Merpati Disarankan Konversi Hutang Ke Saham

Tutupi Beban Utang

Kamis, 15/08/2013

NERACA

Jakarta – Langkah yang sama dengan PT Garuda Indonesia Tbk (GGIA) saat terlilit hutang, PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) disarankan untuk melakukan konversi hutangnya menjadi saham. Hal ini disampaikan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan yang mengatakan bahwa cara terbaik untuk menyelamatkan dari hutangnya sebesar Rp6,7 triliun, Merpati dapat mengkonversi hutangnya,“Tetapi semua ini terserah PPA (PT Perusahaan Pengelola Aset) karena bukan wewenang saya untuk memutuskan, tetapi ini yang terbaik. Sepenuhnya keputusan diserahkan ke PT PPA dalam merestrukturisasi, termasuk pergantian direksi, konversi utang dan lainnya,”katanya di Jakarta, Rabu (14/8).

Dia menyatakan yakin bahwa dengan mengubah utang menjadi saham Merpati dapat terbebas dari hutang-hutangnya dengan perusahaan yang memiliki piutang Merpati menjadi pemilik saham di Merpati. Keyakinan Dahlan disebabkan dengan berhasilnya Garuda dalam menyelesaikan persoalan keuangannya.

Diketahui saat ini hutang Merpati mencapai Rp6,7 triliun yang berasal dari beberapa pinjaman pada pihak BUMN dan pihak swasta. Dari pihak BUMN di antaranya, PT Pertamina, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Angkasa Pura I dan II, lalu PT Jasindo.

Sebelumnya, Direktur utama Merpati Asep Eka Nugraha mengatakan, tim manajemen memiliki program jangka pendek dalam membenahi keuangan perusahaan yaitu stabilisasi cash flow, sistem operasi dan restrukrisasi yang harus berjalan bersama. Diakuinya, kondisi keuangan Merpati saat ini rugi dan memiliki utang yang tidak sedikit, sehingga diperlukan pendekatan dengan para kreditur guna mencari cara dalam melunasi utang.

Dia menyatakan, pihaknya telah bertemu dengan Pertamina dan menemukan solusi untuk mencicil utang bahan bakar. “Diperlukan sinergi antar Direktur Utama dan Direktur Keuangan dalam menyehatkan keuangan perseroan atau restrukturisasi dengan kondisi perusahaan yang sedang buruk,”ujarnya.

Dia menambahkan, ke depan manajemen akan merevisi Rancangan Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2014 dan bulan September tahun ini harus selesai. Selain itu, Direksi juga memangkas beberapa rute penerbangan maskapainya yang dinilai tidak menguntungkan perseroan. “Tim manjemen akan mengkaji ulang rute-rute penerbangan Merpati, guna mengetahui perolehan pendapatan dari penerbangan tersebut. Rute-rute yang tidak ekonomis memang akan ada penutupan dan review,”jelasnya.

Sedangkan guna mendongkrak pendapatan, manajemen berencana akan menambah frekuensi penerbangan di rute menguntungkan. Selain itu, Merpati tidak hanya fokus ke penerbangan perintis tetapi akan merambah ke penerbangan lainnya. Beberapa cara ini diharapkan dapat memperbaiki kinerja keuangan perseroan, sehingga pihak manajemen tidak perlu melakukan pengurangan karyawan demi alasan efisiensi. Asep mengakui pihaknya belum berencana rasionalisasi karyawan dan masih emikirkan jalan positif untuk keluar dari permasalahan hutang saat ini. (nurul)