Tagihan Kartu Kredit Membengkak

Usai Idul Fitri dan Liburan

Sabtu, 24/08/2013

Kartu kredit ibarat dua sisi mata pisau. Satu sisi sangat membantu jika Anda gunakan dengan benar dan disisi lain justru membahayakan jika diri Anda menggunakannya dengan nafsu yang sifatnya konsumtif dampak Idul Fitri dan liburan.

NERACA

Bagi Anda yang beragama Islam tentunya saat ini tengah sibuk dalam merayakan hari kemenangan usai satu bulan menjalani ibadah puasa. Bagi Anda yang sudah menjadi orang-tua berbagai pengeluaran yang dilakukan terkadang menjadi suatu keharusan. Mulai dari membeli baju baru menyiapkan makanan yang lebih spesial hingga mengajak keluarga mudik liburan. Dengan alasan sekali dalam setahun Anda tidak segan-segan berhutang kanan-kiri demi bisa merayakan lebaran bersama keluarga tercinta.

Sebenarnya keinginan untuk menyambut hari raya dengan penuh kebahagiaan bukanlah hal yang salah. Tapi menjadi sangat disayangkan bila hidup Anda menjadi menderita usai hari raya. Karena usai dari kampung halaman Anda disadarkan harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup berikutnya ditambah dengan belitan utang di mana-mana. Belum lagi dalam waktu tidak terlalu lama lagi Anda akan menyambut hari raya lainnya yaitu Idul Qurban. Pusing bukan??

Sahabat Uang Anda setiap tahun Bank Indonesia mencatat penggunaan kartu kredit menjelang hari raya melonjak tajam. Parahnya sebagian besar nasabah yang menggesek kartu kredit ini memiliki motif hutang demi pengeluaran konsumtif yang tidak disertai disiplin dalam membayarnya. Akibatnya banyak pembayaran macet dari nasabah dengan bunga bank yang menyertainya.

Bila Anda tidak bijaksana menggunakannya, kartu kredit ibarat dua sisi mata pisau. Satu sisi sangat membantu jika Anda gunakan dengan benar dan disisi lain justru membahayakan jika diri Anda menggunakannya dengan nafsu yang sifatnya konsumtif. Beberapa faktor yang mendorong Anda terjerat kartu kredit khususnya menjelang hari raya yaitu:

Pertama bank lebih agresif menawarkan kartu plastik dan program menarik menjelang hari hari raya atau musim liburan. Akibatnya akan semakin mudah mendapatkannya. Ini bisa dimaklumi karena persaingan antar bank penerbit kartu kredit semakin kompetitif. Seringkali bank menawarkan prosedur yang mudah di mana Anda tidak perlu repot-repot mengisi data.

Jika tergolong potensial bank cukup melakukan verifikasi melalui telepon dan Anda langsung dinyatakan layak menerima kartu plastik dari mereka. Prinsip penerbit semakin banyak kartu yang dibuat kemungkinan transaksi kredit menjadi lebih besar dan itu berarti pendapatan bunga bagi mereka.

Kedua kartu kredit membuka kemungkinan nasabah untuk membayar dengan minimum yang saat ini leluasaan untuk membayar sesuai adalah 10% dari total tagihan. Inilah yang jadi sumber masalahnya bagi Anda yang dikendalikan oleh kartu plastik yang dimiliki.

Anda tidak menyadari berbagai pengeluaran yang dilakukan di pusat perbelanjaan akan membuat tagihan menumpuk paska hari raya. Dan bila hanya pembayaran minimum yang dilakukan maka bukan saja tagihan yang menjerat tetapi ditambah dengan bunga yang menumpuk.

Ketiga menjelang hari raya dengan tingkat kebutuhan yang meningkat seringkali Anda memaksakan diri untuk bersikap lebih konsumtif dari bulan biasanya. Apalagi bagi Anda yang tidak tahan godaan.

Segera ubah mind set Anda bahwa kartu kredit bukanlah sumber penghasilan yang bisa menjadi tambahan uang belanja, tapi kartu kredit adalah hutang yang bisa digunakan dalam keadaan emergency, bukan untuk membiayai gaya hidup anda di bulan suci ini.

Terakhir tidak sadar risiko bunga dan biaya dari setiap transaksi menggunakan kartu kredit. Begitu Anda hanya membayar syarat minimalnya saja maka bank akan mengenakan bunga untuk sisanya. Bunga kartu kredit adalah salah satu bunga termahal dan jangan lupa bank akan mengenakan bunga berdasar tanggal setiap tansaksi kita atau bunga harian.

Selain bunga, bank juga mengenakan berbagai biaya dan denda seperti denda keterlambatan pembayaran, denda karena melebihi plafon atau limit, biaya tahunan, selisih kurs untuk transaksi dengan mata uang asing, dan biaya administrasi lainnya.