Pengusaha Didorong Tingkatkan Kinerja Ekspor

Antisipasi Dampak Buruk Pelemahan Rupiah

Jumat, 16/08/2013

NERACA

Jakarta - Pengusaha Rahmat Gobel menilai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebagai sesuatu yang harus diperhatikan. "Yang jelas bagi perusahaan industri itu dari waktu ke waktu itu ya harus memperkuat industrinya, " kata Rahmat di Jakarta, Kamis (15/8).

Menurut bos Panasonic itu, pelaku usaha masih mempelajari dan terus mengamati dampak yang kira-kira akan terasa akibat pelemahan rupiah. Meski tidak disikapi langsung, Rahmat menilai pentingnya antisipasi yang bisa pelaku usaha lakukan guna mencegah dampak berkelanjutan.

Apalagi, menjelang pasar bebas dunia atau ASEAN yang akan diberlakukan dalam waktu dekat. "Caranya itu harus memperkuat industri dengan memperkuat biaya produksinya. Itu yang harus dilakukan. Juga ekspor, kita tingkatkan ekspor, " katanya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian, MS Hidayat, meminta semua pelaku usaha untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam rangka mendorong pertumbuhan industri nasional di tengah kondisi perekonomian yang masih mengalami ketidakpastian, terutama menghadapi persiapan pemberlakuan ASEAN Economic Comunity (ASEAN) 2015.

"Kami terus menghimpun berbagai masukan dari masyarakat dan dunia untuk menghadapi tantangan ekonomi ke depan, " kata Hidayat.

Hidayat mengatakan, memasuki periode semester II tahun 2013, kondisi perekonomian global masih belum akan keluar dari zona krisis. Bank Dunia dan IMF memperkirakan akan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi global seiring semakin dalamnya resesi Eropa dan melambatnya ekonomi negara-negara berkembang.

Menurut IMF, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2013 diprediksi sebesar 3,1 %, Amerika Serikat (AS) sebesar 1,7 %, Zona Euro sebesar -0,6 %, serta kawasan ASEAN, Tiongkok dan India sebesar 6,9 %

Hidayat menambahkan, ekonomi negara-negara maju diprediksi masih tersandra persoalan fiskal, tingginya angka pengangguran, dan rendahnya tingkat kepercayaan pasar (bisnis dan konsumen). Kondisi perekonomian yang masih mengalami ketidakpastian tersebut diperkirakan masih akan berdampak pada menurunnya ekspor industri nasional.

Neraca Defisit

Pada periode Januari sampai Mei 2013, kata Hidayat, total neraca perdagangan nasional mengalami defisit sebesar US$ 2,52 miliar. Ekspor produk-produk industri pengolahan non migas sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sehingga menghasilkan neraca defisit sebesar US$ 8,95 miliar.

Dilihat dari kategorinya, impor bahan baku dan penolong memberikan kontribusi terbesar yaitu 76,63 % terhadap total impor nasional, diikuti barang modal sebesar 16,77 % dan barang konsumsi sebesar 6,60 %.

Meskipun mengalami neraca defisit, peningkatan impor bahan baku dan penolong diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan industri nasional. Pertumbuhan industri non migas yang cukup baik pada triwulan I tahun 2013 sebesar 6,69 % harus dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi seiring dengan meningkatkan kegiatan investasi dan produksi.

Sementara itu, laju inflasi pada bulan Juni 2013 mencapai 1,03 % sehingga menghasilkan kenaikkan harga sepanjang Januari - Juni 2013 sebesar 3,35 % dan inflasi year on year sebesar 5,9 %.

Dikatakan, kenaikkan harga BBM bersubsidi pada bulan Juni 2013 diperkirakan akan terus mendorong kenaikkan inflasi hingga tiga bulan ke depan. Hal ini tentunya akan menyebabkan terjadinya penurunan daya beli masyarakat, yang juga sedikit berdampak terhadap penurunan konsumsi produk-produk industri.

Selain berbagai kondisi ekonomi dan permasalahan tersebut, sektor industri juga masih menghadapi berbagai tantangan seperti jaminan ketersediaan bahan baku dan energi, penyediaan lahan untuk kawasan industri, serta kendala infrastruktur.

Hadapi AEC

Di samping itu, kata Hidayat, dalam waktu dekat Indonesia akan menghadapi ASEAN Ekonomic Community (AEC), yang akan mulai diberlakukan pada bulan Desember 2015. Tujuan AEC 2015 adalah untuk menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi, dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN.

Ia mengatakan, AEC 2015 merupakan momen yang penting bagi Indonesia, karena akan memberikan peluang kepada kita untuk memperluas pasar bagu produk-produk industri nasional. Namun, di lain pihak, pemberlakukan AEC 2015 juga akan menjadi tantangan mengingat produk Indonesia yang sangat besar tentunya akan menjadi tujuan pasar bagi produk-produk negara ASEAN lainnya.

Hidayat mengatakan, apabila Indonesia tidak mampu meningkatkan daya saing industri, dikhawatirkan produk-produk Indonesia akan kalah bersaing tidak hanya di ASEAN tapi juga di negeri sendiri.

Menurut Hidayat, saat ini, Indonesia masih memiliki banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga pertumbuhan agar tetap tinggi, diantaranya, pertama, potensi perbaikan ekonomi di Jepang dan beberapa negara Asia pada tahun 2013 dan 2014. Kedua, besarnya pasar dalam negeri dengan jumlah kelas menengah mencapai 134 juta orang.

Ketiga, peningkatan investasi di dalam negeri baik PMA maupun PMDN, keempat, pertumbuhan sektor-sektor yang cukup tinggi, (5) belanja pemerintah dan belanja modal BUMN yang bisa diarahkan untuk program peningkatan penggunaan produk dalam negeri.