan Proyek Nickel Pig Iron,”ujar dia.

Tato menambahkan, kesepakatan ini juga akan memastikan rencana pembangunan Pabrik Nickel Pig Iron yang merupakan salah satu proyek pengembangan utama yang menjadi bagian dalam proyek Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Koridor Sulawesi."Proyek Nickel Pig Iron merupakan salah satu proyek pengembangan ANTAM yang akan mengolah bijih nikel menjadi nickel pig iron atau feronikel kadar rendah, dengan rencana kapasitas produksi sebesar 24.000 TNi per tahun,”kata Tato.

Saat ini status proyek tersebut dalam tahap evaluasi internal terhadap studi kelayakan yang telah selesai dibuat. Asal tahu saja, IUP yang dikantongi oleh Antam sendiri berlaku hingga 2030 dan telah mendapat pembaruan izin dari Bupati Konawe Utara pada 2010. Maka dampak tumpang tindih IUP disektor pertambangan tersebut dinilai merugikan negara.

Begitu juga halnya dengan yang dialami Antam terkait kerugian di dalamnya, termasuk nilai potensi pengembangan cadangan nikel dalam kegiatan pertambangan dan proyek-proyek strategi perusahaan. Kala itu, lahan PT. Antam yang tumpang tindih itu kini dikelola dua perusahaan yang nota bene mendapat izin usaha pertambangan (IUP) dari Bupati Konawe Utara saat H Aswad Sulaeman, yakni PT Duta Inti Perkasa Mineral (DIPM) dan PT Sriwijaya Raya.

Selain itu, pada Juli 2013, Antam telah telah mengeluarkan dana sebesar Rp18,3 miliar untuk kegiatan eksplorasi nikel, emas, bauksit dan baru bara. Dari total dana tersebut, eksplorasi emas di daerah Pongkor dan Papandayan, Jawa Barat; Cibaliung, Banten dan Batulicin, Jambi menelan biaya sebesar Rp9 miliar.

Sementara eksplorasi nikel telah menghabiskan dana mencapai Rp6,9 miliar. Kegiatan eksplorasi nikel tersebut antara lain dilakukan di daerah Buli, Maluku Utara dan Pomala, Sulawesi Tenggara. Untuk eksplorasi bauksit yang dilakukan di wilayah Tayan dan Munggu Pasir, Kalimantan Barat yang terdiri atas pengukuran geologi detail, test pitting, test pit logging dan percontoan, perseroan mengeluarkan dana sebesar Rp2,3 miliar.

Perseroan juga melakukan rangkaian aktivitas eksplorasi batu bara di Tebo, Jambi yang terdiri dari pemetaan geologi, pengukuran lintasan, percontoan dan pengeboran. Perseroan mencatat menghabiskan dana sebesar Rp132,6 juta untuk eksplorasi batu bara di periode tersebut. Belum lama ini, manajemen perseroan mengungkapkan telah mengantongi persetujuan untuk memperpanjang izin pinjam pakai kawasan hutan untuk komoditas emas di Jawa Barat. Wilayah tersebut tercatat memiliki tingkat produksi sekitar 3 ton per tahun. (bani)