Pendidikan untuk Kaum Marginal

Cetak Lulusan Berkualitas

Sabtu, 24/08/2013

Upaya pengentasan kebodohan kaum marginal bukan saja tugas pemerintah, tapi harus didukung partisipasi masyarakat. Seperti sekolah bagi anak-anak tidak mampu di sekitar terminal Depok yang lebih dikenal dengan nama Sekolah Master.

NERACA

Di wilayah-wilayah perkotaan, kaum miskin lebih akrab dikatakan sebagai "kaum marginal". Di kota besar, anak-anak kaum marginal bisa dengan sangat mudah ditemukan di bantaran rel kereta api, bantaran sungai dan kolong jembatan.

Hidup dalam lingkungan kumuh, anak-anak ini merupakan potret dari generasi yang hilang (the lost generation), lantaran terabaikan hak-haknya untuk mengenyam pendidikan secara layak. Padahal pendidikan adalah kunci keberlangsungan sebuah negara.

Jika pendidikan ditujukan untuk mencerdaskan seluruh komponen bangsa, maka kaum marginal juga termasuk sasaran di dalamnya. Lantas bagaimana negara kita dapat berkembang jika kondisi pendidikan masyarakatnya masih terlantar semacam ini?

Berangkat dari hal tersebut, pemerintah telah memberikan bantuan berupa beasiswa. Selain itu, juga program kesetaraan (paket A, B, C) juga dirasa telah memberikan gambaran bahwa ada upaya pemerintah untuk mengentaskan pendidikan bagi kaum marginal.

Namun perlu diketahui bahwa upaya pengentasan pendidikan kaum marginal bukan saja tugas pemerintah, tapi juga harus disupport oleh lembaga-lembaga peduli pendidikan maupun partisipasi masyarakat. Seperti sekolah bagi anak-anak Dhuafa di sekitar terminal Depok yang lebih dikenal dengan nama Sekolah Masjid Terminal (Master).

Berada di bawah naungan Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM), sekolah yang dirintis oleh remaja masjid yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid Al Muttagien (Ikrima) pada tahun 2001 ini menawarkan pendidikan gratis termasuk untuk program Paket A sampai Paket C.

Melalui YABIM yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan, komunitas Master dikenal berbagai kalangan dari perusahaan sampai perguruan tinggi ternama. Sekolah gratis bagi kaum tidak mampu ini telah meluluskan muridnya untuk diterima di perguruan tinggi Negeri seperti Universitas Indonesia sebanyak lima orang. Selain itu di Universitas Soedirman, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Jakarta dan lainnya.

Sekolah Percontohan

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Herry Pansila mengatakan, sekolah master akan menjadi sekolah pencontohan terbuka menggunakan kurikulum 2013 berbasis keterampilan. Herry menyatakan bahwa dengan berbasis keterampilan, maka diharapkan para lulusan sekolah master siap berkompetisi dan bekerja.

\\\"Tahun 2006, Master menjadi SMA terbuka pertama di Indonesia. Sekarang akan menjadi percontohan sekolah terbuka berbasis keterampilan,\\\" kata pria yang mengklaim Depok sebagai daerah pertama yang menerapkan daya tampung 20% siswa tak mampu di setiap sekolah.

Herry menjelaskan, Sekolah Master berawal dari Pusat Kegiatan Belajar (PKB) untuk tingkat SMP pada tahun 1996. Para siswa Master selama ini difasilitasi sekolah di SMPN 4 dan sebagian di SMPN 2. Para siswanya pun berijazah sekolah negeri. Kemudian pada tahun 2003, Pemkot Depok memberikan izin operasional PKBM sekolah Master.

\\\"Tahun 2006, beroperasi SMA terbuka. Para siswanya bersekolah di SMAN 5. Tahun 2011, siswa SMA Master juga bersekolah di SMAN 4, kini kami akan perbanyak sekolah terbuka di Depok, dan master ini sudah jadi percontohan,\\\" ungkap dia.

Ketua Yayasan PKBM Bina Insan Mandiri yang juga pendiri Sekolah Master Nur Rochim membenarkan hal itu. Ia menambahkan dengan kurikulum 2013 berbasis keterampilan itu diharapkan siswa Master memiliki keahlian, akhlak dan moral yang baik. Di antaranya keterampilan yang sudah diberikan sebelumnya adalah perbengkelan, desain grafis dan sablon.

\\\"Ini merupakan pengembangan kewirausahawan. Saya juga akan dipanggil Bapenas. Mereka berkonsultasi masalah pendidikan. Mereka heran dengan metode pendidikan kami. Dan banyak siswa kami yang diterima di universitas negeri,\\\" paparnya.

YABIM sanggup menampung 5.000 anak yang belajar gratis sampai di jenjang SMA. Saat ini dari TK, SD, sampai SMA dibuka untuk pagi dan siang hari. Siang hari, diprioritaskan untuk SMA. Kemudian pada malam hari, kelas malam yang diikuti pembantu rumah tangga, tukang sapu, pelayan toko, pengasong, dan sebagainya. YABIM kini mengelola sekolah formal dan nonformal mulai TK PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sebanyak 200 anak, SD sebanyak 400 anak, SNIP sebanyak 600 anak, dan SMA sebanyak 800 anak.