Cadev Diklaim Masih Aman

NERACA

Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhil hasan mengatakan, cadangan devisa (cadev) sebesar US$92,7 miliar masih berada di level aman. “Masih aman, karena itu masih setara 5 bulan impor. Patokan aman itu 3 bulan. Kalau di bawah 3 bulan itu sudah lampu merah,” kata Fadhil kepada Neraca, Kamis (15/8). Seperti diketahui, cadev Indonesia pada Juli turun kembali sebanyak US$5,42 miliar atau sekitar 5,02% menjadi US$92,67 miliar dari bulan sebelumnya yang sebesar US$98,09 miliar.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Peter Jacobs, mengatakan hal ini terjadi akibat banyaknya pembayaran utang luar negeri dan dividen. Selain itu, pasokan valas dari sisi ekspor yang belum masuk, menambah tekanan terhadap cadev. “Sementara untuk inflow yang masuk masih belum cukup kuat untuk mendukung kebutuhan kita, pembayaran bunga utang dan impor juga jadi alasan tergerusnya cadev,” katanya.

Peter bilang, Juni kemarin sudah mulai terjadi masuknya inflow, dia juga optimis kondisi cadev akan lebih baik kedepannya. \"Kalau kita lihat bulan Juni, net outflow US$4 miliar. Juli itu hampir imbang, hampir ke nol, baik (capital) inflow maupun outflow-nya. Tapi bulan Agustus, dua minggu pertama US$400 juta. Ini menunjukkan ada harapan ke depan akan jadi lebih baik,\" ungkapnya.

Menurut dia, bank sentral Eropa sudah mengatakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga rendah. “Diharapkan ini akan membuat (capital) inflow lebih baik, dan juga kita harap agar ini bisa berlanjut dan memberi keringanan dalam tekanan cadev dalam negeri,” ucap Peter.

Sisa cadev bulan Juli ini setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. “Cadev itu seperti ini, ketika uang banyak yang masuk, cadevnya akan meningkat, lalu misalnya keadaan sedang sulit ya kita akan gunakan cadevnya, seperti pakai tabungan lah, kita batasi atau di irit-irit,” kata Peter.

Untuk diketahui, nilai impor Indonesia pada Juni 2013 menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) adalah senilai US$15,6 miliar. Sedangkan nilai impor sebulan sebelumnya adalah US$16,7 miliar. Padahal untuk meningkatkan cadev, BI telah melakukan berbagai cara yakni dengan lelang FX Swap yang dilakukan setiap hari kamis perminggunya.

Namun langkah ini tidak berjalan efektif. Adapun defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2013 diperkirakan akan menembus US$9 triliun, atau lebih tinggi dengan perhitungan sebelumnya yakni US$8,6 miliar atau 3,6% dari PDB.

“Kita juga akan terus meningkatkan hasil ekspor sebagai salah satu yang bisa di harapkan untuk meningkatkan kesehatan ekonomi Indonesia,” imbuh Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo beberapa waktu lalu. Selain dalam bentuk ekspor, Perry juga mengatakan, akan meningkatkan transaksi modal dan finansial serta menerima dana dari investor luar negeri dalam bentuk portofolio

Sebelumnya, Gubernur BI Agus Martowardojo, menjelaskan jumlah cadev yang saat ini dibawah US$100 miliar merupakan hal yang masih bisa dipahami, mengingat pada Mei dan Juni lalu terjadi capital outflow yang cukup besar.Dia mengatakan, jika inflow sudah membaik maka cadev juga akan kembali meningkat. Menjaga kondisi fundamental ekonomi Indonesia merupakan hal yang sangat penting. [sylke]

Related posts