Jangan Kotori Kemerdekaan Ini!

REFLEKSI HUT RI KE-68

Senin, 19/08/2013

Oleh: Drs. H. Done A. Usman, M.AP.

Merdeka! Merupakansuatu tanggung jawabbesar bagi suatu bangsayang menyatakan Negara dan bangsanya merdeka, lepas dari belenggu penjajahan. Tanggung jawab tersebut adalah kelangsungan hidup bangsa dan mempertahankan kemerdekaannya yang harus dipikul bersama oleh seluruh anak bangsa sepanjang masa.

Makna peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 68 tahun, sejak 17 Agustus 1945 harus kita isi dengan perilaku yang tidak mencederai, dalam arti tidak mengotori kemerdekaan ini dengan hal-hal yang merusak citra dan cita-cita bangsa sejak diproklamasikan.

Perlu dicatat, bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI 1945 melalui deklarasi lahirnya Budi Utomo jelas merupakan perkembangan lanjut perjuangan yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kita sebelum itu, di antaranya Diponegoro, Teuku Umar, Imam Bonjol, Hasanuddin, Cut Nyak Dien, dan lain-lain yang hakikatnya merupakan peristiwa perjuangan nasional Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan guna mencapai kemerdekaan.

Kini, tahapan-tahapan perjuangan nasional telah melalui era penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, era Proklamasi 17 Agustus 1945, era Orde Lama, Orde Baru, dan era Reformasi 1998 yang berlanjut dengan 4 kali amandemen terhadap UUD 1945, dengan segala tantangan dan pengorbanan, pasang surut silih berganti.

Pada saat ini, Bangsa Indonesia menjelang memasuki usia kemerdekaan yang ke-68. Selain itu, kita juga akan menjelang hari Kebangkitan Nasional yang ke-106 tahun pada tanggal 20 Mei 2014 nanti. Keduanya merupakan hal yang sangat pentng bagi bangsa Indonesia. Kebangkitan Nasional tahun 1908 merupakan cikal bakal tumbuhnya kesadaran, kepedulian, dan komitmen kebangsaan yang kemudian mendorong terbangunnya persatuan dan kesatuan dan Ikrar Kebangsaan Tahun 1928, hingga terwujudnya Indonesia Merdeka tahun 1945.

Sampai saat ini, kita masih menghadapi banyak tantangan yang harus diatasi, baik dibidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan bidang pertahanan keamanan. Keadaan seperti ini, kita perlu melakukan refleksi, kita bertanya apakah cita-cita founding fathers kita telah terpenuhi? Apakah cita-cita Proklamasi telah terwujud? Apakah sekarang ini masih ada semangat nasionalisme dalam diri kita sebagai bangsa? Masih adakah keluhuran, kejayaan, keagungan, seperti yang dimiliki kaum intelektual muda pada masa-masa menuju Indonesia merdeka? Rasanya kita sulit untuk menjawab semua itu.

Carut Marut Bangsa

Secara jujur kita akui, bahwa setelah kita mengalami periodisasi dalam tata kehidupan kenegaraan dan pemerintahan, harkat dan martabat bangsa tidak semakin baik. Proses demokratisasi telah berjalan dengan baik, namun euphoria kebebasan dalam reformasi seringkali melahirkan sikap dan tingkah laku yang tidak santun, kurang beradab. Bentrokan antar-warga, tawuran antar-pelajar dan mahasiswa, antar-warga, kerusuhan dipicu ketidakpuasan masyarakat atas berbagai kebijakan yang telah diambil, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, konflik horizontal sebagai akses dari pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), kemiskinan yang masih mendera sebagian besar rakyat, dan lapangan kerja yang terbatas, semua itu telah melunturkan semangat nasionalisme yang didengung-dengungkan pada pendahulu kita.

Sementara itu bila kita cermati kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara dengan seksama, Nampak apa yang sedang melanda Negara-bangsa ini kurang mendukung dalam menghadapi globalisasi. Yang terjadi justru suasana yang \"carut-marut\", yang tidak mungkin dimanfaatkan sebagai basis bagi pembinaan sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan dalam globalisasi saat ini.

Kondisi semacam ini sangat mungkin memang dirancang oleh pihak tertentu agar bangsa Indonesia terpuruk sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri dalam bertanding. Yang terjadi adalah kondisi hura-hura, demonstrasi, rame-rame menentang kebijakan pemerintah dan sebagainya.

Pilkada yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali di 33 Provinsi dan 470 lebih daerah Kabupaten/Kota mengundang terjadinya demonstrasi. Sehingga tidak salah ada pihak yang mengatakan bahwa di Indonesia tiada hari tanpa demonstrasi. Bahkan di Indonesia terdapat profesi baru, yakni manajer demonstrasi.

Kondisi ini diperparah dengan karakter para penyelenggara Negara yang sangat merosot. Korupsi telah mewabah dan menyentuh segala lapisan penyelenggara Negara dan pemerintahan. Begitu parahnya korupsi ini dapat digambarkan, jaksa, polisi, hakim, yang seharusnya memberantas korupsi, malah terlibat korupsi sendiri.

Para wakil rakyat tidak memikirkan kepentingan rakyat, tetapi semata-mata untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya, sehingga tidak malu-malu bertindak yang melanggar etika dan moral sebagai pemimpin bangsa. Kepercayaan rakyat, tetapi semata untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya, sehingga tidak malu-malu bertindak yang melanggar etika dan moral sebagai pemimpin bangsa. Kepercayaan rakyat kepada para penyelenggara Negara dan pemerintahan dewasa ini sudah ada di titik nadir. Apabila tidak segera diadakan tindakan penyelamatan, bukan mustahil Negara-negara Indonesia akan tenggelam tergerus arus globalisasi dan hancur lebih dimangsa zaman.

Bencana alam tidak dilihat dengan mata batin dan dimaknai secara mendalam, tetapi diartikan sebagai akan turunnya dana bantuan yang berlimpah. Dalam membangun kembali akibat bencana alam, tidak dilakukan secara gotong royong dan kerja keras, holopis kuntul baris bangkit dari trauma, tetapi disikapi menunggu dana santunan dari Pemerintah Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), sebagai akibat kebijakan Pemerintah menaikkan harga BBM, sering tidak tepat sasaran. Yang mampu malah mengaku miskin. Kalau dulu malu dikatakan sebagai orang miskin, sekarang berlomba-lomba mengaku orang miskin, agar mendapat dana bantuan. Ironis sekali! Situasi dan kondisi Negara Bangsa ini tidak perlu disikapi secara pesimis dan apriori.

Oleh karena itu satu-satunya jalan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi globalisasi dan faktor-faktor kritis tidak lain dan tidak bukan adalah dengan membangun dan memperkuat karakter bangsa berbasis Empat Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat pilar ini harus disosialisasikan kepada masyarakat untuk menyadarkan rasa kebangsaan yang tinggi.

Penutup

Mencermati faktor-faktor kritis yang merusak citra dan cita-cita bangsa ini, mari kita bersihkan diri kita dengan \"menyamakan visi dan persepsi\" kita dalam membangun Indonesia ke depan yang lebih baik, seraya meningkatkan kesadaran bangsa Indonesia bersatu mencapai cita-cita, mewujudkan Indonesia Millenium Development Goals. Masih banyak tugas yang harus kita selesaikan, terutama berjuang melepaskan diri dari kemiskinan dan kesengsaraan karena pengangguran, memperkokoh ketahanan diri, agar terhindar dari keserakahan sampai dengan memperkokoh ketahanan nasional, agar kekuatan bangsa terjamin, menjadi bangsa yang jaya, bermartabat, dan bermoral, serta bangsa yang terhormat dan dihormati oleh bangsa-bangsa lainnya di dunia ini. analisadaily.com