Menakar Prospek Pasar IPO Siloam Hospital

Targetkan Bangun 40 Rumah Sakit

Senin, 19/08/2013

NERACA

Jakarta – Ekspansi bisnis Lippo Grup makin gencar, setelah Bank Nobu mencatatkan saham perdananya di pasar modal, kali ini PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencoba keberuntungannya di pasar modal dengan penawaran saham perdana di bisnis healte care yakni PT Siloam International Hospitals Tbk.

Meskipun penawaran harga saham perdana Siloam Hospital dinilai kemahalan, namun perseroan menyakini bakal diserap investor karena memiliki prospek saham yang positif. Direktur PT Ciptadan Securities selaku penjamin emisi, John Herry Teja mengatakan, walau harga perdana saham terlihat cukup tinggi tapi perseroan yakin mendapatkan respon positif dari para investor, “PE tinggi tapi diimbangi dengan pertumbuhan Siloam ke depannya yang akan mengalami peningkatan yang signifikan. Harga Rp11.200 memakai PE 79 kali pada 2014 dan harga Rp14.200 dengan PE 100 kali. Ke depannya PE bisa lebih rendah,”ujarnya.

Hal senada juga pernah disampaikan Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Untomo, semua anak usaha Grup Lippo memiliki prospek usaha yang bagus, seperti Bank Nobu yang melantai belum lama ini. Sehingga ketika RS Siloam telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak diragukan lagi akan bagus sahamnya.

Meskipun saat ini indeks terlihat fluktuatif, dia yakin anak usaha grup Lippo ini akan tetap menarik karena memang kinerjanya cukup baik. “Setahu saya RS Siloam pernah listing dengan nama PT Graha Medika Tama namun keluar lagi, mengenai RS Siloam saya tidak terlalu mengikuti namun memang grup Lippo cukup bagus,”ungkapnya.

Sebagai informasi, PT Siloam International Hospitals Tbk menawarkan saham perdana berkisar Rp 11.200-14.200 perlembar saham. Meskipun dinilai mahal, perseroan optimis saham perseroan bakal terserap di pasar karena memiliki prospek usaha yang positif dan didukung ekspansi penambahan rumah sakit baru.

Melalui penawaran saham perdana tersebut, perseroan berharap dana yang terkumpul mencapai Rp 1,8 triliun sampai Rp 2,3 triliun. Nantinya, 525% dana IPO akan digunakan perseroan untuk memperluas bisnisnya di bidang pelayanan kesehatan dengan menyiapkan belanja modal atau (capital expenditure/capex) tahun 2013 sekitar Rp1,6-1,8 triliun.

Sementara sekitar 27,5% digunakan untuk membayar utang kepada Lippo Karawaci dan sisanya 20% untuk membiayai akuisisi rumah sakit. Asat tahu saja, saat ini Siloam Hospital memiliki 14 rumah sakit yang beroperasi dan ditargetkan dalam lima tahun mendatang menjadi 40 rumah sakit.

Belanja Modal

Ditahun 2014, perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp800 miliar yang akan digunakan untuk meneruskan pembangunan ke dua rumah sakit. Sedangkan ditahun ini, perseroan telah memasang target pendapatan sebesar Rp2,7 triliun.

Chief Financial Officer PT Siloam International Hospitals, Romeo Fernandez Liedo pernah bilang, selain membangun rumah sakit Siloam, pihaknya juga telah mengakuisisi 5 rumah sakit dengan harga bervariasi. Kelima rumah sakit tersebut berlokasi di Kebun Jeruk (Jakarta), Surabaya, Jambi, Cinere dan Balikpapan, “Untuk yang kami bangun ada MRCCC Semanggi, Cikarang, Manado, Lippo Village, Makassar, Palembang, Bali dan TB Simatupang”, ujarnya.

Diakuinya, untuk rumah sakit yang berada di TB Simatupang (Jakarta) dan Bali belum memberi kontribusi positif terhadap perseroan melainkan masih negatif. Namun dia menganggap hal ini wajar karena kedua rumah sakit ini baru selesai dibangun.

Selain itu perseroan juga berencana membangun 2 rumah sakit lagi di Kupang dan Medan yang kemungkinan akan direalisasikan pada kuartal IV tahun ini. Pembangunan rumah sakit tersebut akan memakan waktu hingga mencapai 2 tahun.“Nilai investasi untuk 1 rumah sakit mencapai US$25 juta, namun anggaran capex kami yang kemungkinan mencapai Rp1,8 triliun tidak hanya untuk membangun rumah sakit saja melainkan ada akuisisi lahan dan pembayaran dana yang diperoleh dari Lippo Karawaci”, jelas dia.

Sementara Presiden Direktur PT Siloam Hospital, dr. Gershu Paul mengungkapkan, tahun 2012 perseroan telah menangani lebih dari 800 ribu pasien rawat jalan yang mendorong pendapatan meningkat 32% setiap tahun dalam tiga tahun terakhir.

Menurut dia, IPO ini akan lebih memperkuat organisasi dan tim perseroan dalam memberikan layanan kesehatan terbaik secara nasional. Sedangkan Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Budi Wijaya menuturkan, dirinya berharap ekspansi bisnis Siloam Hospital pasca IPO bisa memberikan kontribusi pendapatan sebesar 35%-40%.

Hingga April 2013, perseroan memperoleh pendapatan naik menjadi Rp789,5 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp534,5 miliar. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp19,4 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp27,2 miliar. Aset perseroan mencapai Rp1,58 triliun pada 2012 dari periode 2011 sebesar Rp1,11 triliun. Liabilitas perseroan naik menjadi Rp1,34 triliun pada April 2013 dari periode April 2012 senilai Rp933,4 miliar. Terkait kontribusinya terhadap LKPR, pada tahun lalu Siloam menyumbang 35% terhadap total pendapatan LPKR Rp 6,1 triliun. LPKR pun menargetkan bisa meningkatkan sumbangan pendapatan Siloam menjadi 50%. (bani)