Koreksi Dalam, Indeks BEI Belum Beranjak Pulih

NERACA

Jakarta – Awal pekan ini menjadi catatan buruk bagi kinerja indeks di Bursa Efek Indonesia(BEI). Pasalnya, sejak awal perdagangan hingga akhir perdagangan, indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di zona merah. Bahkan mengakhiri perdagangan Senin awal pekan, IHSG ditutup anjlok 255,136 poin (5,58%) ke level 4.313,518. Sementara Indeks LQ45 ditutup anjlok 50,772 poin (6,69%) ke level 708,085.

Maraknya aksi jual investor asing mencapai Rp 2 triliun menjadi pemicu melemahnya indeks BEI. Kata analis PT Buana Capital Alfred Nainggolan, pelemahan indeks tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di bursa Asia, “Hampir seluruh bursa Asia turun akibat sentimen negatif dari kepastian stimulus The Fed,”ujarnya di Jakarta, Senin (19/8).

Menurutnya, salah satu faktor pelemahan IHSG BEI pada awal pekan ini juga didorong dari tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dimana pelemahan rupiah didorong dari neraca pembayaran Indonesia yang belum membaik sehingga IHSG BEI tertekan cukup dalam dibandingkan bursa lain di kawasan Asia Pasifik.

Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan masih akan bergerak melemah, “Ke depan belum ada sentimen signifikan. Saat ini kita akan disajikan data-data ekonomi makro dalam negeri. Inflasi Agustus pun diperkirakan masih tinggi. Jadi, perbaikan indeks BEI masih cukup sulit, meskipun besok ada potensi penguatan secara teknikal,\" tandas dia.

Kata Alfred, defisit neraca pembayaran memang mengalami penurunan dibandingkan kuartal pertama 2013, akan tetapi, penurunan defisit didorong dari penerbitan surat utang dalam denominasi dolar AS. Tercatat, defisit neraca pembayaran Indonesia (NPI) berkurang dari 6,6 miliar dolar AS (Rp66 triliun) pada triwulan pertama 2013 menjadi US$ 2,5 miliar atau setara Rp25 triliun pada triwulan kedua 2013.

Pada perdagangan kemarin, saham-saham unggulan berkapitalisasi para yang tinggi banyak dilepas investor asing. Alhasil, seluruh indeks sektoral di BEI terjebak di zona merah, dipimpin oleh saham-saham finansial dan industri dasar. Koreksinya cukup masih, rata-rata lebih dari lima persen tiap sektor.

Sementara perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 155.332 kali pada volume 4,385 miliar lembar saham senilai Rp 6,737 triliun. Sebanyak 20 saham naik, sisanya 292 saham turun, dan 38 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia bergerak mixed ini setelah diawal sempat kompak melemah. Bursa saham Jepang dan China berhasil balik arah ke teritori positif.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indomobil (IMAS) naik Rp 150 ke Rp 5.450, Bayan (BYAN) naik Rp 50 ke Rp 7.100, Tjiwi Kimia (TKIM) naik Rp 40 ke Rp 1.870, dan Toba Bara (TOBA) naik Rp 30 ke Rp 850.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 3.050 ke Rp 40.400, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 2.000 ke Rp 75.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.750 ek Rp 27.550, dan Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 1.700 ke Rp 13.100.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup terkoreksi 175,345 poin (3,84%) ke level 4.393,309. Sementara Indeks LQ45 jatuh 34,508 poin (4,55%) ke level 724,349. Aksi jual ini dipicu oleh buruknya bursa global akhir pekan lalu dan sepinya sentimen atau katalis positif dari dalam negeri.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 77.606 kali pada volume 2,18 miliar lembar saham senilai Rp 3,094 triliun. Sebanyak 15 saham naik, sisanya 261 saham turun, dan 36 saham stagnan.

Saham-saham unggulan berkapitalisasi para yang tinggi banyak dilepas investor asing. Transaksi asing hingga siang hari melakukan jual bersih dengan nilai hampir satu triliun rupiah. Bursa-bursa di Asia bergerak mixed cenderung melemah hingga sesi pertama dan hanya bursa saham Jepang yang bertahan positif, sedangkan bursa lainnya masih negatif.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Bayan (BYAN) naik Rp 50 ke Rp 7.100, Gema Grahasarana (GEMA) naik Rp 30 ke Rp 610, Capitalinc (MTFN) naik Rp 20 ke Rp 2,25, dan Modernland (MDRN) naik Rp 20 ke Rp 940.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 2.000 ke Rp 75.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.850 ke Rp 41.600, Lionmesh (LMSH) turun Rp 1.500 ke Rp 8.500, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.500 ek Rp 27.800.

Diawal perdagangan, indeks BEI langsung dibuka turun 34,34 poin atau 0,75% ke posisi 4.534,31, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 8,74 poin (1,15%) ke level 750,12, “Ekspektasi mengenai pengurangan stimulus keuangan The Fed masih menahan laju bursa saham di kawasan Asia,\" ujar Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada.

Apalagi, lanjut dia, salah satu data ekonomi AS, yakni klaim pengangguran menunjukkan penurunan sehingga meningkatkan ekspektasi pengurangan stimulus keuangan di negara itu. Kendati demikian, dia mengatakan bahwa pelaku pasar dihadapkan pada sentimen yang bervariasi. Sebagian data AS, yakni konsumer, menunjukkan penurunan.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 35,78 poin (0,16%) ke level 22.482,03, indeks Nikkei-225 turun 44,80 poin (0,34%) ke level 13.603,72, dan Straits Times menguat 1,97 poin (0,06%) ke posisi 3.199,31. (bani)

Related posts