BEI Targetkan Akhir Tahun Ini

Pengurangan Lot Saham

Jumat, 16/08/2013

Jakarta- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan penerapan penurunan jumlah lot saham dari 500 per lembar saham menjadi 100 per lembar saham akan direalisasikan pada akhir tahun ini atau tepatnya Desember 2013.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, pelaksanaan lot saham akan dilakukan awal Desember 2013, “Kebijakan ini baru bisa dilakukan akhir tahun karena perlu persiapan dari sisi teknis, sistem tidak hanya di BEI tetapi juga di anggota bursa (AB). Ini yang memerlukan waktu,”katanya di Jakarta, Kamis (15/8).

Menurutnya, realisasi ini molor dari target dari semester pertama tahun ini menjadi bulan Desember 2013. Diharapkan, dengan kebijakan baru ini bisa meringankan investor terutama ritel dalam mengakumulasi saham, “Dengan demikian, likuiditas lebih terjaga, transaksi lebih banyak dan Pasar Modal Indonesia lebih semarak lagi,”ungkapnya.

Kata Ito, sistem penghitungan penurunan jumlah dalam satuan lot itu juga akan dimiliki oleh lembaga terkait seperti perusahaan vendor dan juga PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Selain itu, pihaknya juga akan terus melakukan edukasi kepada investor dan juga masyarakat terkait pengurangan jumlah saham dalam satuan lot tersebut."Sosialisasi penting karena tujuan utama dari rencana itu adalah untuk meningkatkan jumlah investor ritel di BEI," katanya.

Sementara Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Samsul Hidayat mengatakan, dengan jumlah saham yang diturunkan dari 500 lembar saham menjadi 100 lembar saham dalam lot, dana yang akan ditempatkan dalam suatu saham menjadi lebih terjangkau bagi investor,”Selain itu, investor juga dapat mendiversifikasikan dananya ke saham lainnya. Dengan begitu diharapkan transaksi saham di bursa menjadi bertambah likuid,”paparnya.

Sebelumnya, Direktur PT Evergreen Capital, Rudy Utomo menilai likuiditas perdagangan saham berpotensi meningkat jika bursa mengubah jumlah saham dalam satuan lot dari 500 saham menjadi 100 saham.

Dia mencontohkan harga saham suatu emiten Rp30.000 per saham, investor harus mengeluarkan dana Rp15 juta untuk dapat mengoleksi satu lot saham salah satu emiten, “Jika jumlah saham dalam satu lot diturunkan menjadi 100 saham, dana yang dibutuhkan untuk mentransaksikan saham tersebut hanya Rp3 juta. Sehingga transaksi atas saham tersebut menjadi lebih likuid," kata Rudy.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida menyakini, pengurangan lot saham tidak pengaruhi investasi reksa dana dan justru mendorong pergerakan dana ke reksa dana makin besar, “Pengurangan lot saham tidak akan berdampak negatif ke bursa ritel dan termasuk reksa dana, “katanya.

Menurutnya, dengan semakin kecilnya modal yang dibutuhkan untuk membeli saham di bursa, maka akan semakin banyak masyarakat yang melirik investasi di pasar modal. Apalagi saat ini pertumbuhan kelas menengah di Indonesia terbilang cukup tinggi. “Dulu kan yang menikmati pasar modal hanya konglomerasi. Dengan dikecilkannya 1 lot transaksi menjadi 100 lembar, maka banyak orang dari kalangan masyarakat biasa yang kini bisa bertransaksi di bursa. Saya pikir ini justru baik untuk produk reksa dana pasar modal, yang memang disiapkan untuk pasar ritel,”ujarnya.

Lanjutnya, bisnis investasi reksa dana dipastikan tidak akan terganggu. Pasalnya, reksa dana dan saham masing-masing memiliki pangsa pasarnya sendiri dan saling mendukung satu sama lain, “Reksa dana itu kan sebenarnya bermain di bursa saham juga. Cuma bedanya, nasabahnya tidak ikut bertransaksi. Semua direncanakan oleh Perusahaan Manajer Investasinya. Nah masyarakat yang memang mau mengelola investasinya sendiri, mereka bisa masuk ke bursa. Toh modalnya semakin kecil,”tandasnya.