Akhir Pekan, Rupiah Masih Bertengger di Rp10 Ribu

NERACA

Jakarta - Chief Economist Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, memprediksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir pekan ini masih akan ada di kisaran Rp10 ribu. “Untuk level terendahnya sekitar Rp 10.380 per dolar AS dan level tertingginya Rp10.420 per dolar AS,” kata Lana kepada Neraca, Kamis (15/8). Dia mengatakan, hal ini lebih disebabkan oleh cadangan devisa Indonesia (cadev) yang turun sebanyak US$5,42 miliar atau sekitar 5,02% menjadi US$92,67 miliar dari bulan sebelumnya yang sebesar US$98,09 miliar.

Sedangkan untuk prediksi nilai tukar untuk pekan depan, Lana mengatakan rupiah pada level terendah ada di posisi Rp10.400 per dolar AS dan level tertinggi di posisi Rp10.450 per dolar AS. “Ini bisa terjadi karena kondisi saat ini sudah cukup rawan, Indonesia harus sudah banyak memiliki devisa namun yang terjadi saat inikan malah menurun jadi rawan,” ucap Lana.

Mata uang rupiah pada Kamis (15/8) sore, kembali bergerak melemah sebesar 10 poin terhadap dolar AS menyusul cadangan devisa Indonesia yang mengalami penurunan. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar 10 poin menjadi Rp10.300 per dolar AS dibanding sebelumnya di posisi Rp10.290 per dolar AS.

Menurut Lana, kegiatan lelang \"Foreign Exchange (FX) swap\" belum cukup efektif membawa penguatan rupiah. Dalam perdagangan pekan ke-2 Agustus ini, sebagian besar mata uang Asia melemah seperti ringgit Malaysia, peso Filipina, dan dolar Taiwan. Sementara Kepala riset Monex Investindo futures, Ariston Tjendra menambahkan menurunnya laju pertumbuhan ekonomi yang diiringi dengan lonjakan inflasi menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar.

\"Kondisi tersebut diperburuk oleh berkurangnya cadangan devisa,\" katanya. Dia mengatakan bahwa adapun salah satu penyebab lain dari pelemahan nilai tukar rupiah yakni derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia.

\"Kinerja rupiah di masa depan akan semakin buruk seandainya Federal Reserve benar-benar menghentikan program stimulus moneternya,\" paparnya. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Kamis ini, tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp10.318 dibanding sebelumnya di posisi Rp10.297 per dolar AS.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, terkait perkembangan nilai tukar rupiah, dia menilai hal itu sangat terkait dangan perkembangan ekonomi dunia dan kawasan. Namun, secara umum kondisi ekonomi Indonesia tidaklah lebih buruk dari kondisi ekonomi kawasan Asia.

Dia meyakinkan publik agar tidak perlu panik, karena jika dilihat sejak 2001, 2005 dan 2008, nilai tukar rupiah pernah menyentuh Rp12 ribu per US$. \"Kalau sekarang di atas Rp10 ribu, namun kini kami lihat ada pergerakan, yakni pergerakan menuju ke equilibrium baru dan sudah terjadi satu konvergensi dan ini mencerminkan fundamental ekonomi,\" kata Agus.

Sebagai langkah untuk mengintervensi dan menguatkan nilai tukar rupiah BI telah menaikkan tingkat suku bunga acuan ke level 6,5% pada bulan Juli lalu, karena dengan meningkatnya BI rate, yield juga akan meningkat dan arus modal asing ke Indonesia akan bertambah. Dengan naikknya Bi rate maka turut menaikkan suku bunga pinjaman, suku bunga deposito dan berbagai dampak lain.

Menurut BI, terdepresiasinya nilai tukar rupiah selama bulan Juli lalu masih sesuai dengan arah fundamentalnya dan masih bisa mendukung upaya perbaikan keseimbangan kondisi eksternal secara cepat dan menopang pertumbuhan ekonomi kearah yang lebih sehat.

Secara rata-rata, rupiah melemah 1,95% (mtm) dibandingkan dengan bulan sebelumnya ke level Rp10.071 per dolar AS. Sementara itu, secara point-to-point, rupiah terdepresiasi 3,43% (mtm) dan ditutup di level Rp10.278 per dolar AS. [sylke]

Related posts