Sejalan dengan Inflasi, BI Rate Bertahan

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5% sebagai penguatan bauran kebijakan BI terhadap pengendalian inflasi. Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs saat konferensi pers di Jakarta, Kamis, menjelaskan selain pengendalian inflasi, penetapan BI Rate tersebut juga untuk pengelolaan neraca pembayaran yang lebih berkelanjutan (sustainable) dan penguatan stabilitas sistem keuangan.

\"Upaya ini dilakukan melalui optimalisasi sejumlah instrumen kebijakan moneter dan makroprudensial,\" katanya, kemarin. Peter menyebutkan langkah-langkah tersebut, yakni, pertama penguatan operasi moneter yang terus dilakukan untuk mengintensifkan pengendalian ekses likuiditas yang cenderung meningkat setelah lebaran.

Karena itu, dia mengatakan BI akan menerbitkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dan menyempurnakan ketentuan Giro Wajib Minimum Loans to Deposit (GWM-LDR) dan GWM Sekunder. \"GWM-LDR bertujuan untuk memperkuat penyaluran kredit dan penghimpunan dana yang \'prudent\' (hati-hati), sementara GWM Sekunder untuk memperkuat manajemen likuiditas perbankan,\" katanya.

Langkah kedua, dia menjelaskan, yakni tetap menstabilisasi nilai tukar rupiah secara jangka panjang sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian. \"Sekaligus untuk pengelolaan neraca pembayaran yang lebih \'sustainable\' (berkelanjutan),\" katanya.

Lebih lanjut, langkah ketiga, yakni BI akan akan melakukan pengawasan bank (supervisory actions) untuk mengendalikan pertumbuhan kredit yang dinilai masih relatif tinggi pada sejumlah bank dan sektor tertentu, termasuk yang mempunyai kandungan impor tinggi.

\"Penguatan kebijakan makroprudensial ini, termasuk penyempurnaan GWM-LDR dan GWM Sekunder, sekaligus dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan bank dalam menghadapi risiko dan memperkuat stabilitas sistem keuangan.

Keempat, dia menjelaskan, BI akan akan menyempurnakan sejumlah ketentuan untuk pengembangan pasar valas domestik lebih lanjut dan sekaligus untuk meningkatkan pasokan valas secara lebih efektif, termasuk ketentuan mengenai pemberian valas terhadap rupiah untuk bank, transaksi derivatif dan pinjaman luar negeri jangka pendek perbankan.

Peter meyakini bauran kebijakan tersebut akan memadai untuk mengarahkan inflasi 2014 yang ditargetkan sebesar 4,5% plus satu persen. Selain itu, dia mengatakan, kebijakan tersebut dapat mendukung penyesuaian ekonomi domestik untuk bergerak secara terkendali ke arah yang lebih sehat dan seimbang. \"Penguatan koordinasi dengan pemerintah terus dilakukan termasuk untuk pengendalian inflasi dan pengelolaan neraca pembayaran,\" kata Peter. [sylke]

BERITA TERKAIT

Taspen Kerjasama Sinergis Dengan Telkom - Tingkatkan Layanan Digital

NERACA Jakarta - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bersama PT Taspen (Persero) bersinergi mengembangkan dan mengimplementasikan digitalisasi pelayanan pembayaran pensiun…

Menteri Kelautan dan Perikanan - Lawan Mafia Jangan Dengan Cara Normatif

Susi Pudjiastuti  Menteri Kelautan dan Perikanan Lawan Mafia Jangan Dengan Cara Normatif Depok - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti…

Mendongkrak Literasi dan Inklusi Keuangan dengan "Membumikan" Asuransi

Mendongkrak Literasi dan Inklusi Keuangan dengan "Membumikan" Asuransi NERACA Jakarta - Hasil riset Otoritas Jasa Keuangan pada 2016 menyebut bahwa…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) telah usai melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Oktober 2017.…

Sinarmas MSIG Life Luncurkan 4 Produk Bancassurance - Gandeng Bank BJB

      NERACA   Jakarta - PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG Life) dan Bank BJB, berkolaborasi meluncurkan…

BTN Masuk Jajaran Perusahaan Terbaik Indonesia

      NERACA   Jakarta - Setelah berhasil meraih beragam penghargaan atas kinerjanya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.…