Indonesia Fokus Peningkatan Ekspor CPO

Jalin Kerjasama dengan Pakistan

Jumat, 16/08/2013

NERACA

Jakarta - Kesepakatan kerjasama perdagangan atau Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dengan Pakistan akan segera terealisasi. Dalam kerjasama kali ini, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyatakan bahwa Indonesia berharap mampu mendorong ekspor minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO).

"Dalam hitungan hari atau minggu akan segera direlisasikan kesepakatan kerjasama kita dengan Pakistan, dengan adanya ini kita akan mendapatkan benefit lebih dari produk CPO yang kita ekspor kesana," ujar Bayu di Jakarta, Kamis (15/8).

Bayu mengatakan bila perjanjian kerjasama ini telah terealisasi maka peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor CPO ke negara tersebut atau ke negara lain yang melalui Pakistan akan semakin terbuka. Pada tahun 2012 lalu saja ekspor CPO ke negara tersebut mencapai US$ 714 juta dan pada tahun 2013 ini diharapkan akan mampu bertambah sekitar US$ 200 juta-US$ 300 juta.

"Nah nanti pada tahun 2014 kita bisa memproyeksikan ekspor kita ke Pakistan dan negara sekitarnya atau ekspor kita yang melalui Pakistan bisa mencapai US$1,5 miliar. Jadi mudah-mudahan minggu depan sudah bisa ditanda tangani dan bisa langsung klik," tandas dia.

Jika CPO Indonesia ini dihargai sebesar US$700-800 per ton, maka ekspor akan meningkat sebesar US$1,6 miliar sehingga ini diharapkan bisa menggenjot ekspor komoditas asal Indonesia. Sebenarnya Indonesia-Pakistan sudah melakukan penandatanganan kerjasama perdagangan PTA yang berlaku sejak Januari 2013 lalu. Namun, perjanjian tersebut urung diimplementasikan karena berbagai hal, salah satunya terhambatnya rencana ekspor jeruk Kino oleh Pakistan ke Indonesia karena adanya pembatasan pintu masuk produk hortikultura yang diberlakukan pemerintah RI. Pakistan menginginkan agar pengiriman komoditas tersebut melalui pelabuhan Tanjung Priok.

Pasar Non Tradisional

Direktur Ekspor Hasil Pertanian dan Kehutanan Kementerian perdagangan Mardjoko menyatakan, untuk menghadapi isu negatif yang menerpa minyak sawit mentah (CPO) Indonesia, selain harus melakukan penelitian ilmiah secara intensif demi menghasilkan data yang akurat, pemerintah Indonesia juga jangan bergantung pada pasar tradisional saja.

Namun perlu melakukan ekspansi ekspor ke pasar non tradisional tanpa harus melupakan pasar tradisional. "Pemerintah tengah memperluas pasar ekspor CPO non tradisional ke wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin untuk menghadapi berbagai kebijakan yang mendeskriditkan CPO Indonesia," papar Mardjoko.

Pasalnya era globalisasi saat ini telah membuka persaingan perdagangan bebas di dunia internasional yang membuat beberapa negara berkembang harus ekstra hati-hati dalam menjalankan usahanya menghadapi negara maju yang tentu memiliki banyak cara untuk menjegal bahkan menjatuhkan negara mitra dagangnya sekalipun. Alih-alih menjadi kawan berdagang, justru malah menjadi lawan demi melindungi komoditas negara tersebut dari dominasi komoditas negara lain.

Nampaknya ini yang tengah terjadi terhadap komoditas minyak sawit mentah (CPO) Indonesia yang dituding merusak lingkungan oleh berbagai negara maju maupun LSM yang disinyalir digerakkan oleh mereka. Beberapa bulan yang lalu Amerika Serikat (AS) melalui Notice of Data Avaibility Enviromental Protection Agency (NODA EPA) menuding CPO Indonesia tidak memenuhi standar energi terbarukan sebesar 20%, melainkan hanya 17%, meski terus mengalami pengunduran sebanyak tiga kali.

Tak mau ketinggalan Uni Eropa pun menerapkan EU Directive yang mengisyaratkan standar energi terbarukan yang berasal dari minyak nabati termasuk CPO. Jerman pun mengeluarkan standarisasi berkelanjutan tersebut yang bernama International Sustainabality & Carbon Certification untuk mengukur emisi karbon yang dihasilkan dari suatu komoditas yang akan dijadikan sumber energi terbarukan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Gusmardi Bustami, mengutarakan, pasar non tradisional yang akan dituju Indonesia untuk menggenjot pertumbuhan ekspor adalah Afrika. "Kita akan sasar pasar besar seperti Afrika Selatan, Tanzania, Kenya, Nigeria, Madagaskar, Mozambik," ujar Gusmardi.