Pertumbuhan dan Defisit APBN 2014

Senin, 19/08/2013

Oleh: Prof Firmanzah PhD

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyampaikan Rancangan APBN 2014 serta Nota Keuangan di depan DPR-RI jelang perayaan Hari Kemerdekaan ke-68 Republik Indonesia. Dalam pidatonya yang kita ikuti bersama, pendapatan negara 2014 diperkirakan Rp 1.662,5 triliun, atau meningkat sebesar 10,7% dari target APBNP-2013. Postur rancangan APBN yang diusulkan pemerintah kepada DPR itu menunjukkan ruang ekspansi yang terukur dan terkendali.

Hal ini tercermin dari anggaran belanja negara direncanakan Rp 1.816,7 triliun atau meningkat 5,2% dari pagu anggaran APBNP-2013. Sehingga defisit anggaran tercatat Rp 154,2 triliun, atau 1,49% terhadap PDB. Rasio defisit fiskal terhadap PDB untuk rancangan APBN 2014 jauh lebih kecil apabila kita bandingkan dengan APBNP-2013 yang ditargetkan sebesar 2,38%. Postur seperti ini menunjukkan tingginya komitmen pemerintah untuk tetap ekspansi guna mendorong target tercapainya pertumbuhan ekonomi 2014.

Namun belajar dari pengalaman pengelolaan ekonomi di masa lalu, terutama di saat krisis ekonomi dunia seperti saat ini, maka prinsip-prinsip kehati-hatian (prudent) perlu semakin ditingkatkan. Oleh karena itu, ekspansi fiskal 2014 dilakukan dengan menurunkan target defisit hanya sebesar 1,49% terhadap PDB.

Selain itu juga, ruang ekspansi fiskal yang terlalu berlebihan di luar kemampuan negara akan meningkatkan vulnerabilitas fundamental ekonomi nasional. Kasus munculnya krisis ekonomi di sejumlah negara di Eropa dewasa ini, menjadi pembelajaran yang baik bagi kita semua dalam mengelola ekonomi nasional.

Terkait dengan hal ini, Presiden SBY di dalam pidatonya menyampaikan rancangan asumsi pertumbuhaan ekonomi 2014 di atas 6% yaitu sebesar 6,4%. Kita semua berharap dan terkonfirmasi oleh sejumlah lembaga internasional yang menunjukkan adanya perbaikan kinerja ekonomi global pada 2014. Misalnya, IMF memprediksi ekonomi dunia 2014 dapat tumbuh 3,8% lebih tinggi dari prakiraan 2013 sebesar 3,1%. Lebih tingginya target pertumbuhan ekonomi dunia diharapkan akan memperbaiki permintaan ekspor global khususnya permintaan dan harga komoditas dunia.

Sebagai negara yang memiliki porsi ekspor produk komoditas, Indonesia diproyeksikan dapat memperbaiki kinerja neraca perdagangan dan neraca pembayaran 2014. Hal ini tentunya baik untuk menopang target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% pada tahun depan.

Upaya menjaga defisit fiskal dengan ruang ekspansi juga dilakukan melalui beberap strategi. Seperti, Pemerintah akan terus meningkatkan optimalisasi serapan anggaran melalui serangkaian kebijakan seperti penyederhanaan prosedur, persiapan penganggaran yang lebih baik serta peningkatan capacity-building.

Target pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan dengan melibatkan BUMN dan swasta nasional dalam skema public-private-partnership (PPP). Selain itu juga, upaya untuk melakukan penghematan belanja pemerintah dan meningkatkan alokasi anggaran untuk program yang lebih tepat sasaran juga terus dilakukan. Hal ini ditujukan agar anggaran pemerintah memiliki dampak yang lebih langsung dan luas terhadap upaya pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja serta peningkatan kesejahteraan nasional.