Ekspor Produk Kerajinan Didominasi Rambut Palsu dan Bulu Mata Palsu

Selasa, 20/08/2013

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami mengungkapkan bahwa produk kerajinan tangan asal Indonesia seperti bulu mata palsu dan rambut palsu banyak diminati di negara Amerika Serikat ataupun Eropa. Tercatat pada 2012, ekspor produk kerajinan Indonesia mencapai US$696 juta, yang mana 30% adalah ekspor rambut palsu dan bulu mata palsu. "30% dari ekspor kerajinan itu adalah bulu mata palsu dan ram but palsu," ungkap Gusmardi di Kantornya, Senin (19/8).

Selama periode Januari-Mei 2013, ekspor produk handycraft sebesar US$284 juta atau meningkat 1,55% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 sebesar US$280 juta. Negara tujuan ekspor pada 2012 antara lain, Amerika sebesar US$301 juta, Jepang US$81,7 juta, Inggris US$35 juta, Jerman US$25,7 juta, Australia US$23,5 juta, Belanda US$21,8 juta.

Menurut dia, produk kerajinan dari Indonesia telah melibatkan banyak tenaga kerja dan pelau usaha sehingga setiap tahunnya ekspor produk kerajinan selalu meningkat. "Kita melihat ekspor produk kerajinan terus mengalami peningkatan dengan pertumbuhan sekitar 6% pertahun," katanya.

Dengan semakin meningkatnya ekspor kerajinan, Gusmardi memasang target ekspor pada 2015 bisa mencapai US$1 miliar pertahun. "Pertumbuhan ekonomi Amerika yang sudah mulai membaik, dan juga diiringi dengan sektor perumahan tentunya akan membuat ekspor kerajinan juga akan mengikuti peningkatan. Dan mudah-mudahan Eropa juga bisa pulih sehingga ekspor akan tetap bergairah," terangnya.

Guna untuk meningkatkan ekspor produk kerajinan, Pemerintah juga akan melakukan pameran produk kerajinan yaitu Crafina. Gusmardi mengungkapkan bahwa Crafina bertujuan untuk memamerkan, mengenalkan dan memasarkan hasil-hasil kerajinan yang dimiliki oleh Indonesia ke masyarakat luas dan nantinya diharapkan dapat mendukung perkembangan dan eksistensi produk kerajinan Indonesia.

Crafina, kata dia, ditargetkan bisa mewujudkan UKM yang tangguh dan mandiri yang mampu menghasilkan produk-produk yang berkualitas tinggi sehingga bisa menjadi komoditi untuk diperdagangkan baik ditingkat nasional maupun internasional dalam rangka tahun ekonomi kreatif yang dicanangkan oleh Pemerintah.

Kementerian Perdagangan juga terus berupaya melakukan kegiatan promosi produk unggulan Indonesia, salah satunya melalui penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2013. "Diharapkan para pengusaha produk kerajinan juga dapat memanfaatkan kegiatan yang ditargetkan bisa mendatangkan 10 ribu buyers dari dalam dan luar negeri tersebut untuk mempromosikan kerajinan unggulan Indonesia," imbuhnya.

Dipatenkan Asing

Sayangnya, ketika Pemerintah menggenjot ekspor produk kerajinan, namun ada produk kerajinan asal Indonesia yang sudah dipatenkan oleh pihak asing. Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Banten, Hafidah mengatakan, produk-produk kerajinan tangan miliknya sudah masuk pasar Jepang dan Australia. Sayangnya, barang-barang tersebut belum memiliki hak paten sehingga pihaknya hanya menjadi distributor tanpa punya hak paten atas barang-barangnya.

"Produk-produk kita kan dipatenkan Jepang. Ini barang-barang saya juga dipatenkan Jepang jadi kita hanya distributor, nggak bisa dipatenkan. Masih proses untuk dipatenkan. Bayar hak paten mahal, itu kelemahan di Indonesia. Kalau di Jepang gampang hak paten," kata Hafidah.

Dia mengatakan, pihaknya bersama 30 ibu rumah tangga di daerah Serang, Banten aktif memproduksi produk-produk kerajinan tangan seperti tempat tissue, celengan, toples, tatakan gelas, tutup dispenser, taplak meja, tempat mukena, sarung bantal, tutup galon, dan tutup piano. Semuanya itu diproduksi melalui kerajinan tangan seperti rajutan dan kreasi flanel.

"Semuanya handycraft. Ini wilayah binaan Serang, Banten. Kita perlu meningkatkan SDM, bisnis juga tapi sosial juga. Ibu rumah tangga yang nggak punya skill, dikasih pelatihan, kita bimbing untuk bisa menghasilkan produk-produk ini," ujarnya.

Melalui bisnis kerajinan tangannya ini, Hafidah mampu meraih omzet Rp 8 juta per bulan. Namun, jika pasar ekspornya bisa tembus, omzetnya bisa sampai Rp 20 juta per bulan.

Produk-produk milik Hafidah ini dibanderol mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 1,75 juta. "Ini masih bertahap yang penting memberdayakan SDM. Omzet bisa Rp 20 juta kalau ekspor, sayang SDM kurang, jadi nggak semua pesanan bisa dipegang. Pasar ekspor kita ke Jepang dan Australia. Bisa dipesan untuk warna dan motif, pemasaran kita selain pameran bisa online juga," kata dia.