Penyerapan Dana Eksplorasi BUMI Belum Maksimal

Senin, 19/08/2013

NERACA

Jakarta-Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengaku telah menghabiskan dana sebesar US$ 606,853 dari dana yang dianggarkan untuk kegiatan eksplorasi Juli 2013 sebesar US$712,071. Secara keseluruhan, perseroan mengalokasikan dana untuk kegiatan eksplorasi tahun ini sebesar US$9,3 juta.

Informasi tersebut disampaikan Sekretaris Perseroan, Dileep Srivastava dalam keterangan resminya di Jakarta, akhir pekan kemarin. Disebutkan, Dana tersebut digunakan untuk kegiatan eksplorasi di Pit Inul East, Mustahil Melawan West, Kanguru Extension dan Pit B Bengalon yang dilakukan anak perusahaan, PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Dirinya menyampaikan, geophysical logging telah selesai dilakukan di hampir semua lubang bor. Selain itu juga dilakukan pemetaan lapangan untuk singkapan batubara dan struktur geologi di sekitar lokasi penambangan dan area pengeboran.

Untuk pengeboran Pit Inul East (PN 1 & PN 4), menurut dia, telah mencapai 81%, Pit B- 52%, Pit Mustahil- 68%. Sementara Pit Kanguru Extension telah mencapai 40% dan Pit Melawan West sebesar 5%. Jumlah meter total pengeboran yang telah selesai dilakukan hingga Juli mencapai 24.112,75 meter yang terdiri dari 45 lubang terbuka dan 24 lubang inti. Rencananya, pada Agustus 2013 perseroan masih akan terus melanjutkan pengeboran di Pit Inul East, Pit Kanguru Extension, Pit Mustahil, Pit Melawan West, dan Pit B.

Meski sempat tersandung masalah penambangan dengan kontraktor pertambangan PT Thiess Contractors Indonesia, manajemen perseroan mengaku tetap optimis dapat mencapai target penjualan batubara 74 juta ton tahun ini. Pasalnya, Thiess hanya salah satu dari sekian banyak operator yang bekerja di tambang milik Arutmin.

Semester Pertama

Selain itu, perseroan akan meningkatkan produksi dari anak usaha lainnya seperti tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC). Pihaknya memperkirakan penjualan yang dicapai perseroan sepanjang semester pertama 2013 mencapai 38 juta ton, atau naik 18,7% dari realisasi produksi semester pertama tahun lalu 32 juta ton. “Panduan penjualan hingga akhir tahun mencapai 74 juta ton, naik dari realisasi penjualan tahun lalu. Jika penjualan semester pertama 38 juta ton diproratakan, maka kami masih berjalan sesuai target,” jelas Dileep.

Menurut Dileep, tindakan Thiess merupakan upaya untuk menagih pembayaran kepada Arutmin atas apa yang disebut oleh Leighton, sebagai piutang proyek atau under claims. Meski sengketa keduanya belum tuntas, Thiess tetap bekerja di tambang KPC. Bumi menguasai 65% saham KPC dan 75% saham Arutmin. Thiess juga memiliki kontrak untuk mengerjakan tambang KPC.

Meski demikian, pihaknya mengaku kecewa terhadap Thiess yang telah memutuskan secara sepihak terkait kewajibannya dalam kontrak yang ditetapkan dalam mengoperasikan tambang Senakin dan Satui dari PT Arutmin Indonesia. Pihaknya mencatat telah bekerja sama dengan Thiess selama 12 tahun dan telah membayar Thiess untuk semua pembayaran yang tertulis dalam persyaratan kontrak.

Selama ini, perseroan juga telah mampu menyelesaikan semua perselisihan sebelumnya tanpa ada tindakan drastis seperti itu. Tindakan Thiess tersebut dinilai telah menyebabkan dan membahayakan perekonomian lokal. Selanjutnya, untuk memperjelas legalitas kontrak jasa pertambangan dengan PT Thiess Contractors Indonesia, perseroan telah memulai proses hukum di Mahkamah Agung Queensland pada 2 April 2013. Penjelasan tersebut dilakukan mengingat ada perubahan dalam Undang-undang pertambangan di Indonesia mulai berlaku pada 1 Oktober 2012.