Menanamkan Nasionalisme Pada Generasi Muda

Sabtu, 24/08/2013

NERACA

Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia memiliki makna yang sangat mendalam bagi seluruh Rakyat Indonesia. Untuk itu, selain bersyukur atas kemerdekaan yang telah dirasakan selama 68 tahun, seluruh warga negara Indonesia harus tetap mengingat jasa pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa Indonesia sehingga dapat merasakan kemerdekaannya.

Rasa nasionalisme, khususnya pada generasi muda saat ini merupakan perioritas utama yang harus dimiliki, karena hal itu merupakan modal perekat untuk mempersatukan seluruh elemen masyarakat yang memiliki berbagai macam perbedaan, baik suku, budaya dan agama.

Semangat nasionalisme harus segera dikobarkan dengan menguatkan empat pilar yaitu Kebhinekaan, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI dengan harapan dapat membentuk masyarakat yang berkarakter Pancasila dan berbudi pekerti luhur. Untuk itu, harus ada gerakan bersama-sama untuk membangkitkan semangat nasionalisme sejak mereka masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) agar mereka memiliki karakter kebangsaan yang sesuai cita-cita nasional.

Dalam rangka membentuk dan menumbuhkan rasa nasionalisme bagi generasi muda diperlukan suatu sarana yang dapat melengkapi penyelenggaraan pendidikan baik formal maupun non-formal. Seperti melakukan berbagai kegiatan perlombaan yang dilangsungkan warga Kota Bogor, yakni lomba membaca puisi berbahasa Sunda dalam memeriahkan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 

Ketua Panitia Pelaksana, Goemiati Dadang menuturkan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh anak-anak usia sekolah dasar. Tujuan dari lomba ini, selain menanamkan rasa cinta terhadap bangsa juga meningkatkan rasa nasionalisme di kalangan generasi muda.

\"Lomba ini mengajarkan mereka agar mencintai bahasa ibunya, bahasa Sunda yang sekarang ini sudah mulai ditinggalkan,\" kata dia.

Lebih lanjut Goemiati memaparkan, lomba membaca puisi dengan bahasa Sunda ini digelar warga di Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor ini dilakukan dengan dua bahasa yakni Bahasa Indonesia dan Sunda.

\"Ada dua puisi yang dibacakan, yakni yang berjudul Kapten Muslihat dalam bahasa Indonesia dan Kuburan di Sisi Lembur dalam bahasa Sunda, keduanya dibuat budayawan Bogor, Dadang HP,\" kata. Goemiati.

Sebelum lomba dilaksanakan, para peserta pembaca puisi diberi pengarahan dan pengetahuan tentang isi puisi oleh Neneng Sri Hafsah yang juga mantan kepala sekolah dasar, karena puisi tersebut tentang perjuangan Kapten Muslihat.

\"Puisi yang dibacakan adalah puisi perjuangan tokoh pejuang Bogor yakni Kapten Muslihat,\" sambung dia.

Menurut Goemiati, meskipun para peserta kurang memahami isi dari puisi tersebut, ternyata semangat mereka untuk menyelesaikan lomba sangat hebat. Seperti yang dilakukan Hana (7) yang membaca puisi secara terbata-bata. Dia, tetap bersemangat menyelesaikan bacaan puisinya dengan waktu lebih kurang 10 menit, padahal bagi yang membacanya sudah lancar paling lama 3 menit saja.

\"Membacanya susah sekali, apalagi yang bahasa Sunda,\" ujar siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) itu.