Cara Bulog Jual Daging Sapi Dinilai Tidak Tepat

NERACA

Jakarta - Badan Urusan Logistik (Bulog) mendapatkan jatah untuk melakukan importasi daging sapi beku sebesar 3.000 ton. Akan tetapi, sampai saat ini Bulog baru mendatangkan 900 ton atau hanya 30%. Tak hanya itu, cara penjualan sapi impor ileh Bulog juga dinilai tidap tepat sasaran. Alhasil harga daging sapi tak kunjung turun.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan cara penjualan daging sapi impor tidak tepat. Pasalnya, Bulog menjual daging masih lewat perantara yaitu pedagang. Seharusnya menurut Mentan, Bulog langsung menjual ke konsumen. \"Menjual melalui perantara itu memiliki banyak risiko. Harusnya Bulog langsung menjual ke konsumen bukan ke pedagang,\" ujar Suswono di Jakarta, Rabu (14/8).

Oleh karena itu, Suswono meminta kepada Bulog menjual yang terlanjur ke pedagang agar menjual murah. Kalau harga dari Bulog mahal, wajar pedagang Pasar Senen menolak. \"Kita sayangkan itu terjadi,\" tuturnya. Sebelum lebaran, daging impor Badan Urusan Logistik (Bulog) yang dikirim ke beberapa pasar tidak serta-merta diterima oleh penjual daging sapi. Pedagang daging sapi Pasar Senen salah satu yang menolak kedatangan daging sapi pesanan Bulog.

Lantaran Bulog tidak memaksimalkan peran yang sudah diberikan oleh Pemerintah, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pun menilai bahwa importasi yang dilakukan Bulog berjalan lambat. \"Sejak 1 bulan yang lalu, Bulog telah mendapatkan izin importasi daging sapi beku sebesar 3.000 ton. Akan tetapi sampai saat ini, Bulog baru bisa mendatangkan 900 ton. Untuk itu, kami berharap agar Bulog bisa mendatangkan lebih banyak lagi daging sapi agar bisa membuat harga daging menjadi normal,\" kata Gita.

Ia menyebutkan untuk mempercepat hal ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso, dan para pemangku kepentingan lain. \"Nah kita akan duduk bersama Pak Meneg BUMN dan juga Dirut Bulog, kenapa baru terealisasi 900 ton. Dimana mereka sangat bersemangat merealisasikan untuk bisa membantu stabilisasi harga dengan diberikan izin oleh kita. Nanti kita akan klarifikasi,\" katanya.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso mengatakan Bulog langsung menuju konsumen dalam memasarkan daging. Operasi Pasar (OP) telah dilangsungkan antara lain di asrama tentara Cilodong, Pondok Gede, Cempaka Putih. Bulog juga menggandeng Pemerintah Daerah (pemda) agar distribusi lancar. \"Tapi tetap harus melalui pedagang pasar untuk cepat intervensinya. Karena kalau langsung ke konsumen kan kasian pedagang pasarnya,\" ujarnya.

Sekedar informasi, Sejak tiga tahun lalu, gejolak harga daging sapi sudah mulai terasa. Penyebabnya, Kementerian Pertanian memangkas kuota impor dari 120 ribu ton pada 2010, menjadi hanya 50 ribu ton. Pada semester pertama 2011, kuota impor diangkas lagi menjadi 25 ribu ton. Alasan pemangkasan untuk mempersiapkan menuju swasembada daging pada 2014. Persoalannya, pasokan daging dari dalam negeri tak mencukupi kebutuhan nasional, utamanya di kalangan industri olahan mapun sektro hotel, restoran, dan catering (horeka).

Sejak itu, harga terus membumbung hingga melewati angka Rp 80-90 ribu per kg dari normalnya hanya Rp 65 ribu/kg. Kalangan pengusaha dan asosiasi pun membentuk Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya untuk mencegah gejolak harga di pasaran dan mengupayakan pasokan dari pelosok Jawa hingga Nusa Tenggara.

Berikut kronologi izin impor daging sapi bulog didapat. Pada 5 Juni 2013, Menteri Perdagangan menerbitkan surat Nomor Permendag No. 22/2013 tentang penugasan Bulog menjadi importer daging sapi. Pada 7 Juni, Menko Perekonomian Hatta Rajasa sesalkan lambatnya perizinan dari Kementan. 10 Juli, Dirut Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan, Realisasikan impor daging sampai di Pelabuhan Tanjung Priok. Pada 15 Juli dikapalkan, 25 Juli baru sampai tahap bongkar barang di pelabuhan Tanjung Priok.

Pada 11 Juli, Menteri Perdagangan Gita Wiryawan mengatakan perizinan lambat karena Bulog tak memiliki lemari pendingin (cool storage). 16 Juli, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan: Pemerintah tak berdaya kendalikan harga daging sapi. 17 Juli, Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan mengaku kecewa dengan para pengusaha sapi potong dan importir terdaftar yang lambat mendistribusikan daging sapi di pasar, sehingga membuat stabilisasi harga belum membuahkan hasil.

Related posts