Mastan Dorong Industri Lokal Berlabel SNI

NERACA

Medan - Kehadiran lembaga standarisasi non pemerintah, yakni Masyarakat Standarisasi Indonesia (Mastan) di daerah bisa mendorong produk-produk industri lokal di daerah meraih predikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Disisi lain agar terjadi sinergi dengan Badan Standarisasi Nasional (BSN). “Standardisasi diharapkan akan menciptakan keteraturan dalam berbagai kegiatan, terutama menyangkut jaminan mutu produk barang dan jasa dalam kegiatan bisnis,” kata Ketua DPN Masyarakat Standarisasi Indonesia (Mastan), Ir. Syahrudin Chaniago kepada Neraca usai melantik pengurus Mastan Sumut, melalui rilisnya di Medan, Selasa (5/7).

Menurut Syaruddin, kegiatan Mastan bisa menambah perlindungan konsumen dan pelaku bisnis. “Tekanannya menyangkut keselamatan, keamanan dan lingkungan dalam rangka menjamin perlindungan masyarakat pengguna produk,” tambahnya.

Syahrudin menyebut, Mastan lebih menekankan aspek sosialisasi dan menggugah kesadaran masyarakat terkait pentingnya masalah keselamatan, keamanan, kesehatan maupun lingkungan. “Kehadiran Mastan di setiap daerah memiliki peran membangun dan memperkuat kesadaran masyarakat menerapkan budaya standardisasi sehari-hari,” jelasnya.

Saat ini produk asal Sumatera Utara yang telah memiliki label SNI mulai meningkat. Peningkatan terasa pada produk-produk yang terkena dampak langsung regulasi PERPRES No. 54/2010 yang mewajibkan produk-produk harus ber-SNI untuk pengadaan melalui belanja pemerintah pusat/daerah dengan sumber dana dari APBN/APBD.

Dia mengakui, ada kendala pada penerpan SNI. Misalnya, benturan budaya kerja, belum tertibnya penerapan konsep manajemen. Karena itu Mastan optimis jumlah produk di Sumut yang ber-SNI akan lebih meningkat tahun ini. “Oleh karena itu Mastan akan gencar mensosialisasikan penggunaan SNI ke daerah-daerah sehingga produk industri daerah memenuhi standar nasional,” kata Syahrudin.

Berdasarkan data BSN, dari sekitar 7.000 SNI yang saat ini terdaftar, sebagian besar atau 80% standarnya dibuat sendiri oleh para ahli standardisasi Indonesia yang disesuaikan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Standardisasi tidak selalu mengenai hal yang rumit. Contoh manfaat SNI yang akrab di kehidupan sehari-hari antara lain SNI untuk mie instan, buah pisang, ikan segar, kualitas air, es krim, baju, blus anak, celana, sepatu, bola sepak, pranko, kartu pos, cat, pintu, jendela, genteng, meja, kursi, keamanan mainan, lampu pengatur lalu lintas, trotoar, ban mobil bis, truk, sepeda motor, helm, sabuk pengaman, ember plastik, semen, tabung gas, dan sebagainya. ”Standardisasi ada sehari-hari di sekeliling kita,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Kemenperin Dorong Pembentukan Koperasi di Pondok Pesantren - Wirausaha Baru

Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin aktif melaksanakan berbagai program dalam upaya menumbuhkan wirausaha industri baru. Salah satu langkah strategisnya adalah…

Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun - Dukung Industri 4.0

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…

Revolusi Industri 4.0 Untuk Bidik 10 Besar Dunia

NERACA Jakarta – Pemerintah telah menetapkan target Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia tahun 2030.…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…