Pertamina Berharap Segera Naikkan Harga Gas

Dampak Inflasi Rendah

Senin, 19/08/2013

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) masih saja belum mendapatkan restu untuk menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram. Jika selama ini yang dikhawatirkan adalah akan berdampak pada inflasi, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan bahwa dengan kenaikan gas elpiji maka hanya akan menyumbang inflasi 0,01%. "Kenaikan harga elpiji hanya menyumbangkan inflasi 0,01% jadi tak signifikan," kata dia akhir pekan lalu.

Namun Karen menegaskan juga akan mempertimbangkan dampak kenaikan tersebut terhadap masyarakat. Sementara itu untuk kisaran harga yang akan dibanderol nantinya sudah dirumuskan dan diperhitungkan. "Kita harus melihat bukan hanya dari persero. Persero memang harus naik. Tapi melihat dampak keseluruah terhadap pasar," ujarnya.

Hingga saat ini pemerintah sendiri belum memberikan sinyal persetujuan terkait hal tersebut, namun menurut Karen, Pertamina telah sudah mempersiapkan langkah-langkah startegis untuk mengantisipasi hal tersebut. "Kita sudah ada kompensasi. Nanti berupa harus biaya produksi kurangkan karena agar tidak menganggu kapital yang Rp 5 triliun, istilah kapitaslsasi," jelasnya.

Saat ini, Pertamina menanggung kerugian akibat penjualan elpiji 12 kg yang sejalan dengan tinggi inflasi semasa lebaran ini. Dari kerugian ini, penjual elpiji tersebut tidak mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap laba Pertamina yang mencapai Rp 5 triliun di semester pertama 2013. Karen mengatakan bahwa hal ini sebagai salah satu efek domino yang ditimbulkan oleh kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu yang juga menyebabkan inflasi yang tidak terkontrol.

"Dengan kenaikan harga BBM kemarin, tetapi ini bukan semata karena naik harga BBM-nya, tapi ada efek domino dimana semua harga pangan naik, itu kan inflasinya jadi tidak terkontrol. Kalau kenaikan harga LPG saja itu menyumbangkan inflasi 0,01%, ini jadi tidak signifikan," tandasnya.

Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, rencana kenaikan harga gas elpiji 12 kg yang dicanangkan Pertamina jangan melihat satu sisi saja. Pasalnya, pemerintah sudah terlebih dahulu memberlakukan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. "Jangan dulu berpikir terlalu cepat naik, kita tahu masalahnya di Pertamina ada kerugian. Tapi, kita juga harus lihat kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan rakyat. Kan baru saja rakyat kena kenaikan BBM," kata Jero.

Menurut Jero, keinginan Pertamina menaikkan harga gas elpiji 12 kg harus disesuaikan dengan timing yang baik dan tepat. Dengan demikian, daya beli masyarakat tidak akan terpukul. "Baru saja rakyat habis kena BBM, nanti lah. Jadi jangan dulu, lihat timing yang baik. Rakyat kita juga mengerti kok, tapi lihat timing yang baik. Sudah BBM naik, masa elpiji juga naik,” katanya.

Meski demikian, dia enggan mengungkapkan kebijakan kenaikan elpiji tahun ini. Jero mengakui rencana kenaikan pasti menimbulkan efek psikologis bagi masyarakat. "Jangan bilang tahun ini, pasti ada efek psikologis. Nanti, jangan dulu," tandasnya.