Industri Berbasis SDM Ingin Dikembangkan

Senin, 19/08/2013

NERACA

Jakarta - Struktur kemajuan ekonomi suatu negara yang maju ditunjang oleh kekuatan industri di dalam negeri. Pasalnya dengan pondasi industri yang kuat merupakan benteng utama untuk membendung membanjirnya produk impor.

Menteri Perindustrian,Muhamad S Hidayat mengungkap kemajuan ekonomi Indonesia masa depan sangat tergantung pada kemajuan industri nasional. "Oleh karena itu, pembangunan industri tidak hanya mengandalkan pada industri yang berbasis sumber daya alam, tetapi lebih diarahkan untuk mengembangan industri yang berbasis kemampuan sumber daya manusia, termasuk peningkatan penguasaan teknologi, R & D, inovasi dan kreativitas,"jelas Hidayat saat acara penjelasan pemerintah tentang nota keuangan dan RUU APBN tahun anggaran 2014 di Jakarta, akhir pekan lalu.

Lebih jauh lagi mantan ketua kadin ini menjelaskan sejak tahun 2010, industri pengolahan non-migas mampu mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi, dan pada tahun 2011 mencapai 6,74%. Ini adalah pertama kalinya sejak tahun 2005 industri pengolahan non-migas tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi.

"Pada semester I tahun 2013, pertumbuhan industri pengolahan non-migas adalah sebesar 6,58%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2012 sebesar 5,58%, dengan cabang-cabang industri yang tumbuh tinggi antara lain industri logam dasar, besi dan baja sebesar 12,98%, diikuti industri alat angkut, mesin dan peralatannya sebesar 9,40%, industri barang dari kayu dan hasil hutan sebesar 8,45%, serta industri pupuk, kimia dan barang dari karet sebesar 8,03%,"ujar Hidayat.

Pertumbuhan Industri

Dengan pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut, diharapkan target pertumbuhan industri pengolahan non-migas tahun 2013 sebesar 7,1% (skenario optimis) atau 6,5% (skenario moderat) akan dapat tercapai.

Dalam rangka mencapai pertumbuhan industri pengolahan non-migas di atas, telah dilakukan program hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri, terhadap industri berbasis agro (CPO, kakao, karet, rotan), industri berbasis sumber daya mineral (besi, aluminium, nikel, tembaga) dan industri berbasis migas (petrokimia). Hasil-hasil yang dicapai pada tahun 2012 antara lain industri berbasis agro berupa pengolahan CPO dengan total investasi Rp 30 triliun, pengolahan kakao dengan total investasi US$ 333 juta, dan pengolahan karet dengan investasi US$ 1,1 miliar, industri berbasis mineral logam dengan total investasi US$ 17,5 miliar berupa pengolahan bijih bauksit, bijih besi, bijih nikel, dan bijih tembaga; serta industri berbasis migas (petrokimia) dengan total investasi US$ 8 miliar.

Kebijakan yang telah dilakukan adalah pemberian insentif berupa tax holiday yang pada tahun 2012 telah diberikan kepada investor pabrik butadiene dengan nilai investasi USD 150 juta dan investor pabrik oleokimia dengan nilai investasi USD 133 juta. Pada tahun 2013 akan diberikan fasilitas tax holiday kepada beberapa perusahaan yang pada saat ini sedang dalam proses finalisasi untuk ditetapkan. Insentif lain yang diberikan adalah Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) yang pada tahun 2012 mampu menyerap Rp 91,9 miliar (21,5% dari pagu BMDTP). Kebijakan ini akan dilanjutkan pada tahun 2013 dengan menyediakan pagu anggaran sebesar Rp 706,1 miliar.

Selain itu, juga telah diberikan bantuan untuk restrukturisasi mesin/peralatan pabrik tekstil dan alas kaki pada tahun 2012 sebesar Rp 144,49 miliar yang menghasilkan investasi sebesar Rp 1,74 triliun untuk 161 perusahaan, yang akan dilanjutkan pada tahun 2013 dengan pagu anggaran Rp 110,5 miliar. Fasilitas lainnya adalah pemberian bantuan peningkatan kemampuan pabrik gula pada tahun 2012 senilai Rp 200 miliar untuk 8 perusahaan yang meningkatkan kapasitas giling sebesar 11,78% dan kapasitas produksi menjadi 2,74 juta ton.

Selain pemberian insentif, dalam rangka mensukseskan program hilirisasi industri, juga diterapkan disinsentif berupa pengenaan bea keluar terhadap 65 jenis mineral, CPO, kakao, dan larangan ekspor rotan.

Sementara itu, dalam penerapan SNI guna melindungi industri dalam negeri dari masuknya produk-produk impor dengan kualitas rendah, pada tahun 2010-2012 telah disusun sebanyak 307 buah RSNI untuk 11 kelompok industri, yaitu: permesinan, alsintan, elektronika dan rumah tangga, tekstil, kulit dan alas kaki, makanan, minimunan dan tembakau, logam, karet dan plastik, dan kertas.