BNI Bidik 20% Diaspora

Senin, 19/08/2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk memperluas penggunaan kartu debit dengan menggandeng WNI di luar negeri (Diaspora) sebanyak 2 juta dari Rp8 juta orang yang diperkirakan ada di luar negeri. "Kami menargetkan sebanyak 20% atau 2 juta dari sebanyak 8 juta Diaspora Indonesia menjadi nasabah pemegang kartu debit BNI," kata Pemimpin Divisi Internasional BNI Abdullah Firman Wibowo, usai pendandatanganan kerja sama co-brand BNI-Diaspora Indonesia, di Jakarta, Minggu (18/8).

Menurut dia, dalam kerja sama ini BNI menerbitkan kartu debit yang sekaligus berfungsi sebagai kartu ATM, rekening BNI Taplus, kartu kredit dan tanda keanggotaan Diaspora. Diaspora adalah WNI yang bertempat tinggal di luar negeri, WNI yang telah menjadi warga negara asing, dan warga negara asing yang memiliki kecintaan terhadap Indonesia atau memiliki keturunan keluarga Indonesia.

Firman menjelaskan, kartu debit co-brand BNI-Diaspora Indonesia itu dapat digunakan untuk transaksi global dengan memanfaatkan jaringan MasterCard Indonesia. Dengan didukung lima jaringan cabang BNI seperti London, New York, Tokyo, Singapura, Hongkong dan 1.600 bank koresponden, kartu co-brand BNI-Diaspora ini akan cepat meluas ke seluruh mancanegara.

"Ini merupakan salah satu realisasi visi bisnis internasional BNI, yaitu Bridging Indonesia and The World, yang direalisasikan bertahap dengan sinergi optimal antara unit bisnis dalam negeri dan kantor cabang BNI di luar negeri," kata Firman.

Dia menjelaskan, potensi transaksi dari sekitar 2 juta anggota Diaspora yang dibidik BNI tersebut bisa mencapai Rp10 triliun - Rp15 triliun per bulan. "Jika rata-rata Diaspora mengirim dana sekitar Rp5 juta per bulan, maka diperkirakan dana yang masuk melalui jaringan BNI bisa mencapai Rp10 triliun-Rp15 triliun," ungkapnya.

Untuk lebih menjaring minat para Diaspora, BNI juga akan memfasilitasi layanan yang bersifat "Diaspora Friendly", misalnya menurunkan biaya pengiriman uang, memberikan informasi soal properti, reksa dana, obligasi, maupun soal pasar saham di Tanah Air.

Firman menambahkan, optimistis kerja sama BNI dengan Diaspora ini dapat meningkatkan pendapatan BNI terutama dari jaringan cabang di luar negeri. Saat ini laba transaksi BNI dari pelayanan luar negeri mencapai sekitar US$22 juta per tahun yang didominasi dari pendapatan transaksi pengiriman uang, disusul fee based income, dan transaksi surat-surat berharga.

"Komunitas Diaspora Indonesia yang berjumlah jutaan orang dengan kondisi perekonomian yang rata-rata mapan, merupakan kelompok masyarakat yang tepat bagi BNI untuk mewujudkan peningkatan aset," kata Firman.

Mempermudah transaksi

Sementara itu, Presiden Indonesian Diaspora Network Amerika Muhamad Al Arif mengatakan, sangat mendukung kerja sama BNI dengan Diaspora karena merupakan langkah serius untuk mempermudah sistem transaksi dari luar negeri ke Indonesia.

"Tantangannya adalah bagaimana BNI bisa mempermudah transaksi dengan menurunkan biaya-biaya sehingga jumlah dana yang masuk bisa lebih lancar dan lebih besar," ujar Arif. Saat ini tambahnya, saat ini sekitar 8 juta orang Diaspora Indonesia yang memiliki 57 jaringan di lebih 22 negara.

Menurut catatan Arif, jumlah pemasukan pengiriman uang (remitansi) Diaspora Indonesia masih menduduki urutan ke 18 dengan jumlah sekitar US$7,2 juta. Adapun Diaspora terbesar di dunia adalah India dengan jumlah sekitar 35 juta orang dengan pengiriman US$70 juta, disusul China US$61 juta, sementara Filipina US$24 juta, dan Vietnam US$10 juta. [ardi]