KSEI Klaim Jumlah SID Tumbuh 9,48%

Kinerja Semester Pertama

Jumat, 16/08/2013

NERACA

Jakarta –Sepanjang semester pertama tahun ini, PT Kustoduan Sentral Efek Indonesia (KSE) mengklaim terjadi pertumbuhan jumlah Single Investor Identification (SID) atau salah satu instrumen perlindungan investor pasar modal seperti Fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) dan pemisahan Rekening Dana Nasabah (RDN).

Tercatat hingga akhir Juli 2013 jumlah SID mencapai 301.021 atau tumbuh 9,48% dibandingkan priode yang sama tahun lalu 274.956. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (15/8). KSEI sebagai Self Regulatory Organization (SRO) di industri pasar modal juga mencatat peningkatan total aset sebesar 22,37% atau Rp 3.111,87 triliun per akhir Juli 2013 dibandingkan periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp 2.542,89 triliun.

Direktur Utama KSEI, Heri Sunaryadi mengatakan, ditahun ini berbagai pengembangan layanan jasa tengah dilakukan perseroan untuk mewujudkan pasar modal Indonesia yang kredibel, “Yang jelas kami ingin memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi investor pasar modal Indonesia. Jadi meski sudah diimplementasikan, program tersebut harus terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan investor dan pelaku pasar,”ujarnya.

Menurutnya, pengkinian data menjadi salah satu hal yang menjadi fokus KSEI di tahun 2013. Saat ini masih ditemukan data nasabah yang belum sesuai dengan kartu identitas maupun dokumen pendukung lainnya. "Apabila data yang diberikan benar, khususnya untuk SID, regulator dapat memperoleh karakteristik profil investor pasar modal secara akurat. Profil ini sangat bermanfaat untuk pengembangan pasar modal ke depannya,”ungkapnya.

Dia menambahkan, proses pengkinian data mendukung kewajiban Perusahaan Efek dan Bank Kustodian untuk melakukan prinsip pengenalan nasabah dengan melakukan pengkinian data seperti yang tertuang dalam Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No.V.D.10 tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal.

Untuk itu, KSEI tengah mengembangkan sistem C-BEST dengan modul Static Data Investor (SDI). Modul SDI ini sejalan dengan penerapan Straight Through Processing di pasar modal Indonesia dan ditargetkan akan selesai tahun ini.

Kartu AKSes

Kemudian Heri juga mengungkapkan, saat ini tantangan yang masih dihadapi KSEI terkait minimnya penggunaan fasilitas kartu AKSes. Penyebab rendahnya penggunaan fasilitas AKSes, lanjutnya karena kurangnya kesadaran investor. Berdasarkan data per akhir Juli 2013, dari sekitar 300.000 investor, baru sekitar 13% atau sekitar 40.000 investor yang telah menggunakan fasilitas AKSes.

Untuk itu, tahun ini KSEI melakukan kerja sama dengan Perusahaan Efek dalam pelaksanaan sosialisasi fasilitas AKSes, karena adanya ikatan kepercayaan antara Perusahaan Efek dengan nasabah sehingga diharapkan informasi yang disampaikan lebih mudah dipahami.

Terkait dengan pengembangan implementasi RDN, KSEI telah melakukan penandatanganan perjanjian Administrasi Pemisahan RDN Syariah dengan PT Bank Syariah Mandiri. Disebutkan, kerja sama ini memberikan alternatif bagi investor yang ingin dananya diadministrasikan di Bank Umum Syariah. (bani)