BEI Jatuhkan Sanksi Garda Tujuh Buana - Manipulasi Laporan Keuangan

NERACA

Jakarta – Perusahaan tambang PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) kembali berbuat kali, kali ini perseroan dituding melakukan pemalsuan laporan keuangan karena ada indikasi laporan keuangan perseroan periode 2012 yang tidak sesuai.

Merespon hal tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) segera akan memberikan sanksi kepada perseroan setelah melakukan pengkajian lebih dalam.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen mengatakan, sebelum lebaran pihak BEI sudah memanggil Direksi GTBO terkait kontak dengan perusahaan perdagangan asal Timur Tengah, yakni Agrocom Ltd dengan nilai US$250 juta, “Kita lagi rumuskan dan analisa laporan keuangannya, nanti ada tindakan sanksi atau denda dari bursa setelah kita melihat ada pelanggaran atau tidaknya, “ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut Hoesen, tindakan BEI terhadap GTBO saat ini dengan melakukan penghentian perdagangan saham GTBO atau suspen. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan bagi para investor. \"Bentuk perlindungan dari bursa kita suspen, jangan sampai orang tidak mengerti,\" ucap dia.

Sebagai informasi, BEI sedang melakukan analisa laporan keuangan perseroan. Disebutkan, pada 14 Juni 2012, pihak GTBO mengadakan perjanjian dengan Agrocom. GTBO memberikan hak pemasaran eksklusif kepada Agrocom sebesar 10 juta metrik ton batu bara. Nilai kontrak tersebut sebesar US$250 juta dan memiliki tiga tahap.

Tahap pertama, senilai US$75 juta. Lalu, tahap kedua dan ketiga masing-masing senilai US$87,5 juta. Akan tetapi, dalam perkembangannya pihak GTBO tidak pernah diminta untuk mengirim batu bara oleh Agrocom. Padahal GTBO telah siap mengirimkan batu bara kepada pihak yang telah ditunjuk Agrocom.

Namun kepada BEI pada 31 Mei 2013, perseroan menjelaskan kontrak tersebut batal, termasuk pengakuan penjualan hak pemasaran senilai Rp711,5 miliar. Perseroan pun terjerat utang senilai pengakuan tersebut. Tercatat, saham GTBO saat ini berada di 2.200 per lembar.

Per Maret 2013, penjualan PT Garda Tujuh Buana Tbk anjlok 78,75% menjadi Rp26,37 miliar dibandingkan penjualan periode sama tahun sebelumnya yang Rp124,10 miliar. Beban pokok turun menjadi Rp40,02 miliar dari beban pokok penjualan sebelumnya Rp61,85 miliar dan rugi kotor diderita sebesar Rp13,64 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya Rp62,25 miliar.

Pendapatan dari selisih kurs diraih sebesar Rp2,73 miliar, YoY dari Rp816,24 juta, namun beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp7,75 miliar, YoY dari Rp4,93 miliar.

Rugi sebelum pajak diderita Rp18,67 miliar per Maret 2013 dari laba sebelum pajak Rp58,10 miliar tahun sebelumnya. Sedangkan rugi per saham sebesar Rp7,47 dari laba bersih per saham sebelumnya Rp23,24. (bani)

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Literasi Keuangan, Mobil Prestasi Muamalat Sambangi Sekolah

    NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Muamalat) menyadari pentingnya pembangunan karakter anak bangsa melalui pendidikan.…

BEI Dorong Pelaku Stratup di Solo Go Public

NERACA Solo- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta mendorong pelaku "startup" atau usaha rintisan memanfaatkan fasilitas "IDX Incubator" atau inkubator…

BEI Catatkan Rekor Baru Emiten Terbanyak

NERACA Jakarta – Tahun 2018 menjadi catatan sejarah bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, sepanjang tahun ini ada 50…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perdagangan Saham DIGI Disuspensi

Lantaran terjadi peningkatan harga saham yang signifikan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara atau suspensi perdagangan saham PT…

BEI Dorong Perusahaan di DIY Go Public

Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong perusahaan di daerah itu baik milik swasta maupun badan usaha…

MAYA Bagi Dividen Interim Rp 223,19 Miliar

PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA) akan membagikan dividen tengah tahun sebesar Rp35 per lembar saham. Hal itu sesuai dengan…