Realisasi Eksplorasi Sumur Migas Hanya Capai 24% - Persoalan Lahan Jadi Penghambat

NERACA

Jakarta - Satuan Kerja Khusus Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) menargetkan 235 eksplorasi sumur minyak dan gas pada tahun ini. Namun, realisasi masih jauh dari target. Kepala Divisi Survei dan Pengeboran SKK Migas Arief Fanzuri mengatakan bahwa saat ini, eksplorasi sumur migas baru mencapai 58 sumur atau baru mencapai 24%. Arief menjelaskan lambatnya eksplorasi karena permasalahan lahan. Khususnya untuk eksplorasi sumur di darat (on shore).

\"Sebenarnya permasalahannya banyak, akan tetapi yang menjadi masalah utamanya adalah urusan lahan. Sehingga, sampai saat ini baru 58 sumur migas yang sudah dibor,\" ujar Arief di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, persoalan lahan terjadi karena keengganan warga melepas tanah mereka karena tidak mendapatkan kata sepakat dengan biaya ganti rugi. Sementara untuk sumur lepas pantai (offshore), kendalanya lebih bersifat teknis. Yakni, minimnya rig serta terlambatnya pengiriman alat pengeboran migas. Sementara untuk sumur pengembangan, SKK Migas mencatat telah terdapat sebanyak 439 sumur atau mencapai 88% dari target semester I.

Meski pengeboran belum mencapai separuhnya, pihaknya merasa yakin pengeboran akan tercapai sesuai target. Ia juga menjelaskan bahwa SKK Migas telah mencanangkan 2013 adalah tahun pengeboran. \"Kita terus mencoba memaksimalkan pengeboran, mudah-mudahan bisa (sesuai target),\" tandasnya.

Untuk ketersedian rig, Ketua Asosiasi Pengeboran Minyak dan Gas Bumi Indonesia (Apmi) Tito Kurniadi menyatakan, ketersediaan rig untuk eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia cukup. \"Saat ini ketersediaan rig aman, semua tersedia dan siap digunakan, namun semua itu kembali kepada demand,\" ungkap Tito.

Tito menjelaskan, karena tidak semua wilayah hulu migas memiliki demand yang bagus bagi para pengusaha pengeboran migas. \"Kita merasa kita punya rig tapi tidak optimal, karena SKK Migas dan KKKS punya program tapi tidak jalan sesuai rencana. Kita mau jelaskan kalau ketersediaan rig aman,\" tegas Tito.

Tito mengungkapkan, walau ketersediaan rig aman, tapi tidak semuanya siap kerja, salah satunya karena tarif harian yang rendah. \"Tarif rig yang pas� sekitar US$20-25 per tenaga kuda. Namun tarif tersebut tergantung spesifikasi rig dan lokasi pengeboran, seperti Sumatra, Jawa, Papua dan lainnya tarifnya berbeda-beda,\" ucapnya.

Menurut Tito, tarif yang baik akan membantu kinerja agar lebih baik pula, dengan tarif yang baik pula pengusaha bisa melakukan maintenent dan bisa tumbuh, sehingga ketersediaan rig semakin siap kerja. \"Tarif rig juga masuk dalam tender, karena pasti beda, jadi tidak bisa dipatok tarifnya,\" tukasnya.

Anggaran Eksplorasi

Tingkatkan Anggaran Deputi Pengendalian Keuangan SKK Migas Akhmad Syakhroza meminta agar Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk meningkatkan anggaran eksplorasi agar dapat meningkatkan penemuan cadangan minyak dan gas baru, serta diharapkan dapat meningkatkan produksi minyak dan gas bumi di masa mendatang.

“Beberapa tahun terakhir alokasi biaya operasi untuk kegiatan eksplorasi hanya mencapai 7% dari total pengeluaran kontraktor kontrak kerja sama, bahkan lebih rendah dari alokasi biaya untuk administrasi. Hal inilah yang menyebabkan pengeboran eksplorasi menjadi belum dapat masif. Untuk itu, kami mendesak kontraktor kontrak kerja sama untuk meningkatkan anggaran kegiatan eksplorasi agar terjadi peningkatan kegiatan eksplorasi,” kata Syakhroza.

Ia menegaskan bahwa cadangan minyak dan gas Indonesia harus bertambah untuk menjaga ketahanan energi dan kesinambungan industri hulu minyak dan gas bumi di Indonesia. Tanpa adanya penambahan cadangan minyak dan gas baru maka akan sulit mengejar target penerimaan negara dan produksi minyak dan gas yang telah ditetapkan.

Selain penambahan anggaran, menurut Deputi Pengendalian Keuangan SKK Migas itu, diperlukan kolaborasi atau kerjasama yang baik diantara kontraktor kontrak kerja sama dengen seluruh pemangku kepentingan sehingga semua target kegiatan eksplorasi maupun produksi dapat tercapai. “Kita mendesak agar dibuat evaluasi setiap tiga bulan tentang kendala apa yang terjadi di lapangan kemudian kita akan membantu untuk menyelesaikan hal tersebut. Jika kendala tersebut tidak dapat dituntaskan di internal SKK Migas karena lintas sektor maka kami akan melaporkan kepada Pemerintah agar dapat turun tangan untuk membantu kontraktor kontrak kerja sama dalam melaksanakan kegiatan operasi minyak dan gas bumi,” ucap Syahroza.

Menurut Syahroza, rencananya pada tahun ini akan dilakukan pengeboran sumur eksplorasi sebanyak 258 sumur, pengeboran sumur pengembangan sebanyak 1.178 sumur, dan work over sumur produksi sebanyak 1.094 sumur. Selain itu, juga akan dilakukan survei seismik 2D dengan panjang seluruhnya mencapai 18.752 km, survei seismik 3D seluas 22.298 km2, dan kegiatan non seismik sebanyak tujuh kegiatan. Kegiatan pengeboran sumur pengembangan itu ditargetkan menambah produksi sebesar 75.044 barel minyak per hari dan produksi gas sebesar 587 juta kaki kubik per hari.

Kegiatan work over diharapkan menghasilkan produksi minyak sebesar 33.595 barel per hari dan gas sebesar 333 juta kaki kubik per hari, serta well service diharapkan mampu menghasilkan produksi minyak sebesar 13.052 barel per hari dan produksi gas sebesar 18 juta kaki kubik per hari. Dari hasil kegiatan tersebut, diharapkan akan ada tambahan produksi minyak sebesar 121.691 barel minyak per hari dan gas sebesar 938 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada tahun 2013.

Pada tahun 2012, realisasi pengeboran sumur pengembangan mencapai 840 sumur yang menghasilkan produksi minyak sebesar 46.250 barel per hari dan gas sebesar 385 juta kaki kubik per hari, pekerjaan work over sebanyak 740 sumur dan pekerjaan well service sebanyak 11.323 kegiatan untuk mempertahankan produktivitas sumur dapat dihasilkan produksi minyak sebesar 43.250 barel per hari dan gas 435 juta kaki kubik per hari. Sehingga total kontribusi kegiatan pengeboran pengembangan, kegiatan work over dan well service sebesar 90.087 barel minyak per hari dan gas sebesar 820 juta kaki kubik per hari.

“Kontribusi produksi minyak dan gas dari kegiatan pengeboran sumur pengembangan, work over dan well service pada tahun lalu mencapai 10% dari produksi minyak dan gas nasional tahun 2012,” jelas Syahroza.

Dalam rangka penambahan cadangan minyak dan gas nasional, pada tahun tahun lalu juga dilakukan survei seismik 2D mencapai 13.995 km, survei seismik 3D tercapai 6.165 km2, kegiatan non seismik 46 kegiatan. Juga dilakukan pengeboran eksplorasi sebanyak 119 sumur yang merupakan pencapaian terbesar selama 10 tahun terakhir.

Dari hasil pengeboran 119 sumur tersebut, sebanyak 52 sumur berhasil menemukan cadangan minyak dan gas sebesar 541 juta barel minyak dan 5,4 triliun kaki kubik gas. Dengan demikian total recoverable resources yang ditemukakn pada tahun 2012 mencapai 1,4 miliar barel ekuivalen.

Related posts