Tepat Waktu Jadi Kunci Suksesnya

Sudirman, President Director PT Sabindo Perdana Trans

Sabtu, 31/08/2013

Kesuksesan perusahaan angkutan barang banyak ditentukan oleh faktor kepuasan pelanggan. Makanya, tak jarang perusahaan angkutan barang ini mengutamakan ketepatan waktu dalam pengiriman barangnya.

NERACA

Kepuasan pelanggan, inilah yang diutamakan Sudirman, pemilik PT Sabindo Perdana Trans dalam melayani pelanggannya. Demi mendukung keinginannya ini ia selalu memperbaiki pelayanan dengan selalu menambah armada angkutannya. Kini ia memiliki 50 truk pengangkut demi mengantar barang tepat waktu.

“Saya selalu kedepankan on time delivery kepada semua pelanggan, dan ini bisa dicapai dengan memiliki penyediaan armada angkutan yang baik. Sehingga, kapan barang tersebut akan diantar saya tinggal perintahkan kepada para sopir saja, karena mereka juga pastinya sudah siap,” kata Sudirman.

Usahanya ini, diawali dengan bersusah payah dahulu kala bekerja di pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara usai menamatkan pendidikan SMA-nya. Namun, dalam kurun waktu 11 tahun, Sudirman mulai mandiri, dan membuka usaha.

Usahanya tidak jauh-jauh dari dari jasa pengantaran barang. Sebab saat itu ia melihat potensi cukup besar pada usaha jasa angkutan. Dan dengan sedikit modal yang ia miliki, terbeli tiga buah mobil truk untuk merealisasikan keinginannya.

“Di perusahaan yang lama, ketika bekerja saya banyak memperhatikan kalau banyak perusahaan rela mengeluarkan biaya cukup besar untuk jasa angkutan. Kemudian tibul ide di kepala saya, kenapa tidak membuka usaha di bidang angkutan saja,” kenang pria jebolan Universitas Brawijaya, Malang ini.

Tak lama kemudian dia membuka sebuah perusahaan dengan nama Sabindo. Kata Dirman, namanya sendiri diambilnya dari singkatan yang unik, yakni Saya Bangsa Indonesia, yang mencerminkan tingginya nasionalisme serta kecintaannya terhadap Indonesia. Memang, pertama membuka perusahaan menurut dia dirinya harus jatuh bangun mengembangkan usaha.

Tetapi lambat laun usahanya berkembang dan terus berkembang, buah kesuksesan itu, lantas mengantar Sudirman menduduki Ketua Organda Tanjung Priuk di 1994 lalu. Nah, kala menjabat Ketua Organda Tanjung Priuk ini ia berhasil menghapus peraturan perpajakan tahun 1996 yang memberlakukan fiskal.

Karena menurut dia hal itu mengada-ada, dengan menggerakkan masa ia sukses menghapus pajak 10 persen yang ditentukan dirjen perpajakan. “Inilah prestasi yang sangat membanggakan kala menjabat ketua Organda Jakarta Utara (Tanjung Priuk),” kata Sudirman.

Prestasi yang ditorehkan Sudirman ini, kontan membuatnya naik ke tahap yang lebih tinggi lagi di Organda, yakni menjabat Ketua Organda DKI Jakarta pada 2009 lalu. Saat itu, dia dan organisasinya (Organda) memiliki komitmen untuk terus membantu pemerintah dalam membenahi sistem transportasi Indonesia yang carut marut.

Kata dia, sistem tarnsportasi Indonesia memang tidak dapat dibanggakan. Karena, rasanya sudah bukan rahasia umum lagi kalau 40-60% kendaraan angkutan penumpang tidak layak jalan. Dan disitu, kata dia lagi menjadi lahan korupsi yang besar. Masalahnya pada setiap kendaraan yangh beroperasi terdapat uji kelayakan, lantas bagaimana mungkin kendaraan yang tidak layak jalan bisa tetap beroperasi. “Kan ada indikasi korupsi di sana, toh kendaraan tak layak jalan tetapi di izinkan beroperasi, tentunya pengusaha angkutan ada main dengan pihak yang mengizinkannya,” jelas Sudirman.

Untuk itu, diperlukan keberanian dari pemerintah untuk menertibkan angkutan umum yang tidak layak tersebut. Dan pihak Organda sendiri, kata Sudirman telah berulangkali meminta pemerintah untuk segera menertibkan angkutan umum yang seperti itu. Caranya, dengan membatasi usia kendaraan.

“Sekarang sih sudah banyak perubahan yah, kalau saya perhatikan sih pemerintah melalui Dinas Perhubungan sudah mulai berani menertibkan mereka. Tetapi saya berharap, ini akan terus berlangsung hingga transportasi kita jadi lebih baik lagi,” jelasnya.

Gagal Jadi Tentara

Sebagai anak yang dilahirkan dari keluarga tentara, tentu membuatnya ingin juga menjadi tentara. Maklum saja, ayahnya beserta sebagian keluarga besarnya adalah dari golongan militer. Namun, Sudirman harus rela mengurungkan niatnya, karena sang ayah tak merestuinya untuk menjadi seorang tentara (ABRI).

Padahal dulu, ada yang menjaminnya untuk langsung masuk ABRI, tetapi ketika mendaftar ada satu hal yang kurang, yakni izin dari orangtua. Akhirnya, dia terpaksa kembali lagi ke rumah untuk meminta tandatangan orangtua, walaupun orangtuanya menandatangani surat tersebut tapi orangtua Dirman tak merestui tindakan anaknya itu, sang ayah mengatakan ‘saya tidak merestui kamu jadi tentara’.

Usai mendapatkan tandatangan orangtuanya, sepanjang perjalanan Dirman memikirkan kenapa orangtuanya tidak merestuai niatnya. Lalu hal itu, ia ceritakan kepada seniornya, rekannya itu mengatakan, kalau orangtua tidak merestuinya untuk jadi tentara maka sebaiknya jangan diteruskan karena taruhan jadi tentara adalah nyawa. “Karena nasihatnya maka akhirnya saya mundur,” jelas pria yang akrab disapa Pak Dirman ini.

Sudirman lantas mengatakan alasan ayahnya tidak mengizinkannya menjadi tentara, menurutnya, sang ayah tidak mau anaknya merasakan penderitaan yang sama dengan menjadi seorang tentara, maklum sang ayah dalam tugasnya selalu di tempatkan di kawasan konflik yang terus bergejolak. “Itu permasalahannya, kan saya sekeluarga lahir di tempat berbeda-beda,” kata anak ke-dua dari tujuh bersaudara ini.

Kini ia hanya berupaya fokus dengan usaha jasa angkutan miliknya, tetapi kini dia sudah memikirkan untuk pensiun. Dia ingin sang anak meneruskan usaha milikinya, seperti diakui Dirman, anaknya sejak beberapa tahun lalu mulai belajar mengenai seluk beluk usaha angkutan yang ia miliki.

Meski demikian, dia tidak mau memaksakan kehendak terhadap anaknya jika nantinya ia tidak mau mengikuti jejaknya. Alasannya, dia ingin menjadi orangtua yang menjunjung tinggi demokrasi. “Kita memang sudah siapkan penerus, kini ia juga sudah mulai belajar, tetapi lihat saja nanti kelanjutannya,” tutup dia.