Inklusif, Tanpa Target Gini Ratio

NERACA

Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya pada penyampaian keterangan pemerintah atas rancangan undang-undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2014 menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus inklusif. “Tak hanya meningkat, pertumbuhan ekonomi juga harus inklusif dan berkeadilan,” kata SBY di Jakarta, pekan lalu.

Pertemuan setelahnya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak menghadirkan dua puluh menteri ekonomi. Namun belum ada yang bisa menjelaskan secara gamblang berapa target Gini ratio yang hendak dicapai sebagai bentuk kuantifikasi “inklusif” yang disebut-sebut Presiden dalam pidatonya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa hanya mengatakan bahwa Pemerintah mempunyai program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan (MP3KI) untuk mengurangi kesenjangan. “Diharapkan kesejahteraan meningkat tapi juga mengurangi gap. Ini yang kita lakukan, diharapkan Gini Ratio menurun,” kata Hatta.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty mengatakan ketiadaan target Gini Ratio bagi Indonesia adalah suatu hal yang wajar. “Di negara berkembang, agak sulit menetapkan Gini Ratio karena perkembangan peningkatan pendapatan per kapita itu diiringi peningkatan kesenjangan,” kata Telisa kepada Neraca, Minggu (18/8).

Telisa menjelaskan, biasanya pertumbuhan ekonomi itu dimotori kelas menengah dan atas. Ketika kelas menengah dan atas tumbuh di laur keseimbangan, sementara kelas bawah cenderung jalan di tempat, maka akan menyebabkan kesenjangan.

“Kesenjangan itu wajar ketika negara masih dalam middle class income. Tapi dalam siklusnya nanti kesenjangan akan turun ketika negara itu sudah menjadi negara maju. Harusnya distribusi pendapatan membaik karena sudah menjadi welfare state,” jelas Telisa.

Saat ini, lanjut Telisa, Indonesia masih masuk dalam golongan middle class income yang pendapatannya per kapitanya sebesar US$4.000 – US$10.000 per tahun. “Indonesia sekarang di lower middle class. Gini Ratio-nya 0,42%,” kata dia.

Sementara, lanjut dia, Gini Ratio menjadi tidak wajar jika sudah lebih dari 0,50%. Indonesia perlu hati-hati dalam menghadapi tantangan ini. Indonesia yang masih lower middle class saja sudah 0,42%. Jangan sampai nanti belum jadi negara maju sudah lebih dari 0,50%.

Untuk diketahui, Gini Ratio adalah sebuah indikator kesenjangan perekeonomian masyarakat. Nilainya ada di antara 0 dan 1. Angka 1 menggambarkan kesenjangan yang paling maksimal, sementara angka 0 menggambarkan ketiadaan kesenjangan. [iqbal]

BERITA TERKAIT

Realisasi Penjaminan Jamkrindo Palembang Lampaui Target

Realisasi Penjaminan Jamkrindo Palembang Lampaui Target NERACA Palembang - Perusahaan Umum Jamkrindo Cabang Palembang mencatat realisasi penjaminan kredit hingga awal…

Pengembang Minta Target Rumah Bersubsidi Naik di 2019

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) meminta Pemerintah menaikkan jatah unit…

MD Pictures Klaim Penjualan Melebih Target - Penjualan Tumbuh 66,89%

NERACA Jakarta - Belum setahun saham PT MD Pictures Tbk (FILM) tercata di pasar modal, namun emiten produsen film ini…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…