Dinilai Kemahalan, Siloam Percaya Diri Terserap Investor

Saham Perdana Rp 11.200-Rp 14.200 Persaham

Jumat, 16/08/2013

NERACA

Jakarta – PT Siloam International Hospitals Tbk sebagai salah satu bisnis usaha kesehata Lippo Grup menawarkan saham perdana berkisar Rp 11.200-14.200 perlembar saham. Meskipun dinilai mahal, perseroan optimis saham perseroan bakal terserap di pasar karena memiliki prospek usaha yang positif dan didukung ekspansi penambahan rumah sakit baru.

Direktur PT Ciptadan Securities selaku penjamin emisi, John Herry Teja mengatakan, walau harga perdana saham terlihat cukup tinggi tapi perseroan yakin mendapatkan respon positif dari para investor, “PE tinggi tapi diimbangi dengan pertumbuhan Siloam ke depannya yang akan mengalami peningkatan yang signifikan. Harga Rp11.200 memakai PE 79 kali pada 2014 dan harga Rp14.200 dengan PE 100 kali. Ke depannya PE bisa lebih rendah,”ujarnya di Jakarta, Kamis (15/8).

Melalui penawaran saham perdana tersebut, perseroan berharap dana yang terkumpul mencapai Rp 1,8 triliun sampai Rp 2,3 triliun. Nantinya, 525% dana IPO akan digunakan perseroan untuk memperluas bisnisnya di bidang pelayanan kesehatan dengan menyiapkan belanja modal atau (capital expenditure/capex) tahun 2013 sekitar Rp1,6-1,8 triliun.

Sementara sekitar 27,5% digunakan untuk membayar utang kepada Lippo Karawaci dan sisanya 20% untuk membiayai akuisisi rumah sakit. Asat tahu saja, saat ini Siloam Hospital memiliki 14 rumah sakit yang beroperasi dan ditargetkan dalam lima tahun mendatang menjadi 40 rumah sakit.

Pada 2014, perseroan juga sudah menganggarkan capex sebesar Rp800 miliar yang akan digunakan untuk meneruskan pembangunan ke dua rumah sakit. Pada tahun 2013 ini, perseroan juga telah memasang target pendapatan sebesar Rp2,7 triliun.

Chief Financial Officer PT Siloam International Hospitals, Romeo Fernandez Liedo mengatakan, selain membangun rumah sakit Siloam, pihaknya juga telah mengakuisisi 5 rumah sakit dengan harga bervariasi. Kelima rumah sakit tersebut berlokasi di Kebun Jeruk (Jakarta), Surabaya, Jambi, Cinere dan Balikpapan, “Untuk yang kami bangun ada MRCCC Semanggi, Cikarang, Manado, Lippo Village, Makassar, Palembang, Bali dan TB Simatupang”, ujarnya.

Diakuinya, untuk rumah sakit yang berada di TB Simatupang (Jakarta) dan Bali belum memberi kontribusi positif terhadap perseroan melainkan masih negatif. Namun dia menganggap hal ini wajar karena kedua rumah sakit ini baru selesai dibangun.

Selain itu perseroan juga berencana membangun 2 rumah sakit lagi di Kupang dan Medan yang kemungkinan akan direalisasikan pada kuartal IV tahun ini. Pembangunan rumah sakit tersebut akan memakan waktu hingga mencapai 2 tahun.“Nilai investasi untuk 1 rumah sakit mencapai US$25 juta, namun anggaran capex kami yang kemungkinan mencapai Rp1,8 triliun tidak hanya untuk membangun rumah sakit saja melainkan ada akuisisi lahan dan pembayaran dana yang diperoleh dari Lippo Karawaci”, jelas dia.

Sementara Presiden Direktur PT Siloam Hospital, dr. Gershu Paul mengungkapkan, tahun 2012 perseroan telah menangani lebih dari 800 ribu pasien rawat jalan yang mendorong pendapatan meningkat 32% setiap tahun dalam tiga tahun terakhir.

Menurut dia, IPO ini akan lebih memperkuat organisasi dan tim perseroan dalam memberikan layanan kesehatan terbaik secara nasional. Sedangkan Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Budi Wijaya menuturkan, dirinya berharap ekspansi bisnis Siloam Hospital pasca IPO bisa memberikan kontribusi pendapatan sebesar 35%-40%. (nurul)