Kuatkan Operasi Moneter, BI Akan Terbitkan SDBI

Jumat, 16/08/2013

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan menerbitkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) tiga bulan mendatang di tahun ini sebagai penguatan operasi moneter. Direktur Departemen Komunikasi BI, Peter Jacobs mengatakan, penerbitan SDBI juga untuk mengintensifkan pengendalian ekses likuiditas yang cenderung meningkat pasca lebaran.

Namun begitu, pihaknya mengaku masih merumuskan mekanisme penerbitan SDBI tersebut apakah melalui lelang atau tidak. "Tapi, bagus juga jadi kita tahu seberapa besar minat terhadap SBDI ini," kata Peter di Jakarta, Kamis (15/8).

Dia juga mengatakan belum menentukan berapa lama tenor terkait penerbitan sertifikat yang hanya ditawarkan kepada pihak lokal tersebut. "Nanti kita pastikan seperti apa setelah tiga bulan ini," tambahnya. Selain menerbitkan SDBI, BI juga akan menerbitkan Giro Wajib Minimum-Loan to Deposit (GWM-LDR) dan GWM Sekunder.

Peter juga menjelaskan, GWM-LDR bertujuan untuk memperkuat penyaluran kredit dan penghimpunan dana yang prudent atau hati-hati, sementara GWM Sekunder untuk memperkuat manajemen likuiditas perbankan. “Batas atas GWM-LDR akan diturunkan dari 78%-100% menjadi 78%-92%,” terangnya.

Dia memaparakan bank yang memiliki LDR di atas 92% akan dikenakan penalti GWM tambahan, sementara itu bank yang memiliki rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) minimal 14% dikecualikan dari sanksi. Sementara itu, Peter juga menyebut, rasio kecukupan modal masih berada di level 18% di atas ketentuan minimum yakni delapan persen, serta rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) gross yang masih rendah, yakni 1,9% pada Juni 2013.

“Untuk kondisi likuiditas, meskipun LDR berada di level 87,2% pada bulan Juni 2013, kredit melambat dari 21% pada Mei 2013 menjadi 20,06% pada Juni 2013. Nah, untuk GWM Sekunder, BI akan menaikkan dari 2,5% menjadi 4%,” ungkap Peter.

Dia mengatakan langkah-langkah tersebut untuk pengendalian inflasi, selain mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 6,5%. BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2013 berkisar 5,8%-6,2% dan pada 2014 berkisar 6,4%-6,8%.

Selain itu, Peter menjelaskan bahwa hasil lelang FX Swap BI kemarin berhasil dimenangkan senilai US$1,996 miliar. Rinciannya tenor satu bulan dengan RRT Premi 47,49549 dengan volume US$886 juta, tenor tiga bulan RRT Premi 144,61417 dengan volume US$635 juta, serta tenor enam bulan RRT Premi 333,61053 dengan volume US$475 juta.

"Jumlah penawaran yang masuk melebihi target yang ditetapkan atau oversubscribed," katanya. Peter mengatakan, target lelang FX Swap jual dolar AS dan rupiah sebesar US$500 juta dengan tenor satu, tiga dan enam bulan. Dia menyebutkan jumlah penawaran yang masuk yakni sebesar US$2,081 juta atau jauh melebihi target yang ditetapkan atau oversubscribed. Sementara itu pada 25 Juli, RRT Premi 45,77922 dan pada 1 Agustus sebanyak 46,53061. [sylke]