INCO Catatkan Pendapatan US$ 505,69 Juta

Senin, 19/08/2013

NERACA

Jakarta - PT Vale Indonesia Tbk (INCO), emiten yang bergerak di bidang eksplorasi, kegiatan penambangan, pengolahan dan produksi nikel ini mencatatkan kenaikan pendapatan menjadi US$505,69 juta pada semester pertama 2013 dari periode yang sama tahun lalu senilai US$425,38 juta.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta kemarin. Diketahui kenaikan pendapatan juga diikuti kenaikan laba menjadi US$44,06 juta pada semester pertama 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$5,51 juta. Beban pokok pendapatan perseroan juga alami kenaikan menjadi US$413,10 juta pada semester pertama 2013 dari periode sebelumnya US$382,99 juta.

Laba bruto perseroan naik menjadi US$92,59 juta pada semester pertaam 2013 dari periode sama tahun sebelumnya US$42,38 juta. Adapun laba per saham (earning per share/EPS) perseroan naik menjadi US$0,004 pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya US$0,001.

Total liabilitas perseroan turun menjadi US$585,93 juta pada semester pertama 2013 dari periode 31 Desember 2012 US$611,64 juta. Ekuitas perseroan naik menjadi US$1,74 miliar pada 30 Juni 2013 dari posisi 31 Desember 2012 senilai US$1,72 miliar. Kas dan setara kas perseroan naik menjadi US$210,82 juta pada semester pertama 2013 dari posisi 31 Desember 2012 senilai US$172,23 juta.

Sebelumnya, perseroan juga menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk tahun ini sebesar US$216 juta atau sekitar Rp2,1 triliun yang sepenuhnya berasal dari kas internal perseroan.“ Dana capex ini meningkat 44% dari tahun sebelumnya dan akan dialokasi untuk substaining sebesar US$120 juta, US$50 juta untuk peningkatan produksi nikel perseroan, serta US$40 juta untuk biaya riset dan pengembangan. Sisanya akan dialokasikan untuk biaya operasional perseroan,”kata Presiden Direktur INCO Nico Kanter.

Perseroan juga telah memutuskan untuk meningkatkan kapasitas nominal tanur dari 75 MW menjadi 90 MW, setelah memastikan pasokan listrik sudah memadai dengan beroperasinya PLTA Karebbe. Menurut dia, dengan didukung kinerja operasional yang prima, penambahan kapasitas tersebut menjadi suatu tonggak baru bagi perseroan.

Berbeda dengan kinerja tahun ini, pada 2012 lalu perseroan mengalami penurunan laba yang sangat drastis mencapai 79,77% dibandingkan tahun 2011. Pada tahun 2011, perseroan diketahui memperoleh laba sebesar US$333,8 juta, namun pada 2012 hanya mampu membukukan perolehan laba sebesar US$67,5 juta.

Penurunan ini disebabkankan terjadi pelemahan pada harga komoditas nikel di pasar dunia. Selain itu, kontribusi dari meningkatnya biaya produksi sebagai akibat naiknya harga High Sulfur Fuel Oil (HSFO) juga berpengaruh terhadap kenaikan harga yang mengnyebabkan peningkatan beban pokok pendapatan di tahun 2012 sebesar 10%.

Saat ini perseroan beroperasi di Pulau Sulawesi di bawah perjanjian Kontrak Karya (KK) dengan pemerintah Indonesia. Pada awalnya, luas area konsesi awal sebesar 218,528 hektar yang dibagi di beberapa tempat di Indonesia yaitu, 118,387 hektar di Sorowako, Sulawesi Selatan, 63,506 hektar di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan 36,635 hektar di Bahodopi, Sulawesi Tengah. (nurul)