Kinerja LSIP Masih Tertekan Harga Komoditas

Melemahnya harga komoditas juga menggerus penjualan PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) yang turun 13,56% menjadi Rp1,92 triliun meskipun volume penjualan CPO mengalami peningkatan sebesar 9,9%. Pada kuartal kedua tahun ini, perseroan mengalami penurunan laba hingga 71,9% menjadi Rp179,16 miliar.

Untuk menengahi koreksi yang terjadi, perseroan dinilai masih perlu meningkatkan produksi dan efisiensi ke depan. Demikian disebutkan dalam riset Etrading Securities pada akhir pekan kemarin. Selain LSIP, penurunan kinerja juga dialami PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Perseroan mencatatkan penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 25,20% pada semester pertama tahun ini atau menjadi Rp716,98 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp958,61 miliar.

Terjadinya penurunan laba tersebut seiring dengan turunnya pendapatan bersih perseroan sebesar 2,68% menjadi Rp5,49 triliun pada semester pertama 2013 dibandingkan sebelumnya sebesar Rp5,64 triliun. PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) bahkan mencatatkan penurunan laba bersih hingga 82,16% menjadi Rp26,72 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp149,88 miliar.

Perseroan mencatatkan penurunan penjualan 27,28% menjadi Rp1,01 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp1,39 triliun. Melemahnya kinerja sebagian besar emiten di sektor perkebunan dinilai masih akan berlanjut pada semester kedua tahun ini.

Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk menghindari saham-saham yang bergerak di sektor tersebut. “Ke depan, sektor perkebunan cenderung stagnan dan belum mensinyalkan apa-apa. Saat ini orang juga lebih memilih sektor yang bergerak negatif daripada netral sehingga sampai akhir tahun ini masih cenderung negatif.” kata praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo.

Bahkan, jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebanyak 72,13 poin atau -1,55% yang terjadi sepekan kemarin, sektor perkebunan tercatat mengalami koreksi terdalam dengan pelemahan sebesar 5,55%, diikuti aneka industri dan keuangan yang masing-masing melemah 5,13% dan 3%. Sementara untuk sektor yang menguat hanya terjadi pada pertambangan dan properti yang masing-masing menguat 8,17% dan 1,03%. (lia)

BERITA TERKAIT

Kinerja Buruk PNS

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca Melihat data kinerja pegawai negeri sipil (PNS) yang dipaparkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur…

NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar - INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…

IPO DIVA Oversubscribe mencapai 5,6 kali - Patok Harga Rp 2.950 Per Saham

NERACA Jakarta - PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) telah menetapkan pelaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Keadilan Akan Batasi Ruang Genderuwo Ekonomi

Istilah genderuwo mendadak viral setelah dicetuskan Presiden Jokowi untuk menyebut politikus yang kerjanya hanya menakut-nakuti masyarakat, pandai memengaruhi dan tidak…

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…